
“Maaf Bu, kita belum muhrim..” ujar Desta, Desta langsung melepaskan pelukannya Bu Julia dengan paksa. Dengan perasaan gundah, Desta langsung pergi meninggalkan kamar mandi, namun sebelum dia pergi meninggalkan kamar mandi, Bu Julia menggenggam erat tangannya.
“Jangan Bu, saya belum siap bila kita melakukan hubungan itu….” ujar Desta polosnya, namun Desta merasakan ada yang aneh.
“Kok, tangannya Bu Julia dingin banget..” Desta pun langsung menoleh kearah yang seharusnya Bu Julia sedang berdiri, namun setelah menoleh, ternyata yang sedang menggenggam tangannya bukan Bu Julia, melainkan sesosok Nenek-Nenek tua.
“Setaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan..” teriak Desta takut, Setelah melepaskan tangannya dari genggaman Nenek-Nenek tua itu, Desta pun langsung pergi tergesa-gesa meninggalkan kamar mandi dengan raut wajah pucat, malam itu Desta benar-benar takut, sesampainya di ruang tamu, dia berpapasan dengan kedua rekannya yang sedang berlari ketakutan.
“Loe kenapa, Mon…, kayaknya ketakutan banget?”
“Loe juga kenapa, pucat banget..?”
“Ini bukan rumah Bu Julia…” papar Mocil cemas, akhirnya setelah mereka sadar kalau yang mereka kunjungi itu bukan kediamannya Bu Julia, mereka bertiga langsung bergegas pergi meninggalkan rumah misterius itu. Namun setelah mereka pergi meninggalkan rumah misterius itu, secara tiba-tiba rumah yang berdiri kokoh itu pun menghilang dengan sendirinya dan berubah menjadi rerumputan yang begitu lebat.
Malam itu mereka bertiga begitu cemas, setelah menguras waktu yang lumayan melelahkan, akhirnya mereka sampai di kosan mereka.
“Jangan-jangan yang kita lihat tadi Nenek Gayung..” ujar Mocil resah.
__ADS_1
“Kalau itu memang Nenek Gayung, kenapa dia ga bawa gayung..” ujar Desta heran, namun saat itu juga mereka kembali merasakan keanehan.
“Rumah kok sepi banget, si Monica kemana ya..?”
"Pintunya ke kunci, Des!"
“Untung gue bawa kunci cadangan..” ujar Desta, Dengan perasaan tak menentu mereka pun langsung masuk kedalam kosan mereka dengan perasaan gelisah.
“Si Monica kemana lagi ya, aneh banget..”
Keesokan paginya, embun pun masih terlihat jelas di rerumputan, saat itu Mocil baru saja selesai mandi. Desta dan Ramon pun merasa ada yang aneh saat melihat tubuh Mocil.
“Badan loe pada kenapa, Cil. Belakangnya pada memar-memar gitu…”
“Maksud loe, apa sih..?”
“Coba, loe ngaca,” ujar Ramon, Mocil langsung bercermin, setelah melihat pundak dan seluruh bagian belakangnya, Mocil pun sangat terkejut.
__ADS_1
“Kok, bisa sih. Coba gue lihat badan loe berdua..” ujar Mocil, Desta dan Ramon langsung membuka baju yang di kenakan nya, setelah mereka bercermin, mereka pun sangat kaget, karena pundak dan bagian seluruh tubuh belakangnya pun sama persis seperti Mocil.
“Kok, bisa gini ya, perasaan gue gak habis di kerokin deh..”
“Yaudah sekarang kita kerumah si Jessika aja yuk, kali dia tahu kenapa kita kayak gini..” ujar Desta, akhirnya sat itu juga setelah rapih-rapih, mereka bertiga memutuskan untuk mengunjungi kediaman Jessika.
Sesampainya di kediaman Jessika.
“Tumben loe, pagi-pagi mampir kerumah gue…?”
“Ada yang mau gue tanyain Jess..”
“Yaudah, masuk aja..” ujar Jessika, mereka bertiga langsung masuk kedalam rumah dengan perasaan cemas. Sesampainya di ruang tamu, Desta, Ramon dan Mocil kompak membuka baju yang di kenakan nya.
“Ngapain Loe pada buka baju...Loe bertiga mau perkosa gue” tegas Jessika.
"Tenang, Jes. Kita-kita gak ada niat buruk Ko" ujar Desta.
__ADS_1