NENEK TIKAR

NENEK TIKAR
BAGIAN 38


__ADS_3

Malam itu keadaan Desta belum di ketahui nasibnya, setelah dia di tarik tangan misterius itu kedalam lemari, pintu lemari itu pun langsung tertutup dengan sendirinya dan langsung bergetar hebat. Setelah Lemari itu berhenti bergetar, Desta pun langsung keluar dari dalam lemari itu dengan keadaan hanya memakai kolor nya saja.


“Sialan tuh Nenek-Nenek..” ujar Desta, Desta langsung pingsan tak sadarkan diri tepat di samping rekannya sendiri yang sudah pingsan terlebih dahulu.


Dan keesokan malamnya, saat itu Jessika sedang berkunjung di kosan rekannya karena ada yang mau di bicarakan.


“Loe bener Jess, semalem di datangin Nenek Gayung itu juga…?”


“Iya, Des. Gue juga di datangin…”


“Kenapa Nenek gayung itu masih neror kita ya, padahal kita kan udah minta maaf sama mengembalikan foto itu” ujar Mocil.


“Jalan satu-satunya kita harus ke dukun itu lagi Cil…” jelas Desta.


“Tapi kalau hasilnya kayak waktu yang lalu gimana...?”


“Kita tuntut aja dukun itu...”


“Yaudah kita berangkat sekarang aja..” ujar Jessika.


“Oh ya. atunggu dulu gue mau ngambil tas si Ramon..”


“Buat apa Cil...?”


“Buat si Ramon, kita balik dari rumah dukun itu langsung jenguk dia aja, biar gak repot..”


“Itu tas isinya apa Cil..?” tanya Jessika heran.


“Gue juga gak tahu, perasaan isinya dikit tapi rasanya berat banget” ujar Mocil heran,


Malam itu mereka pun memutuskan untuk pergi ke dukun yang waktu itu pernah membantunya, setelah melalui perjalanan yang lumayan melelahkan akhirnya mereka pun sampai di kediaman dukun itu.


“Ente lagi, ada perlu apa ente kisini..?”


“Kita-kita mau minta bantuan lagi Mbah..”


“Minta bantuan apa….?”


“Kita-kita masih di teror Nenek Gayung Mbah..”

__ADS_1


“Oh Nenek Gayung yang waktu itu…,”


“Oh ya, Mbah kok ramuan yang waktu di kasih Mbah gak ada khasiatnya sama sekali?” tanya Desta heran.


“Oh, sebelumnya Mbah minta maaf, yang Mbah kasih buat ente itu bukan ramuan tapi balsem urut..”


“Pantes, pas di pake rasanya panas....”


“Yaudah sekarang ente mau paket VIP apa ekonomi?”


“VIP aja deh Mbah, kalau ekonomi saya kapok..” uajr Mocil.


“Kalau gitu saya perlu ****** ***** punya ente………”


“Celana dalam Mbah, buat apa….?” tanya Mocil heran.


“Ente mau jalan keluar atau masih mau di ganggu Nenek Gayung itu…”


“Cil, ****** ***** loe aja deh…”


“Gue gak make celana dalam…..!”


“Ini Mbah…!”


“Kenapa kasih ke Mbah., jiji Mbah megang ****** ***** ente..”


“Terus, harus saya apakan, Mbah..?”


“Ente taruh di atas dupa kemenyan, Mbah….” tak lama setelah ****** ******** itu di taruh keatas dupa kemenyan, Mbah Dukun itu langsung komat-kamit membaca mantra.


“Gimana Mbah, udah ada jalan keluarnya…?”


“Mbah belum bisa berinteraksi dengan Nenek Gayung itu, tapi tunggu dulu, Mbah dapat bisikan dari Nenek Gayung itu…”


“Bisikan apa Mbah..?” tanya Jessika heran.


“Katanya dia sedang mencari miliknya yang telah ente ambil….”


“Miliknya Mbah, perasaan kami tak pernah mengambil miliknya Nenek Gayung deh…”

__ADS_1


“Terus, apa lagi Mbah…?”


“Gak ada lagi, Nenek Gayung itu cuma sekilas membisikan kata seperti itu. Oh ya, ingat. Kalau ente semua udah mengembalikan barang yang di cari Nenek Gayung itu, jangan pernah menoleh kearahnya, karena jika kalian menoleh kearahnya kalian akan tewas setelah tujuh hari berikutnya” ujar Mbah dukun meyakinkan mereka.


Malam itu mereka bertiga begitu resah, karena mereka yakin tak pernah mengambil milik dari Nenek Gayung itu.


“Loe benar, Cil gak ngambil milik Nenek Gayung itu..?”


“Ga, Jess. Disana apa yang mau gue ambil, barang-barangnya gak berguna semua..”


“Kalau loe gimana, Des..?”


“Apa lagi gue, semua barang milik Nenek Gayung itu gak modern, gak ada gunanya gue ambil juga..”


“Kalau gitu berarti si Ramon….”


“Berarti kita harus menemui dia secepatnya, mungkin dia tahu apa yang sedang di cari nenek Gayung itu…” akhirnya dengan rasa penuh kecemasan mereka pun langsung pergi meninggalkan kediaman dukun itu.


“Ente semua mau kemana, ente belum bayar administrasi…”


“Oh ya, saya lupa. Ini Mbah uangnya..”


“Jangan ke Mbah, Mbah lagi gak pegang dompet, kalian bayar ke kasir Mbah aja..” ujar Mbah dukun, saat itu mereka bertiga begitu heran karena jaman sekarang bukan minimarket saja yang ada kasirnya, tapi dukun juga sekarang sudah punya kasir pribadi.


Malam pun semakin larut, dengan perasaan cemas akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit di mana rekannya sedang di rawat, sesampainya di rumah sakit itu, mereka pun langsung melunasi biaya administrasi dan langsung bergegas pergi menuju ruangan rekannya yang sedang dirawat.


“Loe gak kenapa-napa l, Mon….?”


“Kebetulan loe datang, gue udah gak betah di rawat disini, gue di datangin Nenek Gayung itu terus..” ujar Ramon.


“Kalau di datangin kenapa loe ga pergi aja…?”


“Loe tega banget, ninggalin gue kaga nyisain duit sama sekali, setiap gue mau pergi, satpam rumah sakit ini gak pernah ngijinin gue pergi, katanya administrasi belum lunas..”


“Oh sekarang loe tenang aja, semua udah gue selesain tadi. Oh ya, Mon. Gue mau nanya, sewaktu kita ke rumah bekas Nenek Gayung itu, loe gak ngambil sesuatu..”


“Gak ah Jess, emang kenapa…?”


“Gue tadi habis dari rumah dukun, kata dukun itu Nenek Gayung itu gak akan pernah berhenti untuk meneror kita-kita sebelum barang miliknya di kembalikan…”

__ADS_1


__ADS_2