
Malam semakin larut, setelah memakan waktu perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di kosan mereka dengan perasaan lega, sesampainya di dalam kamar, Desta langsung mengambil ramuan yang dia dapatkan dari dukun itu.
“Coba, Des. Ramuannya langsung kita eksekusi..” ujar Ramon,
“Kok, baunya kayak balsem Geliga ya….” ujar Mocil.
“Gak apa-apa lah, mau bau balsem Geliga, bau balesem geligi, yang penting kita bisa terbebas dari Nenek Gayung itu..”
Mereka bertiga langsung pergi ke dalam kamar mandi secara bergantian untuk mengoleskan ramuan itu ke bagian aset berharga nya.
Tanpa menunggu lama, saat itu juga efek sampingnya pun langsung mulai terasa, mereka merasakan panas yang luar biasa di bagian asetnya
“Anjrit, panas banget..” ujar Desta..
"Argggghhhhhhhhh panas" teriak Ramon dan Mocil menahan kesakitan. Malam itu mereka seperti cacing kepanasan, meskipun aset mereka sudah di siram dengan air dingin dari dalam kulkas, mereka masih tetap kepanasan, malam itu mereka begitu tersiksa.
“Sialan tuh dukun...!!”
Keesokan harinya, mereka pun bangun dalam keadaan yang mengkhawatirkan, karena saat itu aset mereka tak bisa di gerakan, saat itu mereka bertiga benar-benar panik.
__ADS_1
“Anjir, gara-gara dukun palsu itu, kita jadi kayak gini, bukannya menghindar dari masalah, kita malah dapat masalah baru..”
“Tapi, tunggu dulu deh, dukun itu ada benarnya juga, sekarang kan hari ketujuh, seharusnya kita udah mati, tapi kita masih hidup..”
“Loe bener, Cil. Gak sia-sia kita ke dukun itu…” ujar Desta.
Setelah rapih-rapih, mereka bertiga langsung pergi menuju kampus sambil menahan rasa panas di bagian aset mereka. Namun, sesampainya mereka di kampus, Jessika merasakan ada yang aneh dari mereka bertiga.
“Loe kenapa, kok jalannya gitu…?”
“Semalem, kita-kita habis kedukun, Jess. Kita di kasih ramuan, jadinya kayak gini deh...” ujar Mocil.
“Oh ya, Jess. Kayaknya gue bertiga beruntung deh, setelah pake ramuan dari dukun itu, kita-kita masih hidup, padahal ini udah hari ke tujuh.”
“Loe bukannya bersyukur, tapi malah mau mati Mon” ujar Jessika.
“Tapi ada yang aneh Jess...”
“Aneh kenapa, Des...?”
__ADS_1
“Gara-gara pakai ramuan itu, anu gue gak bisa di gerakin.....”
“Ih, jorok banget loe, yaudah gue mau keperpustakaan dulu....” ujar Jessika, saat itu juga Jessika pun langsung pergi meninggalkan mereka bertiga, namun setelah Jessika pergi, Bu Julia lewat di hadapan mereka.
“Siang Bu..?”
“Siang, kenapa kalian belum masuk kelas..?”
“Kami sedang nunggu Ibu, ada yang mau kami bicarakan…”
"Kalian mau bicara apa?"
“Oh ya, Bu. Bukannya itu Pak Broto…?”
“Maaf ya. Ibu gak akan terjebak untuk kedua kalinya, yaudah cepat kalian masuk kelas, sekarang waktunya Ibu yang ngajar di kelas kalian..” jelas Bu Julia, akhirnya saat itu juga mereka bertiga langsung bergegas pergi menuju kelasnya dengan langkah kaki yang tertatih-tatih.
“Oh ya, Bu. Saya tahu kenapa Ibu pergi ke dukun itu…”
“Oh yang semalem, seperti yang Ibu bilang..”
__ADS_1
“Ibu jangan bohong ah, bukannya ibu memperbesar itu tuh..” ujar Ramon sambil menatap tajam aset Bu Julia.
“Ini rahasia pribadi…” ucap Bu Julia tersipu malu sambil menutup dadanya dengan sebuah buku.