
Sesampainya di suatu jalan, Pak tua berkumis itu meminta untuk berhenti dan langsung keluar dari dalam mobil dengan sikap dinginnya, mereka berempat sama sekali tak memiliki firasat sedikit pun tentang osok Pak tua berkumis itu.
“Mungkin saya cuma bisa mengantarkan kalian sampai di sini, di depan sana ada persimpangan, kalian tinggal belok kiri”
“Makasih ya Pak atas informasinya. Oh ya, Tapi Bapak gak kenapa-napa kami tinggal disini” ujar Jessika.
"Gak apa-apa neng..!" ujar Pak Rt.
ketika hampir hendak sampai di persimpangan, keanehan pun terjadi, ketika Mocil menoleh kearah belakang, ternyata ketua Rt kampung yang baru saja mengantar mereka sudah menghilang entah kemana dengan sendirinya.
“Orang yang mengantar kita tadi, kemana Jess..” ujar Mocil cemas.
“Gue juga gak tahu Cil, jangan-jangan dia punya ilmu ghaib..” mereka mulai di landa kegelisahan, tak lama setelah melalui jalan bebatuan yang begitu mengganggu perjalanan mereka, akhirnya mereka sampai di rumah bekas Nenek Gayung itu, namun sesampainya mereka di bekas rumah Nenek Gayung itu, mereka merasa resah, karena saat itu mereka melihat bekas rumah Nenek Gayung itu terlihat sangat tak terawat, dengan sekejap buluk kuduk mereka pun langsung berdiri.
“Perasaan gue, jadi gak enak banget..” ujar Desta.
__ADS_1
“Sama Des gue juga, coba aja gue gak ikut ya…” papar Ramon.
“Ternyata mitos itu memang bener-bener ada Cil..”
“Gue juga baru percaya Jess, gue kira itu cuma mitos belaka..” ujar Mocil serasa tak percaya, dengan perasaan ragu mereka berempat memberanikan diri untuk memasuki rumah bekas Nenek Gayung itu, namun Sesampainya di dalam rumah bekas Nenek Gayung itu, tiba-tiba aroma bau bunga melati tercium dari segala arah sudut rumah.
“Wangi banget rumahnya..” ujar Desta.
“Mungkin, tadi ada yang ke rumah ini kali Des..” namun di saat mereka sedang melihat-lihat rumah bekas Nenek Gayung itu, Mocil tak sengaja menemukan sebuah tikar tua di bawah ranjang tidur yang masih berbentuk anyaman bambu.
“Hush, sembarangan aja loe kalau ngomong Cil.., yaudah loe taruh aja ketempat asalnya” ujar Jessika, namun lagi-lagi Mocil menemukan sebuah gayung tua di bawah bangku tua.
“Gue nemuin sesuatu lagi nih..”
“Apa lagi Cil, yang loe temuin..”
__ADS_1
“Nih gayung tua, gayung tua ini juga pasti milik Nenek Gayung itu…” ujar Mocil, melihat rekannya menemukan sebuah gayung, Jessika langsung mengambil smartphone miliknya.
“Loe mau ngapain Jess…?"
“Oh ya Cil, tolong ambil tikar tua yang loe temuin tadi dong…”
“Buat apaan Jess..?”
“Tikar sama gayung itu mau gue foto..”
“Loe gak inget pesan dari Pak Rt itu Jess…”
“Gak apa-apa kali, gue kan cuma mau foto tikar sama gayung itu aja, gak semuanya kok yang mau gue foto.”
“Nekat banget loe Jess, nanti kalau di datengin sama Nenek Gayung beneran, gue gak ikut-ikutan ya..” ujar Desta. Dengan perasaan cemas Mocil langsung mengambil tikar tua itu dan langsung menaruhnya di samping gayung tua yang telah dia letakan di lantai rumah, tanpa ada firasat sedikit di benak hatinya, Jessika mulai memfoto tikar dan gayung tua itu dari berbagai macam sudut, setelah memfoto barang-barang Nenek Gayung itu, Jessika melangkahkan kakinya menuju arah samping rumah bekas Nenek Gayung itu.
__ADS_1