NENEK TIKAR

NENEK TIKAR
BAGIAN 18


__ADS_3

Malam itu Jessika sedang duduk santai di ruang tamu sambil memainkan laptop kesayangannya, saat itu dia sama sekali tak memiliki firasat sedikit pun, namun di saat dia sedang mengetik sesuatu dengan seriusnya, tiba-tiba dari arah luar terdengar suara ketukan pintu. Jessika langsung beranjak menghampiri pintu rumahnya, namun setelah dia membuka pintu rumahnya, perasaannya pun mulai di landa kecemasan, karena saat itu tak ada seorang pun yang dia lihat luar rumah. Jessika sangat kebingungan, lagi-lagi keanehan terjadi, secara tia-tiba angin kencang menghampiri nya, karena takut akhirnya Jessika pun langsung bergegas pergi kedalam rumah dengan perasaan cemas.


Sesampainya di ruang tamu Jessika semakin kebingungan, karena laptop miliknya yang dia tinggal di atas meja kini sudah hilang entah kemana.


“Kemana sih, perasaan tadi ada di atas meja deh..” ujar Jessika heran. Jessika terus mencari laptop miliknya itu, namun di saat dia mau pergi menuju kamarnya, lagi-lagi keanehan terjadi, karena saat itu dia mendengar suara aneh dari dalam kamarnya, dengan perlahan-lahan dia membuka pintu kamarnya dengan celah yang lumayan kecil, setelah dia melihat kearah meja belajarnya, dia pun sangat kaget, karena saat itu di melihat sesosok Nenek-Nenek tua sedang duduk santai di kursi belajarnya sambil memainkan laptop miliknya.


“Nenek Gayung bukan ya..?” ujar Jessika cemas, saat itu juga Jessika pun langsung menutup pintu kamarnya. Namun, karena penasaran dia mencoba untuk mengintipnya kembali. Dengan perlahan-lahan Jessika membuka pintu kamarnya. Tapi saat itu juga badan Jessika menggigil hebat. karena, sosok Nenek-Nenek tua itu sudah berada tepat di hadapannya, melihat wajah sosok Nenek-Nenek tua yang menyeramkan itu, Jessika pun langsung pingsan tak sadarkan diri tepat di depan pintu kamarnya.


Disisi lain, malam itu Desta, Ramon dan Mocil sedang berbincang-bincang dengan seriusnya di dalam kamar mereka, saat itu mereka masih memikirkan tentang sosok Nenek Gayung itu.


“Tinggal berapa hari lagi, Cil..?” tanya Desta cemas.

__ADS_1


“Tinggal 2 hari lagi..” ujar Mocil sambil mencoret kalender miliknya.


“Loe lagi ngapain Mon…?”


“Gue lagi nulis surat wasiat gue sebelum mati.., gue mau makam gue di samping Istana Presiden”


“Lagi ngelantur loe, Mon..”


“Gak tau, Deh. Mungkin kita telah melakukan kesalahan kali..”


“Maksudnya, Cil..?”

__ADS_1


“Loe inget gak sewaktu kita mampir kerumah Pak Rt saat kita mau ke bekas rumah Nenek Gayung…, Pak Rt itu kan bilang, jangan pernah foto-foto, tapi si Jessika tetep ngeyel, jangan-jangan karena itu kita di ganggu arwahnya Nenek Gayung”


“Mungkin Cil, si Jessika kan anaknya gitu, gak bisa di bilangin…”


“Kita ke dukun aja, yu..”


“Ke dukun, mau ngapain Mon…?’


“Kita minta bantuannya aja, atau minta jampe-jampe, agar Nenek Gayung itu gak neror kita lagi.”


“Gue setuju ide loe, Mon..” papar Mocil, akhirnya tanpa basa-basi malam itu mereka bertiga memutuskan pergi kerumah dukun untuk meminta bantuan agar mereka bisa di jauhkan dari sosok Nenek Gayung, namun di saat mereka mau melangkah pergi keluar meninggalkan kosannya. Monica si wanita misterius sudah berada tepat di depan pintu luar menanti kedatangan mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2