NENEK TIKAR

NENEK TIKAR
BAGIAN 26


__ADS_3

“Kok, perasaan gue jadi ga enak ya…” ujar Mocil.


“Perasaan gue juga sama..” papar Ramon.


“Gue juga sama..” akhirnya karena penasaran mereka menoleh kearah belakang dengan perasaan gundah.


“Monica…?"


“Boleh, gak saya nginap lagi disini…?” tanya Monica tersenyum. Desta, Ramon dan Mocil langsung membalikan bandan untuk berunding.


“Gimana, nih. Di kasih gak…”


“Gue gak setuju ah, kalau itu Nenek Gayung gimana….” ujar Mocil.


“Loe bener juga Cil, gue baru inget, kata si Jessika Nenek Gayung bisa berubah menjadi sesosok wanita untuk mengelabui mangsanya…” tegas Desta. Setelah perundingan yang matang, Desta, Ramon dan Mocil pun langsung membalikan badan mereka kembali. Namun yang berada di hadapannya bukan Monica, melainkan sesosok Nenek-Nenek tua sambil membawa tikar.


“Gimana Cu, Nenek boleh menginap disini….”


“Nenek Tikaaaaaaaaaaaaaaaar ” teriak mereka bertiga, akhirnya karena takut saat itu juga mereka pun langsung bergegas pergi menuju kamar mereka dengan tergesa-gesa dan langsung menutup pintu kamarnya serapat mungkin.


Malam itu mereka bertiga begitu takut, karena mereka selalu di ganggu oleh sesosok Nenek-Nenek tua yang selalu membawa tikar, tiba-tiba dari arah luar pun terdengar suara ketukan pintu yang lumayan keras.


“Jangan di bukain deh, itu pasti Nenek Gayung..” ujar Mocil.


"Desta, Ramon, Mocil" teriak seseorang.


“Tapi, tunggu dulu deh, itu kayak suara si Jessika deh..” akhirnya karena penasaran mereka bertiga pun memberanikan diri menuju arah pintu luar, setelah mereka membuka pintu, perasaan mereka pun lega, karena yang berada di hadapannya itu ternyata rekannya sendiri.


“Jessika..?”


“Des, gue boleh nginap gak, gue tadi di datangin sama Nenek Gayung, gue takut..” ujar Jessika cemas.


“Serius loe, Jess. Kita-kita juga baru aja di datangin sama Nenek Gayung itu..” papar Ramon.

__ADS_1


“Yaudah Jess loe masuk aja, sekarang udah terlalu malem..” akhirnya tanpa ada rasa curiga mereka bertiga pun mengijinkan rekannya itu untuk menginap.


“Loe tidur di kamar ini aja, Jess….” ujar Desta.


“Tapi kenapa disini, kenapa gak tidur sama kalian aja, gue kan takut tidur sendirian..”


“Loe lagi ngelantur, Jess..?” tanya Mocil heran.


“Yaudah nanti salah satu diantara gue bertiga nemenin loe tidur di kamar ini..”


“Bener ya,..” ujar Jessika.


“Loe tunggu aja dulu disini, kira-kira 5 sampai 10 menit kita-kita balik lagi..” malam itu Desta, Ramon dan Mocil begitu resah.


“Loe mau ga, Mon. Nemenin si Jessika..?”


“Gak ah, gue gak mau, nanti ujung-ujungnya kayak tadi..”


“Loe mau ga, Cil..?”


“Yaudah kita hompimpa aja, biar adil..” ujar Desta, mereka pun langsung hompimpa untuk menentukan siapa yang akan menemani Jessika tidur, tak lama setelah hompimpa.


“Kenapa gue terus sih yang menang..” ujar Desta.


“Yaudah sana, loe temenin si Jessika, gue yakin itu bukan si Jessika, tapi Nenek Gayung..” ujar Mocil.


“Oke, gue buktiin kalau si Jessika itu bukan Nenek Gayung..” akhirnya saat itu juga Desta pun memberanikan diri untuk menemani Jessika tidur, sesampainya di dalam kamar, Desta merasa ada yang aneh, karena kamar yang seharusnya ada Jessika kini menjadi begitu sepi dan sunyi.


“Jessika…?” tanya Desta resah, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menggenggam pundaknya, saat itu Desta benar-benar kaget.


“Jessika, habis dari mana..?”


“Gue habis dari kamar mandi.., perut gue mules banget..”

__ADS_1


“Yaudah kita tidur aja udah malem.., gue tidur dilantai loe tidur di ranjang Jess..” ujar Desta.


“Kenapa di lantai, di samping gue aja, pemali tidur dilantai..”


“Tapi, loe gak takut kalau loe gue apa-apain..?”


“Kenapa takut..”


Malam itu Ramon dan Mocil tak bisa tidur karena masih memikirkan sosok Jessika yang sedang tertidur bersama rekannya itu.


“Gue masih penasaran deh, sebenernya itu si Jessika apa Nenek Gayung ya..”


“Hati gue bilang itu kayaknya Nenek Gayung deh..” ujar Mocil.


“Tapi apa mungkin itu Nenek Gayung..”


“Coba aja Mon loe telepon si Jessika, kalau emang di angkat berarti teori kita bener..” akhirnya karena penasaran Ramon pun langsung mengambil handphone miliknya yang terletak tak jauh darinya.


“Gimana Mon di angkat ga..?”


“Kaga di angkat-angkat, Cil…”


“Yaudah loe telepon aja terus..” tak lama menunggu akhirnya dari telepon itu pun ada jawaban.


“Malem Jess, kalau boleh tahu loe lagi dimana..?”


“Gue lagi di rumah, tumben loe malem-malem nelepon gue, ada perlu apa..?”


“Gak ada apa-apa ko,..” Ramon langsung mematikan teleponnya itu dengan perasaan cemas.


“Di angkat gak….?” tanya Mocil resah.


“Di angkat Cil..”

__ADS_1


“Berarti yang sama si Desta bener si Nenek Gayung…” ujar Mocil, karena penasaran mereka berdua langsung pergi menuju kamar untuk memastikan apa benar itu Jessika atau sosok Nenek Gayung.


__ADS_2