NENEK TIKAR

NENEK TIKAR
BAGIAN 3


__ADS_3

Saat itu keringat Desta mulai mengucur di setiap pori-pori lehernya, dengan pikiran yang masih di kuasai tegangan elektro, Desta pun langsung pergi tergesa-gesa menuju kantin, namun disisi lain.


“Put, loe tahu gak, kenapa laut itu luas..?” tanya Ramon merayunya.


“Udah takdirnya seperti itu Mon..”


“Masih kurang tepat jawabannya..”


“Terus, apa dong…?”


“Karena laut itu menandakan isi hati gue yang begitu luas buat hati loe Put..?”


“Dasar gombal..,” ujar Puteri.


“Oh, ya. Satu lagi, loe tahu gak apa perbedaannya..” namun baru saja Ramon mau mengucapkan kata gombal itu, Desta datang menghampiri mereka dan langsung memotong pembicaraan.


“Mon, si Jessika kemana..?”


“Ah ganggu aja, dia udah kekelas duluan Des..”


“Oh, ya Mon, gue kekelas duluan ya, udah mau mulainih pelajaran berikutnya..” papar Puteri.


“Kapan-kapan kita jalan yu Put…” pinta Ramon, tanpa sepatah kata dari mulutnya, Putri pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua dengan senyuman manisnya.


“Loe sih datang, coba loe gak datang, gue kan mau nembak si Puteri…”

__ADS_1


“Sory, sory, oh ya, ntar balik dari kampus kerumah si Jessika yuk..”


“Mau ngapain..?”


“Gue mau lihat koleksi cerpennya si Jessika,.”


“Loe udah bilang belum sama si Jessika Nya…?”


“Udahlah, oh ya, si Mocil kemana Mon…?”


“Dia lagi kekamar mandi, katanya kebelet…”


Jam demi Jam pun telah berlalu dan akhirnya waktu yang di tunggu pun tiba juga, setelah pulang dari kampus Desta, Ramon dan Mocil berniat untuk berkunjung ke kediamannya Jessika.


“Boleh, tapi bener nih kalian mau mampir kerumah gue…,”


“Tenang aja Jess, kita-kita gak kan ngapa-ngapain loe ko..” ujar Ramon.


“Bukan masalah itu nya, kamar gue terlalu angker buat kalian bertiga..”


“Angker, wajah si Mocil juga udah angker Jess, jadi kenapa harus takut…”


“Sialan loe..!” papar Mocil.


Menit demi menit pun berlalu, setelah melalui perjalanan yang lumayan melelahkan akhirnya mereka sampai di kediamannya Jessika, namun sesampainya di kamarnya Jessika, mereka bertiga merasa heran, karena kamarnya Jessika tak seperti kamar perempuan biasanya, di kamarnya terdapat koleksi-koleksi mistis, seperti poster kuntilanak, Pocong dan Jelangkung, dan jendela kamarnya pun selalu tertutup, alhasil kamar yang terlihat angker memang terlihat jelas dari sudut mana pun.

__ADS_1


“Ini kamar loe Jess, serem banget..”


“Kenapa Mon, loe takut, kan tadi gue udah bilang, kamar gue terlalu angker buat loe bertiga” ujar Jessika sambil membuka gorden jendela kamarnya, setelah gorden kamar itu dia buka, sinar matahari pun masuk kedalam kamarnya dan dengan seketika itu juga suasana horor pun menghilang begitu saja.


“Tapi, gak gini juga” ujar Mocil.


“Ini bukan kamar perempuan. Tapi, kamar Kuntilanak..”


“Sembarangan loe Mon kalau ngomong…”


“Ini cerpen-cerpen loe selama setahun ini Jess..?” tanya Desta. Melihat naskah-naskah yang berantakan di atas meja belajar.


“Iya Des, lumayan lah buat nambahin koleksi buku gue..” Ramon yang sedang melihat-lihat koleksi buku Jessika, merasa ada yang aneh.


“Jess, kok buku-buku loe tentang horor semua sih..?”


“Loe baru tahu Mon, gue kan emang terobsesi banget sama kisah-kisah horor..”


“Oh ya, Jess. Ini judul buku loe unik banget, misteri hidung berdarah..”


“Oh, itu cerpen gue yang ke 40 Des, ceritanya tentang kisah-kisah horor aja yang bersangkutan sama hidung..”


“Ini karya loe juga, kolor ijo vs genderuwo.,?”


“Iya, Cil. Itu buku gue yang ke 36..”

__ADS_1


__ADS_2