
Keesokan paginya, Desta dan Ramon begitu heran saat melihat rekannya sedang tertidur di teras rumah dalam keadaan bugil. Mocil pun tersadar dari tidurnya, namun setelah dia membuka mata.
“Loe ngapain tidur di luar, Cil..?”
“Loe habis bikin film wik-wik, Cil” ujar Ramon.
“Kok, gue bisa di luar sih..?”
“Malah nanya balik, mandi aja sana, loe mau ke kampus gak..?” ujar Desta. Mocil langsung bergegas pergi kedalam rumah dengan wajah yang agak sedikit lesu dan rasa kebingungan.
Menit demi menit pun berlalu, siang itu Desta, Ramon dan Mocil sedang berbincang-bincang di kantin mengenai keanehan yang sering mereka rasakan.
“Perasaan gue tidur di kamar, deh. Kok, bisa di luar sih, aneh banget..”
“Loe lagi ngigo sambil berjalan kali, Cil,” papar Desta. Di saat mereka bertiga sedang berbincang-bincang di kantin, Jessika datang menghampiri mereka.
“Loe kenapa, Jess…?” tanya Desta heran.
“Semalem gue di datengin Nenek-Nenek itu lagi”
“Loe serius, Jess....”
“Serius lah, emang tampang gue gak meyakinkan..?” ujar Jessika.
“Kayaknya kita harus ke dukun lagi deh..”
“Loe bener banget Mon, kayaknya kita harus ke dukun lagi, gue gak mau setiap tidur nyenyak gue selalu terganggu…”
“Oh ya, Jess. Cerpen loe masih belum selesai juga..?” tanya Desta.
“Belum Des, gue gak berani buat ngelanjutinnya..”
“Kenapa gak loe lanjutin?”
“Gue takut Nenek-Nenek itu balik lagi…”
“Jangan-jangan…” papar Mocil.
“Jangan-jangan apa l, Cil…?”
“Jangan-jangan keanehan yang selama ini menghantui kita, gara-gara loe buat cerpen tentang Nenek Gayung itu kali, karena semenjak loe mau buat cerpen itu, keanehan selalu terjadi, jadi gue berkesimpulan si Nenek Gayung itu gak mau kisahnya berada di dalam sebuah kertas”
“Kok gue ga mikir kesitu ya, Cil…” ujar Jessika.
“Siapa dulu dong, Mocil..”
“Tapi Jess, loe gak curiga sama dua foto yang waktu itu..”
__ADS_1
“Curiga sih, tapi belum bisa gue ambil secara logika…” ujar Jessika, namun di saat mereka sedang berbincang-bincang dengan seriusnya, Bu Julia datang menghampiri mereka.
“Ternyata kalian disini, Ibu udah pusing nyari kalian”
“Kalau boleh tahu, ada apa ya Bu..”
“Ibu mau ngasih hasil nilai ulangan kalian kemarin, nilai ulangan kalian bertiga begitu sempurna..”
“Perasaan gak ada ulangan, deh.” papar Mocil.
“Oh ya, karena nilai ulangan kalian bagus, Ibu mau ngadain pesta di rumah Ibu khusus untuk kalian bertiga, Ibu harap kalian datang ya, Ibu tunggu di rumah ibu..” ujar Bu Julia, Bu Julia langsung pergi meninggalkan mereka berempat dengan lekuk tubuhnya yang indah.
Saat itu mereka bertiga begitu heran, karena mereka yakin belum pernah melakukan ulangan harian bersama Bu Julia.
“Gue gak dateng ah..” ujar Mocil.
“Sama gue juga..”
“Apa lagi gue..” papar Desta.
“Loe bertiga kenapa sih, tumben banget..”
“Gue yakin yang tadi bukan Bu Julia..”
“Maksudnya?”
“Loe inget gak waktu yang lalu, Bu Julia pernah ngasih hasil nilai ujian yang jelek, Bu Julia nyuruh dateng kerumahnya buat remedial ulang, tapi pas gue bertiga kerumah Bu Julia, ternyata Nenek-Nenek tua yang ngajarin gue bertiga..” ujar Desta.
“Ya, gue seriulah..”
Malam pun tiba. Desta, Ramon dan Mocil memutuskan tak akan pergi ke kediamannya Bu Julia, karena saat itu mereka yakin Bu Julia itu yang menghampiri nya itu jelmaan dari sosok Nenek Gayung.
“Loe mau datang Des kerumah Bu Julia”
“Kaga ah, nanti ujung-ujungnya kayak waktu yang lalu..” namun tanpa mereka duga tiba-tiba dari arah luar pun terdengar suara ketukan pintu.
“Cil, loe bukain tuh pintu…” ujar Ramon.
“Kaga ah, loe aja, paling Nenek Gayung…” Ramon pun memberanikan diri untuk menghampiri pintu luar, namun setelah pintu dia buka, ternyata Bu Julia sudah berada tepat d hadapannya.
“Bu Julia..?”
“Ramon, kenapa kamu gak datang kerumah Ibu..?” ujar Bu Julia, Ramon semakin cemas.
“Saya kira Ibu Nenek Gayung” ujar Ramon gugup.
“Kamu ngomong apa sih. Oh ya, Ibu boleh masuk gak, di luar dingin banget…”
__ADS_1
“Boleh Bu, boleh…” Bu Julia langsung membuka sweater yang di kenakan nya, melihat tubuh Bu Julia, Ramon hanya bisa menelan air liurnya saja.
“Ibu tunggu dulu ya disini, saya mau manggil Desta sama Mocil…”
Sesampainya di kamar.
“Siapa Mon, yang tadi ngetuk-nhetuk pintu…?”
“Bu Julia, Des..”
“Bu Julia, serius loe Mon..?”
“Terus loe suruh masuk Mon…?”
“Yaiyalah, Cil. Kasian kalau gak di suruh masuk, di luar dingin”
“Loe nyari penyakit aja, nanti ternyata kalau itu si Nenek Gayung gimana.?”
“Loe tenang aja, Cil. Kalau ada Nenek Gayung itu langsung gue *****, oh ya gimana kalau kita taruhan…”
“Taruhan apa Mon..?” tanya Desta heran.
“Siapa yang bisa nyium Nenek Gayung itu dia terbebas dari jeratan uang bulanan kos selama dua bulan....”
“Boleh juga ide loe, Mon..”
“Oke gue juga setuju..” papar Mocil.
“Oh ya, Mon. Loe yakin yang datang itu Bu Julia….?”
“Gue juga kurang yakin, Cil..” ujar Ramon resah, mereka bertiga langsung pergi menuju ke ruang tamu untuk memastikan apa benar yang bertamu itu Bu Julia, namun baru saja dia membuka pintu kamarnya, sontak saat itu juga mereka pun langsung terkejut, karena saat itu Bu Julia sudah berada tepat di hadapan mereka.
“Bu Julia, ngapain di depan pintu..?” tanya Desta heran.
“Habis kalian lama sih, jadi Ibu susulin kalian..” ujar Bu Julia, Bu Julia langsung masuk kedalam kamar mereka tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
“Ini kamar kalian bertiga, luas juga yah…”
“Bu Julia, kok tumben main ke kosan kita..?”
“Ibu lagi kangen aja sama kalian bertiga, Ibu undang ke pesta, kalian gak datang..” Bu Julia langsung menghampiri ranjang tidur mereka.
“Ranjang kalian empuk juga…”
“Sumpah Mon, gue ga kuat..” ujar Mocil.
“Kalian kenapa ngelihatin Ibu kayak gitu, kesini aja…”
__ADS_1
“Tapi Bu…?”
“Kesini aja, Ibu kedinginan…” ujar Bu Julia.