NENEK TIKAR

NENEK TIKAR
BAGIAN 21


__ADS_3

Tak terasa waktu pun semakin cepat berlalu, malam itu Desta, Ramon dan Mocil baru saja pulang dari jalan-jalan malam dengan rasa lelah.


“Aduh ini aset kapan sembuhnya, kaga bisa gue gerakan sama sekali…” ucap Desta cemas.


“Tau nih, kalau tahu kayak gini, gue gak mau kedukun itu, aset berharga gue jadi lumpuh, apa kata istri gue nanti kalau gue nikah..” ujar Ramon.


”Oh ya, Mon. Hari ini gak ada makanan sama sekali yang bisa kita makan…?” tanya Mocil.


“Emangnya jatah yang masak bulan sekarang siapa…, kan si Desta."


“Loe, belum masak, Des?”


“Boro-boro masak Mon, kita aja baru nyampe rumah….”


“Yaudah loe ke minimarket aja Des, beli mie atau semacamnya deh…”


“Oh ya, Des. Jangan lupa, gue nitip obat kuat ya, gue gak sanggup kalau aset gue lesu terus..” ujar Ramon, di saat mereka sedang menahan rasa perih yang masih terasa di aset berharganya itu, tiba-tiba dari arah luar terdengar suara ketukan pintu, tanpa ada rasa curiga Desta langsung menghampiri pintu untuk memastikan suara ketukan pintu itu, namun setelah dia membuka pintu. Bagas sangat heran, karena dia hanya menemukan sebuah bungkusan misterius, setelah membuka bungkusan misterius itu,isinya hanya seuntai rambut kusam.


"Jangan-jangan ini rambutnya Nenek gayung" karena takut Desta langsung bergegas pergi menuju kamar dengan tergesa-gesa.


“Siapa Des yang bertamu..?”


“Ga ada siapa-siapa, Mon…..”


“Yaudah Des, sekarang loe ke minimarket deh, gue udah laper nih..” Ujar Ramon.


"Aduh, Mon. Tiba-tiba perut gue sakit, gue mau boker dulu." ujar Desta.


"Alasan aja Loe, Des" papar Mocil, Mocil langsung bergegas pergi menuju minimarket terdekat untuk membeli bahan makanan. Setelah Mocil pergi, Desta menghampiri Ramon.

__ADS_1


"Mon, si Mocil udah pergi?"


"Udah, Des. Emang kenapa?"


"Tadi, pas gue buka pintu, gue nemuin bungkusan yang isinya rambut kusam. Jangan-jangan itu rambutnya si Nenek Gayung"


"Pantes aja tiba-tiba perut Loe sakit, ternyata Loe takut ketemu Nenek Gayung."


"Yaudah kita tidur aja, biar si Mocil aja yang ketemu sama Nenek gayung"


Disisi lain.


Tak lama setelah mendapatkan makanan yang di cari, Mocil memutuskan untuk pulang melalui jalan tikus agar dia sampai lebih cepat, namun di saat dia sedang berjalan dengan santainya sambil menahan perih di bagian asetnya, dia melihat wanita cantik sedang berdiri dengan pandangan kosong di pinggir jalan.


“Neng, kok sendiri aja…?” tanya Mocil heran.


“Saya lagi bingung Mas…”


“Barang saya hilang…!” ujar wanita cantik itu.


“Barang, kan barang Neng selalu nempel ga kemana-mana…”


“Bukan yang ini Mas, tapi yang satu lagi…”


“Oh, ya. Kalau boleh tahu, Neng rumahnya dimana….?”


“Di ujung sana Mas…”


“Boleh dong Mas anter..” ujar Ramon.

__ADS_1


“Boleh, kok Mas…”


“Kenalin, Mocil pria paling baik hati di jagat raya..”


“Saya Maysaroh...” ujar wanita cantik itu.


“Perasaan gue pernah denger yang namanya Maysaroh..” ucap hati Mocil, Mocil langsung mengantarkan wanita cantik itu tanpa ada rasa curiga sedikit pun di benak hatinya.


“Gue baru inget, gue kan pernah belajar gombal dari si Ramon, gue coba ah. Oh ya, Neng tahu gak perbedaan becak sama Neng…?” tanya Mocil menggoda.


“Gak tahu, emang bedanya apa…?”


“Kalau becak di goes semakin capek, kalau neng di goes semakin nikmat, hehehe.” ucap Mocil tersenyum sambil mengelus dagu wanita itu.


“Ah, si Mas bisa aja..”


Menit demi menit pun berlalu, Mocil sempat berpapasan dengan dua warga yang sedang ronda, tapi kedua warga itu merasakan ada yang aneh.


“Dasar remaja jaman sekarang, Nenek-Nenek aja masih di gebet…”


“Mungkin tuh anak lagi galau…, mangkannya oper alih ke Nenek-Nenek"


Malam pun semakin larut, lama-kelamaan Mocil mulai merasakan ada yang aneh, karena dari tadi wanita cantik itu hanya terdiam membisu.


“Neng, kok dari tadi diam aja sih, rumahnya masih jauh ya..?”


“Dikit lagi, kok…”


“Perasaan ini arah mau ke makam gede deh Neng…?” tanya Ramon heran.

__ADS_1


“Emang, kan rumah saya di sana” ucap wanita cantik misterius itu.


__ADS_2