NENEK TIKAR

NENEK TIKAR
BAGIAN 34


__ADS_3

Malam pun semakin larut, saat itu Jessika sedang tertidur pulas di atas ranjang tidurnya yang lumayan empuk, namun tiba-tiba perasaannya pun mulai di landa kecemasan, dengan perlahan-lahan Jessika membuka kedua matanya dan langsung menoleh kearah sampingnya, setelah menoleh. Jessika sangat terkejut, karena sesosok Nenek-Nenek tua yang menyeramkan sudah berada di samping ranjang tidurnya. Nenek-nenek Tua itu sedang tertidur pulas. Jessika benar-benar takut, dengan penuh kegelisahan dia langsung mengambil handphone miliknya yang terletak tak jauh darinya dengan rasa gugup dia langsung menelepon Desta.


“Hallo Des..?”


“Kenapa Jess, kok tadi gue nelepon loe matiin…”


“Nenek Gayung ada di kamar gue…”


“Serius loe, Jess…”


“Dia lagi tiduran di ranjang gue, tidurnya nyenyak banget..”


“Gak mungkin Jess, si Nenek Gayung lagi ada di kamar gue…” ujar Desta. Karena penasaran Jessika menghampiri Nenek-Nenek tua yang menyeramkan itu dengan penuh rasa takut, namun di saat Jessika sedang memperhatikan wajah Nenek-Nenek tua itu, tiba-tiba kedua mata Nenek-Nenek tua itu langsung terbuka. Jessika benar-benar kaget dan langsung pingsan tak sadarkan diri.


Disisi lain.


“Si Jessika bilang apa?” tanya Ramon heran.


“Dia bilang, katanya Nenek Gayung itu ada di kamarnya…..”


“Kalau Nenek Gayung itu ada di kamarnya, terus di kamar kita siapa?” ujar Mocil heran. Karena penasaran, mereka bertiga pun kembali lagi ke kamarnya untuk memastikan sosok Nenek-Nenek tua itu.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu kamar, dengan perlahan-lahan Desta mengintip untuk memastikan siapa yang berada di dalam kamar mereka dengan celah pintu yang lumayan kecil, namun setelah Desta mengintip, ternyata yang dia lihat sesosok si Monica yang sedang tertidur di atas ranjang tidurnya.


“Ada siapa Des..?”


“Gue gak tahu Mon, wajahnya gak jelas..”


“Jangan-jangan Nenek Gayung itu,,,?”


“Bukan Nenek-Nenek Cil..., kayaknya sih cewek” ujar Desta, karena penasaran mereka bertiga pun langsung masuk kedalam ke kamar dengan penuh kecemasan, sesampainya tepat di samping wanita misterius itu, tiba-tiba wanita misterius itu pun langsung membalikan tubuhnya kehadapan mereka bertiga, melihat wajah wanita misterius itu, sontak mereka pun terkejut dan langsung pingsan seketika, karena saat itu mereka melihat wajah wanita misterius itu tak ada mata, hidung dan mulut alias muka rata. Setelah mereka bertiga pingsan. Muncul sosok Nenek-nenek tua menghampiri setan muka rata dan langsung memukulnya dengan tikar tua.


"Ampun, Nek''


"Maaf, Nek. Saya cuma iseng" Setan muka rata itu pun langsung pergi menghilang entah Kemana.


Siang itu di kampus, Desta, Ramon, Mocil dan Jessika terlihat lemas, karena mereka masih memikirkan sesosok Nenek-Nenek tua misterius yang selalu mengganggu mereka.


“Kita benar-benar harus ke dukun.., pokoknya harus” ujar Mocil.


“Bener banget, Cil. Gue udah pusing di teror Nenek Gayung itu..” ujar Desta.


“Salah kita apa sih, padahal kita ga pernah ngeganggu Nenek Gayung itu deh..”

__ADS_1


“Mungkin Nenek Gayung itu lagi iseng ngeganggu kita….”


“Kalau emang iseng kenapa setiap waktu dia ngenganggu kita, gak ada kerjaan banget..” ujar Jessika.


“Tapi tunggu dulu deh, jangan-jangan benar,”


“Apanya yang bener, Cil..”


“Dulu loe pernah kan ngelanggar larangan Jess, foto-foto di bekas rumah Nenek Gayung itu, jangan-jangan Nenek Gayung itu mau kita mengembalikan hasil foto yang pernah kita ambil, mangkannya Nenek Gayung itu ngeganggu kita..”


“Kesimpulan loe gak ada yang bener semua, Cil...” ujar Ramon.


“Tapi tunggu dulu deh, kayaknya perkataan loe ada benarnya juga, Cil..” ujar Jessika.


“Maksud loe apa, Jess..?” tanya Desta heran.


“Kayaknya kita harus ngembaliin foto itu, sama minta maaf juga, mungkin setelah kita mengembalikan foto itu, kita gak di hanggu lagi sama Nenek Gayung itu.”


“Gue rasa percuma deh..”


“Percuma kenapa Mon, kan belum di coba…”

__ADS_1


__ADS_2