
Dan keesokan harinya, setelah pulang dari kampus, mereka berempat memutuskan untuk pergi mencari bekas rumah Nenek Gayung, dengan maksud tujuan mencari info tentang sosok Nenek Gayung yang lebih detail lagi.
“Mobil loe, bau banget Des…”
“Maklum, jarang gue cuci Cil.., oh ya, Jess. Alamatnya masih jauh gak..?” tanya Desta.
“Dikit lagi, kok …”
“Perasaan dari tadi dikit lagi-dikit lagi, lama-lama bisa jadi bukit..” papar Ramon.
“Sesuai maps, seharusnya ada tugu merah Des disini…”
“Tuh, ada tugu warna merah, sesuai maps kita harus ambil arah mana, kanan apa kiri..?”
“Kok, ada dua sih, menurut Wikipedia yang gue baca, seharusnya tugu merah itu cuma ada satu deh…”
“Yang bener dong Jess, yang kiri apa yang kanan…?”
“Yang kang kanan aja deh..”
“Bener nih, belok kanan..” ujar Desta, dengan perlahan-lahan Desta membelokan arah mobilnya kekanan menuju tugu berwarna merah itu, mereka terus berjalan dengan penuh kesabaran tanpa ada firasat sedikitpun di benak hati mereka.
__ADS_1
Tak terasa waktu pun sudah malam, setelah melalui perjalanan yang membingungkan, akhirnya mereka berempat sampai di salah satu perkampungan yang lumayan aneh.
“Tumben banget ya, kok kampung sepi banget…” ujar Jessika heran.
“Mungkin gara-gara mitos Nenek Gayung itu kali, Jess. Jadi, gak ada yang berani keluar..”
“Masa mitos Nenek Gayung sampe segitunya Cil.., terlalu berlebihan”
“Ya coba aja Mon, loe lihat kampung ini, sepi banget..”
“Kalau di perhatiin emang bener-bener aneh sih..” papar Desta. Karena penasaran akhirnya mereka langsung keluar dari dalam mobil dengan penuh kekhawatiran, namun tiba-tiba mereka di tegor oleh seseorang.
“Anjrit gue kira setan..,” ujar Ramon kaget.
“Maaf Pak, kalau kedatangan kami mengganggu, kami empat mahasiswa yang singgah ke desa ini, kami sedang mencari info tentang Nenek Gayung..”
“Nenek Gayung…, waktu udah hampir maghrib lebih baik kalian mampir kerumah saya” saat itu mereka begitu heran dengan sosok pria tua berkumis itu.
Sesampainya mereka di kediaman pria tua berkumis itu.
“Saya ketua Rt di kampung sini, kalau saya boleh tahu, kenapa kalian mau tahu mengenai sosok Nenek Gayung..”
__ADS_1
“Kami semua penulis dan saya ingin mengangkat kisah Nenek Gayung menjadi sebuah buku, karena kami kekurangan informasi tentang Nenek Gayung, mangkan dari itu kami berkunjung ke kampung ini..” ujar Jessika dengan perkataan tak jujur agar mereka bisa di terima di kampung itu.
“Memangnya, kalian gak tahu mitos tentang Nenek Gayung, kalau kalian ketemu Nenek Gayung, kalian akan mati dalam waktu seminggu…”
“Jadi, mitos itu bener adanya Pak..?” tanya Jessika resah.
“Mitos itu dari dulu memang udah ada, kalau di hitung-hitung korbannya mungkin udah ada 90 orang mati di kampung ini, karena ketemu Nenek Gayung itu..”
“Serem banget…” papar Mocil.
“Oh ya, Pak. Kalau kami boleh tahu, sebenarnya dimana ya rumah bekas Nenek Gayung itu..?”
“Rumah bekas Nenek Gayung itu tepat di ujung jalan sana, gak jauh dari sini..”
“Kalau gitu, kami mau pamitan Pak, kami mau ngunjungin rumah bekas Nenek Gayung itu..”
“Tapi ingat, kalian di larang foto-foto di di sana dan jangan pernah mengambil apapun dari sana..”
“Memangnya kenapa Pak kalau kami foto-foto di sana..?”
“Kalian akan mengalami kejadian yang aneh-aneh..” Dengan sikap dinginnya, ketua Rt kampung itu mengantarkan mereka menuju bekas rumah kediamannya Nenek Gayung itu.
__ADS_1