
Akhirnya setelah perbincangan yang matang mereka pun memutuskan untuk pergi kerumah bekas Nenek Gayung itu untuk meminta maaf dan mengembalikan hasil foto yang telah mereka cetak.
Menit-menit pun berlalu, sesampainya mereka di suatu jalan.
“Loe, yakin Des jalannya lewat sini..?”
“Gue yakin banget…”
“Tunggu dulu deh, perasaan dulu gapura merah ada dua deh, kiri kanan, ko gapuranya cuma satu sih.., cuma di kiri aja”
“Iya, Mon. Kok bisa sih..”
Malam itu mereka begitu resah dan semakin resah, karena seingat mereka saat pergi menuju bekas rumah Nenek Gayung itu, mereka mengambil arah kanan, namun saat itu mereka begitu bingung karena gapura yang berada di arah kanan ternyata sebuah pemakaman umum.
“Yaudah kita ambil kiri aja kan udah terlihat jelas di tulisannya, Makam Nenek Gayung dan Kakek Cangkul, mungkin kemarin malam kita lagi di kerjain sama setan…” ujar Mocil.
“Oh ya, Cil. Loe tahu gak tentang Kakek Cangkul..?”
“Ceritanya gak jauh beda Jess sama Nenek Gayung, kalau Nenek Gayung megang gayung, Kakek Cangkul ya megang cangkul..”
“Bukan itu, maksud gue kisahnya sama ga..?”
“Oh kisahnya, dulu semasa hidupnya Kakek Cangkul itu tukang gali kubur, dia tewas pas saat mau mandiin si Nenek Gayung..”
“Serem juga ya kisahnya..” ujar Jessika, namun saat itu juga lagi-lagi keanehan pun terjadi, di saat mereka hampir mau sampai di bekas rumah Nenek Gayung, Desta pun sempat melihat Kakek-Kakek seorang diri di tepi jalan, karena penasaran Desta pun menghentikan mobilnya tepat di hadapan Kakek-Kakek misterius itu.
“Kakek mau kemana, udah malem ko masih kelayaban..?” tanya Desta heran.
__ADS_1
“Kakek mau nyari tanah, Cu…”
“Nyari tanah dimana Kek…”
“Di ujung sana, Cu..”
“Kebetulan kami mau kearah sana, Kakek bareng aja sama kita-kita..”
“Kalian gak takut sama Kakek...?”
“Gak Kek, yaudah Kakek sekarang naik aja...”
Malam itu mereka berempat sama sekali tak memiliki firasat sedikit pun dan langsung melanjutkan perjalanannya menuju bekas rumah Nenek Gayung itu. Tak lama setelah di persimpangan jalan.
“Kalian mau kemana, Cu…”
“Nenek Gayung, Cu Kakek berhenti disini aja..”
“Kan masih jauh Kek..”
“Ga apa-apa kok, Cu. Kakek masih bisa jalan…” akhirnya saat itu juga Kakek misterius itu pun turun dari dalam mobil dengan sikap dinginnya, tanpa ada rasa curiga mereka pun langsung melanjutkan perjalanannya kembali, namun baru saja mereka melanjutkan perjalanannya mereka pun merasakan ada yang aneh.
“Itu Kakek kenapa ya, aneh banget..” ujar Ramon.
“Ini cangkul loe, Des..?” tanya Mocil heran.
“Cangkul, loe ngawur Cil, ngapain gue nyimpen cangkul di mobil gue..”
__ADS_1
“Terus ini cangkul siapa..?”
“Jangan-jangan yang tadi numpang itu Kakek Cangkul…” ujar Jessika resah, akhirnya karena takut Mocil pun langsung membuang cangkul itu dengan perasaan resah, namun tak lama setelah cangkul itu mereka buang, tiba-tiba cangkul itu pun di pungut oleh sesosok Kakek-Kakek tua yang menyeramkan.
Tak lama setelah melalui perjalanan yang lumayan aneh, akhirnya mereka pun sampai di bekas rumah Nenek Gayung.
“Loe aja deh berdua yang turun, gue sama si Ramon di mobil aja..”
“Benar loe berdua di dalam mobil..?”
“Iya, Jess. Gue disini aja…”
“Loe yakin, Cil. Nanti kalo tiba-tiba si Ramon jadi Nenek Gayung itu gimana..” akhirnya setelah di takut-takuti oleh rekannya, Mocil pun memutuskan untuk ikut bersama mereka, sedangkan Ramon tetap menunggu di dalam mobil.
Malam pun semakin larut, dengan percaya diri, Desta, Mocil dan Jessika pun memberanikan diri masuk kedalam bekas rumah Nenek Gayung itu untuk meminta maaf dan mengembalikan hasil foto yang sempat dia ambil.
“Permisi Nek, kedatangan kami mau mengembalikan foto dan kami juga minta maaf kalau kedatangan kami kemarin-kemarin mengganggu ketenangan Nenek..” ujar Jessika.
“Maaf ya Nek, kami janji gak akan kesini lagi…”
“Nenek pernah bilang kembalikan milik Nenek, sekarang kami kembalikan, tolong jangan ganggu kami lagi Nek..” ujar Mocil.
“Oh ya, Jess. Kayaknya kita harus menaruh foto itu dimakam Nenek Gayung itu deh..” papar Desta.
“Kenapa di makam itu..?”
“Mungkin kalau naro foto itu di makam Nenek Gayung itu, lebih ada khasiatnya dari pada naro di dalam rumah ini..” akhirnya saat itu juga mereka bertiga pun langsung bergegas pergi menuju samping rumah menghampiri makam Nenek Gayung itu, sesampainya di makam Nenek Gayung, tanpa menunggu aba-aba Jessika pun langsung menaruh foto itu di atas makam Nenek Gayung itu yang masih berupa tanah merah, namun baru saja Jessika meletakan foto itu, tiba-tiba dari dalam makam Nenek Gayung itu pun muncul sesosok tangan misterius yang menyeramkan, saat itu mereka bertiga benar-benar terkejut dan langsung pergi menghampiri mobil yang sedang terparkir dengan tergesa-gesa, namun sesampainya mereka di dalam mobil, lagi-lagi mereka pun merasakan ada yang aneh.
__ADS_1