NENEK TIKAR

NENEK TIKAR
BAGIAN 17


__ADS_3

“Terus, masalahnya apa..?” tanya Jessika heran. Saat itu juga mereka bertiga langsung membalikan badannya dan menunjukan luka memar itu tepat di hadapannya Jessika.


“Loe pada kenapa, kok badan loe pada memar-memar gitu..?”


“Gue juga gak tahu Jess, semalem gue bertiga ketemu sama Nenek-Nenek, paginya badan kita-kita udah kayak gini..”


“Tunggu dulu deh, kayaknya gue tahu penyebab loe kayak gitu..” ujar Jessika, Jessika plangsung mengambil laptop miliknya yang berada di dalam kamarnya, tak lama menunggu.


“Coba loe lihat gambar ini, gambar ini persis dengan memar yan loe alami kan..”


“Loe dapat gambar ini dari mana Jess..?” tanya Desta heran.


“Dari Google, kalau gue boleh ngambil kesimpulan, yang loe temuin itu bukan Nenek-Nenek biasa, tapi Nenek Gayung..”


“Serius loe Jess..?”


“Gue serius.., yaudah sekarang loe pakai lagi tuh baju, gue jiji"


“Berarti dalam jangka seminggu, kita bertiga koit, alias mati dong..” ujar Mocil resah.

__ADS_1


“Tapi ada yang aneh, Jess…”


“Aneh, maksudnya?”


“Nenek-Nenek yang gue lihat itu cuma bawa tikar, Jess. Biasanya kan, Nenek Gayung bawa tikar sama gayung..” ujar Desta resah.


“Masa sih, mungkin yang loe temuin bukan Nenek Gayung kali, tapi sepupunya Nenek Gayung, Nenek Tikar..” ujar Jessika bercanda.


“Gue lagi serius juga, loe malah bercanda..”


“Oh ya, Jess. Loe tahu info gak, gimana cara lari dari jeratan Nenek Gayung itu..”


“Loe jangan nakutin gue dong Jess…” papar Desta.


"Hehehe, bercanda Jes"


“Jangan-jangan, semua ini akibat kita datang rumah bekas Nenek Gayung itu, Nenek Gayung itu gak suka akan kedatangan kita..” ujar Mocil, namun di saat mereka sedang berbincang-bincang dengan seriusnya, tiba-tiba telepon rumah Jessika berdering, tanpa ada rasa curiga Jessika langsung mengangkatnya dan dia pun mendengar suara rintihan yang kurang jelas.


“Kembalikan, kembalikan..” karena takut Jessika pun langsung menutup telepon rumahnya itu dan langsung bergegas pergi menghampiri rekan-rekannya kembali.

__ADS_1


“Siapa, Jess. Yang nelepon..?” tanya Desta heran.


“Ga tahu, sebelum gue tutup gue denger kata-kata yang kurang jelas, kembalikan-kembalikan, gitu katanya..”


“Jangan-jangan yang nelepon itu Nenek Gayung..” papar Mocil.


“Gak mungkin Cil, emangnya Nenek Gayung punya handphone..”


“Sekarangkan jaman moderen Jess, gak ada yang mustahil, Pocong aja sekarang suka keluar siang-siang...”


“Oh ya, Jess. Loe mau bareng gak ke kampus…?” tanya Desta.


“Boleh, lagian gue males banget naik Grab….”


Hari demi hari pun telah berganti, tak terasa waktu bergulir dengan cepatnya, siang itu Jessika sedang mencari buku yang dia butuhkan di dalam perpustakaan, namun dia tak sengaja tertimpa sesuatu dari langit-langit lemari perpustakaan itu, setelah dia melihat benda yang terjatuh itu, dia pun sangat terkejut, karena saat itu yang dia lihat sebuah tikar tua.


"Ini tikar siapa ya..." tanya Jessika resah. Karena takut dia pun langsung membuang tikar itu dan pergi meninggalkan perpustakaan dengan tergesa-gesa, namun setelah Jessika pergi meninggalkan perpustakaan itu, tiba-tiba tikar tua itu pun di pungut oleh seseorang.


“Ini kan tikar yang gue cari semalaman, kok ada disini..” ujar seseorang, ternyata yang memungut tikar tua itu Pak Salim si penjaga perpustakaan.

__ADS_1


__ADS_2