
“Serius Neng..?” namun saat itu juga secara tiba-tiba wanita cantik misterius itu menghilang dengan sendirinya dan berubah menjadi sosok Nenek-Nenek tua yang menyeramkan sambil membawa sebuah tikar tua, Mocil benar-benar kaget, karena takut dia langsung bergegas pergi meninggalkan jalan yang gelap itu menuju kosannya dengan tergesa-gesa.
"Kok, kabur sih, Nenek kan cuma mau nanya keberadaan gayung nenek" ujar Nenek Gayung.
5 menit pun telah berlalu, dengan nafas yang masih terengah-engah, akhirnya Mocil pun sampai juga di kosannya, namun di saat dia mau membuka pintu, tiba-tiba pundaknya di genggam oleh seseorang. Mocil benar-benar terkejut.
“Ampun Nek, ampun….”
“Loe kenapa, Cil?” tanya seseorang, setelah Mocil menoleh. Perasaanya pun lega, karena yang berada di belakangnya rekannya sendiri.
“Gue kira, siapa…”
“Loe habis dari mana sih, gue udah laper juga..” ujar Ramon
“Loe sendiri, emang darimana….?”
“Gue habis beli pecel ayam, habis loe lama banget, yaudah kita masuk aja, nanti di datengin setan loe…” akhirnya dengan perasaan sedikit lega Mocil pun langsung masuk kedalam kosannya dengan tenang.
“Loe habis dari mana sih Cil, lama banget.., gue udah laper banget nungguin loe dari tadi."
“Gue tadi habis nganter cewek Des, tapi sialnya itu cewek jadi Nenek-Nenek..”
"Jangan- jangan itu Nenek Gayung"
__ADS_1
“Yaudah, jangan terlalu di pikirin, sekarang kita makan aja. Nanti kalau dingin malah gak enak..” ujar Ramon. akhirnya saat itu juga mereka langsung membuka bungkusan nasi itu sesuai bagiannya masing-masing, namun di saat bungkusan nasi itu mereka buka, mereka bertiga sangat kaget.
“Ko tanah sih…?”
"Loe jangan bercanda dong, Mom. gue udah laper banget nih" ujar Desta
“Iya Des, isinya tanah, loe beli nasi goreng di mana Mom.?”
“Di sebrang jalan, Cil…”
“Jangan-jangan, yang jualan setan, Mon…” saat itu mereka benar-benar heran. Namun tiba-tiba lampu di ruangan mereka padam, tak lama menunggu akhirnya lampu pun menyalah, namun setelah lampu ruangan itu menyalah, ada sesosok Pocong yang lumayan menyeramkan sedang terdiam dengan pandangan kosong tepat di samping Mocil.
“Pocoooooooooooooooong..” teriak Desta, Ramon dan Mocil. Karena takut, mereka pun langsung bergegas pergi menuju kamar dengan tergesa-gesa dan langsung mengunci pintu kamarnya.
“Kemarin Nenek-Nenek, sekarang Pocong besok apa lagi..?”
“Tapi, kita harus berterimakasih sama itu Pocong…”
“Maksudnya?” tanya Desta heran.
“Gara-gara kehadiran dia anu berharga gue udah bisa di gerakan lagi….”
“Serius loe, Mon..?” papar Mocil.
__ADS_1
“Loe coba aja sendiri…” ujar Ramon. Tak lama setelah Mocil memastikannya.
“Iya, Mon. Loe bener banget, anu gue juga udah bisa bergerak lagi..!”
Namun disisi lain, saat itu sesosok Pocong yang baru saja menampakan diri di hadapan mereka bertiga sedang duduk santai di ruang tamu, tiba-tiba dari arah belakangnya muncul sesosok Nenek-Nenek yang langsung memukulnya dengan tikar tua.
“Heh, pocong. Ini cerita Nenek Gayung, bukan cerita Pocong, pergi sana..” ucap seseorang, setelah Pocong itu menoleh ternyata yang memukulnya si Nenek Gayung.
"Oh maaf, Nek. Berarti saya salah masuk cerita"
"Yaudah, Sana pergi. Jangan ganggu mereka."
"Ok Nek, Siap" ujar Pocong. Akhirnya Pocong itu pun minta maaf ala jepang dan langsung pergi menghilang.
Siang itu Desta, Ramon dan Mocil sedang duduk lesu di kantin, karena mereka masih memikirkan keanehan-keanehan yang sering mengganggu mereka.
“Kenapa ya, sekarang kita selalu ngalamin hal yang aneh terus..?” ujar Mocil heran.
“Jangan-jangan, bener Cil semua ini karena kita berkunjung kerumah bekas Nenek Gayung itu dan melanggar peringatan dari Rt setempat…”
“Atau mungkin jangan-jangan…” papar Ramon.
“Jangan-jangan apa Mon..?”
__ADS_1