Obsesi Cinta Sahabatku

Obsesi Cinta Sahabatku
Lo pulang sama siapa


__ADS_3

Jam pulang sekolah.


"Sya, lo tuh keterlaluan banget sih, masa ninggalin gue tadi di kantin. Nyebelin banget sih." Ucap Amanda terlihat kesal.


"Lo tahu gak Sya. Gue kayak orang bego nyariin lo tadi di kantin, gue telpon lo gak angkat-angkat, gue kirim pesan lo gak bales. Sumpah ya gue kesel banget sama lo." Sambung Amanda dengan wajah yang cemberut.


"Mana pesanan gue udah jadi lagi, kan sayang kalau gak gue makan, untung aja kak Cantika masih ada di sana. Setidaknya gue ada yang nemenin, walaupun kak Cantika diam saja kek patung pancoran." Amanda kembali berkata sambil menghentak-hentakkan kakinya, ia juga sesekali melirik sahabatnya yang terlihat fokus mendengarkan ocehannya itu.


"Gladysa! Lo kok malah diam saja sih. Lo tuh udah bikin gue kesel tahu gak." Seru Amanda semakin kesal ketika sahabatnya itu hanya diam tanpa bersuara.


"Sorry, Manda. Gue lupa kalau lo tadi masih ada di kantin. Sudah ya jangan marah-marah mulu, nanti cepet tua lo." Barulah Disya mengeluarkan suaranya. Namun Amanda tetap saja merasa sangat kesal, se kesal-kesalnya.


Amanda terus saja nyerocos kepada sahabatnya itu. Jujur saja ia masih merasa sangat kesal kepada sahabatnya itu, bisa-bisanya sahabatnya itu pergi tanpa memberitahu dirinya. Bahkan ketika di tanya pun sahabatnya itu hanya memberikan alasan lupa saja, sungguh menyebalkan sekali bukan.


Sementara itu, Disya terus berjalan melangkahkan kedua kakinya, kali ini ia tidak memperdulikan ucapan sahabatnya Amanda. Dan hari ini ia tidak berniat untuk pulang bersama Erlan ataupun Aditia, Disya memilih pulang berdua saja dengan Amanda.


"Manda jangan nyerocos mulu, sebaiknya kita cepetan pulang, tidak perlu menunggu kak Erlan ataupun kak Aditia." Ucap Disya seraya menarik tangan Amanda dan mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


"Habisnya lo tuh ngeselin tahu gak. Terus memangnya kenapa kita tidak menunggu kak Erlan sama kak Adit? Biasanya juga kita bareng mereka kalau pulang." Sahut Amanda merasa sedikit aneh.


"Udah deh jangan banyak tanya, gue lagi males liat wajah mereka berdua. Ayo cepetan." Ucap Disya berbohong. Nyatanya ia memang sengaja ingin menjauh dari Erlan, ia tidak ingin membuat Cantika iri dan jadi benci kepada dirinya. Apalagi ketika ia mengingat permintaan Cantika tadi.


"Ok deh, terserah lo saja." Sahut Amanda pasrah.


Kedua remaja itu kini sudah berada di luar gerbang sekolah, mereka sedang menunggu taksi sambil sesekali melirik ke arah pintu gerbang sekolah.


"Semoga saja kak Erlan masih di kelasnya." Batin Disya.


"Sya, ayo kita naik, tuh taksinya sudah datang." Ucap Amanda sembari menarik tangan Disya dan berjalan menuju taksi.


"Jalan pak." Perintah Disya tidak sabaran.


"Siap non." Sahut si pak supir itu sembari melakujan kendaraan roda empatnya pergi meninggalkan sekolahan Disya.


***

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul empat sore. Saat ini Disya sedang asik menonton televisi di rumahnya, namun tiba-tiba saja suara seorang laki-laki terdengar di telinganya, membuat Disya langsung menoleh ke sumber suara tersebut.


"Kamu pulang bersama siapa? Kenapa tidak menungguku tadi? Apakah kamu di jemput sama laki-laki brengsek yang kemarin?" Tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Erlan dengan nada suaranya yang dingin, bahkan wajahnya pun terlihat sangat dingin.


"Kak Erlan. Bisa gak kalau datang ke rumah orang tuh salam dulu, atau permisi dulu gitu. Bikin gue terkejut saja." Omel Disya sembari menatap Erlan dengan kesal.


Erlan berdecak kesal, ia pun berjalan dan menghampiri Disya, lalu duduk di samping Disya. "Pertanyaanku belum kamu jawab tadi. Kamu pulang sama siapa? Kenapa tidak menungguku?" Erlan mengulang pertanyaan, tatapan matanya yang tajam ia berikan kepada Disya sahabatnya itu.


"Gue pulang sama Amanda, kak. Gue gak nungguin lo karena males kelamaan." Jawab Disya kembali menatap layar televisi.


"Kamu sedang tidak membohongi aku kan, Gladys!" Tanya Erlan menatap Disya penuh selidik.


"Untuk apa sih gue bohongin elo kak. Gak ada gunanya juga. Kalau lo gak percaya, tanya saja sama Amanda." Sahut Disya tanpa mau menatap lawan bicaranya.


"Ok kali ini aku percaya sama kamu." Erlan menghela nafasnya dengan tatapan mata yang masih tertuju pada Disya. "Kamu ngobrol apa tadi sama Cantika?" Tanya Erlan membuat Disya langsung menatapnya.


"Bukannya sudah gue jawab tadi pas di kantin sekolah, kenapa masih bertanya lagi." Sahut Disya sedikit kesal karena Erlan kembali bertanya tentang obrolannya dengan Cantika.

__ADS_1


"Yakin kalian hanya mengobrol itu saja? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan Sya?"


"Astaga kak Erlan. Lo kenapa sih gak percaya banget sama gue. Mentang-mentang gue pernah bohongin lo sekali, lo jadi gak prcaya gitu sama apa yang gue ucapkan! Terserah elo deh, gue males berdebat sama lo." Seru Disya dengan kesal.


__ADS_2