
Keesokan harinya...
Wktu menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit pagi. Disya sudah berada di dalam kelasnya, saat ini ia sedang berdiri di dekat jendela dengan tatapan matanya yang menerawang jauh entah kemana. Gadis yang selalu terlambat datang sekolah itu, kini mendadak menjadi murid di siplin karena dirinya lah yang paling pertama berada di dalam kelasnya.
Disya memang sengaja berangkat pagi-pagi sekali, karena ia ingin menghindar dari sahabatnya Erlan. Semenjak Erlan menyatakan perasaannya semalam, Disya menjadi sedikit bingung, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap sahabatnya itu.
"Apa yang harus gue lakukan jika gue bertemu dengan kak Erlan nanti? Apakah gue harus bersikap seolah-olah tidak terjadi dan tidak mendengar apa-apa dari mulutnya? Tidak mungkin, karena pernyataan cintanya semalam membuat gue tidak bisa tidur. Bahkan ucapannya masih gue ingat sampai sekarang." Batin Disya di iringi dengan helaan nafasnya.
"Disya lo harus tenang, anggap saja semalam itu hanyalah sebuah mimpi, ya sebuah mimpi saja. Jadi lo harus bersikap seperti biasanya saja." Disya kembali membatin sembari mengatur nafasnya, ia akan berusaha untuk bersikap seperti biasanya jika ia bertemu dengan sahabatnya nanti.
"Eh Gladys, tumben banget lo sudah datang ke sekolah, biasanya lo paling terakhir masuk kelas ini." Ucap salah teman Disya yang baru saja memasuki kelas itu.
"Iya nih tumben banget, jangan sampai nanti hujan angin gara-gara Gladys datang pertama ke kelas ini." Timpal teman satunya lagi membuat Disya tersenyum kesal.
"Memangnya kenapa kalau gue datang duluan? Gak ada yang aneh perasaan." Sahut Disya sembari berjalan menuju kursinya.
"Astaga Gladysa! Menurut lo itu gak ada yang aneh, tapi menurut kita sangat aneh bin ajaib banget kalau lo datang duluan ke kelas ini. Biasanya kan lo itu murid paling belakangan masuk ke kelas ini, atau tidak lo selalu terlambat. Dan sekarang lo tiba-tiba sudah berada di kelas ini, itu sangat mengejutkan bagi kita semua." Ucap salah satu teman sekelas Disya bernama Ela.
"Dasar berlebihan. Dulu waktu gue kelas satu sd juga gue sering datang duluan kok. Kalian aja yang tidak tahu." Sahut Disya membuat teman sekelasnnya tertawa.
"Astaga Gladysa! Itukan waktu lo masih sekolah sd, kelas satu pula, ya wajarlah kalau lo sering datang duluan, kan lo pastinya di antar sama nyokap lo, beda sama sekarang." Ucap Ela masih di iringi dengan tawanya.
"Sama saja, intinya datang duluan kan." Sahut Disya tidak mau kalah.
"Iya deh iya, terserah lo aja deh." Ucap Ela sembari mengeluarkan cermin kecil yang biasa ia gunakan untuk melihat apakah wajahnya kusam atau tidak, maklumlah Ela itu salah satu gadis yang tidak ingin wajahnya terlihat kusam oleh siapapun termasuk teman sekelasnya.
__ADS_1
"Astaga Disyaaaaaa.... Ternyata lo udah sampai duluan, ya Tuhan mimpi apa gue semalam sampai-sampai sahabat gue yang sering terlambat ini datang duluan ke sekolah." Teriak Amanda dengan tiba-tiba membuat Disya dan juga yang lainnya terkejut.
"Lo beneran Disya kan, sahabat gue?" Tanya Amanda sembari mencubit pipi Disya membuat Disya kesal.
"Lepaskan, Manda. Lo pikir gue siapa kalau buka Disya hah!" Seru Disya sembari menatap sahabatnya kesal.
"Ya gue cuma mau mastiin aja, Sya." Ucap Amanda seraya duduk di kursinya. "Oh iya kok lo tumben datang duluan ke sekolah? Biasanya kan lo selalu terlambat atau datang belakangan. Lo gak lagi kesurupan setan disiplin kan, Sya?" Tanya Amanda sembari menatap Disya penasaran sekaligus merasa heran.
"Memangnya ada ya setan disiplin? Kalaupun ada itu pasti lo setannya." Ucap Disya semakin kesal dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Gue kan cuma nanya, Sya. Lagian lo tumben banget ke sekolah tidak bareng sama kak Erlan dan kak Adit, lo gak lagi ada masalah kan sama mereka berdua?" Amanda bertanya kembali dengan tatapan matanya yang penuh selidik.
"Tidak ada, memangnya gue mau ada masalah apa sama mereka berdua." Ucap Disya di iringi dengan helaan nafasnya membuat Amanda merasa curiga dan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Disya barusan.
"Ok gue bakalan kasih tahu lo, gue memang ada sedikit problem sama kak Erlan... " Ucapan Disya tercekat di tenggorokan ketika Amanda sahabat keponya itu membuka mulutnya.
"Kak Erlan? Problem apa Sya? Kok lo gak cerita sih sama gue." Ucap Amanda membuat Disya sedikit kesal.
"Eh Maemunah! Bisa gak lo itu gak usah nyela ucapan gue dulu, gue kan belum selesai, dan gue juga baru dapat masalahnya semalam." Seru Disya sembari menjitak kepala sahabatnya pelan.
"Ish gak usah di jitak juga kali." Gerutu Amanda sembari mengusap kepalanya itu. "Ok lanjutkan cerita lo, jadi lo baru dapat masalah sama kak Erlan itu semalam, masalah apa?" Tanya Amanda sangat penasaran.
"Masalah perasaan." Sahut Disya singkat dan padat.
"Ah elah lo jangan becanda dong, Sya. Gue lagi serius nih mau dengerin cerita lo."
__ADS_1
"Ya gue juga serius Amanda! Memang masalah perasaan. Lo tahu gak kalau semalam itu kak Erlan nyatain perasaannya sama gue, dan kak Erlan juga meminta gue untuk menjadi pacarnya." Ucap Disya membuat Amanda terlihat sangat terkejut.
"WHAAAAAT! Kak Erlan nyatain perasaannya sama lo? Lo,,,, lo serius, Sya?" Tanya Amanda dengan intonasi yang tinggi membuat Disya harus membekap mulutnya itu.
"Lo bisa gak, gak usah kenceng-kenceng ngomongnya, nanti semua orang tahu kalau kak Erlan itu pernah nyatain cintanya sama gue." Bisik Disya sembari menatap ke sekelilingnya.
Amanda tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saking terkejutnya ia sampai-sampai bersuara kencang seperti itu. Sungguh menyebalkan.
"Sorry, Sya. Gue kaget banget dengernya. Tapi, beneran kak Erlan nyatain cintanya sama lo semalam? Terus lo terima gak?" Tanya Amanda mengecilkan volume suaranya agar orang lain tidak mendengarnya.
"Ya beneran lah Amanda, masa iya gue bohong sih. Dan gue tidak menerimanya, karena gue hanya menganggap kak Erlan sebatas sahabat saja." Jawab Disya terlihat serius.
"Hah! Lo tolak dia? Astaga Sya. Kak Erlan itu ganteng, pintar, anak orang kaya, masa lo tolak dia sih." Ucap Amanda sembari menggelengkan kepalanya menatap Disya dengan tatapan tidak percaya.
"Kan gue udah bilang, kalau gue cuma menganggap kak Erlan itu sebagai sahabat gue aja, tidak lebih. Lagian gak lucu kalau gue tiba-tiba pacaran sama sahabat gue sendiri." Sahut Disya di iringi dengan helaan nafasnya.
"Sekarang gue bingung, mau bersikap seperti apa sama kak Erlan, karena pernyataan cintanya semalam membuat gue sedikit canggung. Makannya gue pergi ke sekolah pagi-pagi sekali karena gue tidak mau bertemu sama kak Erlan." Sambung Disya sambil menatap sahabatnya Amanda.
"Ya kalau menurut gue sih ya, lo bersikap seperti biasa saja, Sya. Lo gak usah mikirin pernyataan cintanya yang semalam, anggap saja itu hanya sebuah mimpi dan lo harus melupakannya. Lagian kalau lo terus menghindari kak Erlan, itu tidak baik. Kita bersahabat sudah sangat lama, jangan sampai gara-gara kak Erlan cinta sama lo, persahabatan lo sama kak Erlan hancur." Nasehat Amanda seraya mengusap bahu sahabatnya tersebut.
"Gue juga berpikir begitu, Man. Tapi, sepertinya susah deh, tapi gue akan berusaha untuk bersikap biasa saja, karena gue sendiri tidak ingin persahabatan gue sama kak Erlan retak hanya gara-gara pernyataan cintanya semalam." Ucap Disya di iringi dengan helaan nafasnya.
Amanda tersenyum mendengar ucapan Disya barusan, jujur saja ia juga tidak ingin melihat persahabatan Erlan dan Disya renggang hanya gara-gara cinta.
Bersambung.
__ADS_1