
Disya terlihat merogoh ponsel yang berada di dalam tas kecil miliknya. Ia mulai menyalakan ponsel itu dan melihat beberapa pesan yang di kirim oleh Erlan. Disya menghela nafasnya, kemudian ia pun langsung membuka pesan itu dan membacanya dalam hati.
Kak Erlan.
Kamu dimana? Tante Mita bilang kamu lagi keluar sama Amanda? Kasih tempatnya biar aku kesana sekarang.
Begitulah isi pesan yang di kirimkan oleh Erlan kepada Disya, membuat gadis itu kembali menghela nafasnya dengan kasar. "Buat apa aku kasih tahu dia, nanti yang ada mood gue ancur lagi." Batin Disya seraya menaruh kembali ponsel itu ke dalam tas kecil miliknya.
Beberapa saat kemudian, Amanda pun datang dengan sebuah nampan yang berisikan makanan dan juga jus yang mereka pesan. "Nih pesanan lo." Ucap Amanda seraya menyodorkan makanan kepada sahabatnya tersebut.
Disya tersenyum senang, ia pun mengambil makanan itu, kemudian ia berkata. "Tengkyu baby, lo memang sahabat terbaik gue."
"Baru nyadar kalau gue itu baik, hmmm." Ucap Amanda sebelum ia menyantap makanannya dan memasukan makanan itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Iya, gue baru sadar kalau lo itu sahabat yang paling baik sedunia, lain kali kalau gue mau pesen apa-apa, tinggal manggil lo aja deh. Biar gue gak capek." Sahut Disya membuat Amanda seketika memberikan tatapan matanya yang kesal.
"Dih nyebelin banget sih. Itu namanya lo manfaatin kebaikan gue. Ogah banget gue. Mending lo gak usah muji gue baik deh, kalau ujung-ujungnya kebaikan gue ini di manfaatin sama lo." Ucap Amanda dengan raut wajahnya yang masih terlihat kesal namun terlihat sangat lucu di mata Disya, membuat Disya tertawa renyah.
"Di malah ketawa lagi, sadar sahabat gak punya hati." Sambung Amanda ketika ia melihat Disya menertawakan dirinya.
"Jangan ngambek, nanti lo tambah jelek, Man." Ucap Disya sembari memencet hidung mancung Manda gemas.
"Iya deh serah lo." Ucap Disya sembari meraih jus alpukatnya dan meneguknya secara perlahan.
Setelah itu keduanya pun kembali menyantap makanannya dengan tenang, hingga beberapa saat kemudian suara seorang laki-laki masuk ke dalam indera pendengaran kedua gadis muda itu.
"Hay, Gladys, hay Amanda. Wah sungguh sangat kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini." Ucap laki-laki itu sembari menatap Disya dan juga Amanda bergantian.
__ADS_1
Disya seketika menoleh ke arah laki-laki itu, begitupun juga dengan Amanda, kedua gadis itu tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada laki-laki tersebut.
"Hay kak Dimas yang paling ganteng. Wah ini benar-benar sebuah kebetulan yang luar biasa sekali bisa ketemu sama kak Dimas setelah satu tahun lamanya kita tidak bertemu. Apakah mungkin kita berjodoh?" Seru Amanda sambil memperlihatkan senyumannya yang manis membuat laki-laki bernama Dimas itu tersenyum. Dimas adalah kakak kelas Disya dan juga Amanda, namun setahun yang lalu Dimas memutuskan untuk pindah sekolah mengikuti ibunya tinggal di luar kota.
"Kak Dimas sama siapa kesini?" Tanya Disya sambil menatap Dimas, laki-laki yang memiliki wajah seperti orang bule itu.
"Sama temen, Sya. Mungkin sebentar lagi dia akan datang kesini." Sahut Dimas lembut. "Oh iya, apa gue boleh gabung sama kalian?" Tanya Dimas sambil menatap Disya dan Amanda bergantian.
"Tentu saja boleh kak. Silahkan duduk." Ucap Amanda antusias. Amanda memang memiliki sedikit perasaan kepada Dimas, di mata Amanda, Dimas adalah sosok laki-laki yang lembut dan juga penuh perhatian.
Dimas kembali tersenyum, ia pun mulai menarik kursi yang berada di samping Amanda membuat jantung Amanda langsung berdegup dengan sangat cepat.
Bersambung.
__ADS_1