
Erlan menatap Disya dari jarak yang sangat dekat, jika sedang kesal seperti itu, Disya terlihat sangat menggemaskan ternyata, ah kenapa Erlan baru menyadarinya sekarang? Bukankah ia selalu bersama Disya selama ini? Apalagi dia sudah jatuh hati sama Disya, bisa-bisanya ia tidak menyadari hal kecil seperti itu? Apakah mungkin karena ia selalu melihat Disya tersenyum dan ketika ia melihat Disya kesal, maka ia akan pergi? Ya, mungkin saja begitu.
"Gladisya.... " Ucapan Erlan tercekat di tenggorokkan ketika suara mama Mita terdengar di telinganya.
"Eh ada Erlan. Kok tumben sendirian, biasanya sama Aditia." Ucap mama Mita seraya berjalan dan duduk di atas sofa sebelah putrinya itu.
"Iya tante, Adit sedang pergi nganterin mamanya ke mall." Sahut Erlan sopan.
"Oh pantesan dia tidak ikut. Lalu, Amanda? Kenapa dia tidak maen kesini, biasanya kan kalian tuh kalau satu kesini, pasti tiga-tiganya kesini juga." Tutur mama Mita sambil menatap Erlan dan juga putrinya bergantian.
"Manda hari ini ada keluarga mamanya dari luar kota, jadinya dia tidak kesini." Disya menyahut sambil sesekali melirik ke arah sang mama.
"Oh begitu, pantas saja." mama Mita bergumam sembari mengambil kacang almond dari toplesnya. Lalu ia kembali menatap Erlan yang saat ini sedang menatap putri satu-satunya itu. "Erlan, kamu tidak haus? Mau tante suruh si b8bi biarkan minuman untukmu?" Tawar mama Mita membuat Erlan langsung mengalihkan pandangannya.
"Tidak perlu tante, aku kesini cuma pengen ngajak Disya keluar, bolehkan tan." Ucap Erlan sembari memperlihatkan senyumannya yang manis itu.
"Oh boleh dong, Er. Asal pulangnya jangan malam-malam ya. Tidak baik." Sahut mama Mita membuat Erlan langsung mengembangkan senyumannya.
"Siap tante." Ucap Erlan penuh semangat.
__ADS_1
"Sya, ayo kita pergi." Ajak Erlan membuat Disya langsung mengerutkan keningnya.
"Pergi kemana kak? Gue lagi males keluar." Ucap Disya sembari menatap Erlan.
"Sudah ayo ikut saja, nanti kamu juga akan tahu." Sahut Erlan penuh paksaan.
"Tapi kak... "
"Sayang, sudah sana ganti bajunya, sekali-kali kamu sama Erlan jalan berdua, biasanya kan kalian selalu berempat udah kayak prangko." Ucap mama Mita menyela ucapan putrinya tersebut.
Disya terlihat menghela nafasnya kasar, ia sangat kesal terhadap mamanya itu, sebenarnya siapa sih anaknya? Erlan atau Disya? Kenapa mama Mita selalu mendukung Erlan? Padahal Disya adalah putrinya sendiri. Sungguh menyebalkan sekali.
Mama Mita tersenyum senang, begitupun juga dengan Erlan, akhirnya ia bisa pergi berdua dengan Disya.
"Oh iya Er, sebentar lagi kamu kan lulus, rencananya kamu mau kuliah dimana?" Tanya mama Mita sembari menatap Erlan.
"Mungkin di luar negeri tante. Karena mama sama papa sudah menyiapkan semuanya, dan aku sebagai putra mereka hanya bisa menurut saja." Sahut Erlan di iringi dengan helaan nafasnya.
"Berarti, nanti kamu sama Disya akan berpisah lama." Ucap mama Mita yang mendapat anggukkan kepala dari Erlan. "Padahal tante berharap kalian akan selalu bersama-sama selamanya." Sambung mama Mita terlihat sedikit kecewa ketika mendengar Erlan akan kuliah di luar negeri.
__ADS_1
"Aku pun berharap begitu tante, tapi apa boleh buat, di sisi lain aku juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tua ku, tapi di sisi lain juga aku tidak ingin berpisah dengan Disya. Aku sendiri merasa gelisah tan, aku takut jika aku pergi, Disya akan melupakan aku dan berkencan dengan laki-laki lain. Dengan membayangkannya saja sudah membuatku kesal seperti ini." Ucap Erlan dengan jujur membuat mama Mita tersenyum.
Mama Mita jadi semakin yakin jika pemuda tampan satu itu memang benar-benar sudah jatuh hati sama putrinya tersebut.
"Kamu menyukai putri tante?" Tanya mama Mita dengan tiba-tiba.
"Aku memang menyukai putri tante itu, tapi sepertinya dia tidak menyukaiku, tan." Sahut Erlan sejujur-jujurnya.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu Erlan? Bahkan kamu sendiri belum mengungkapkan isi hatimu terhadap Disya." Ucap mama Mita membuat Erlan tersenyum kecut.
"Aku masih ragu tan, aku takut jika aku mengungkapkan perasaanku kepada Disya, dan ternyata Disya tidak menyukaiku, itu pasti akan menghancurkan persahabatan kita dan Disya pasti akan menjaga jarak dengan aku, tan." Terang Erlan di iringi dengan helaan nafasnya kembali.
"Erlan, kalau kamu benar-benar mencintai putri tante, kamu harus memperjuangkan perasaanmu itu, ungkapkanlah sebelum terlambat, tidak perduli hasilnya seperti apa nanti, tapi yang jelas kamu sudah mengungkapkan perasaanmu terhadap Disya. Dan tante, adalah orang pertama yang akan mendukung hubunganmu dengan Disya, mengerti." Ucap mama Mita dengan tegas.
Erlan terlihat berpikir sejenak, sepertinya yang di ucapkan oleh mama Mita ada benarnya juga, ia harus mengungkapkan perasaannya kepada Disya, bagaimanapun hasilnya, itu urusan belakangan. Lagian bagi Erlan si laki-laki posesif bin pemaksa itu, tidak perduli Disya menyukainya atau tidak, dia tetap harus mendapatkannya. Apapun caranya, walau pun dengan cara paksa sekalipun, Disya harus menjadi miliknya.
"Tante benar, aku harus mengungkapkan perasaanku terhadap Disya. Aku tidak perduli hasilnya nanti, yang jelas Disya harus tahu perasaanku yang sebenarnya." Ucap Erlan dengan tatapan matanya yang serius membuat mama Mita kembali tersenyum.
Bersambung.
__ADS_1