Obsesi Cinta Sahabatku

Obsesi Cinta Sahabatku
Masih kesal


__ADS_3

Setelah menyelesaikan mandi paginya, Disya pun langsung bergegas menuju lemari pakaiannya. Ia mengambil kaos putih serta celana jeans yang biasa ia pakai ketika ia sedang pergi keluar. Disya segera memakai kaos dan juga celana itu, lalu setelah itu ia pun berjalan menuju lemari kaca tempat yang biasa ia gunakan untuk bercermin serta menyisir rambutnya yang panjang nan indah itu.


Disya mulai menyisir rambutnya yang panjang itu, lalu menguncir seperti biasanya. Setelah itu, Disya pun mulai memakai liptin yang biasa ia pakai ketika ia pergi bersama sahabatnya Amanda.


"Ok, selesai deh." Ucap Disya sembari tersenyum ketika melihat dirinya sendiri dari balik cermin itu.


"Sekarang tinggal turun ke bawah terus pergi buat hilangin stressku gara-gara pertunangan sialan itu." Disya kembali berucap sembari mengercutkan bibirnya kesal ketika ia mengingat pertunangannya dengan Erksn yang akan di adakan nanti malam.


Disya menarik nafasnya, lalu membuangnya secara perlahan, setelah itu ia pun berjalan menuju nakas dan mengambil tas serta ponselnya. Setelah itu Disya pun kembali berjalan menuju pintu kamarnya. Dengan segera Disya pun membuka pintu itu lalu keluar dan melangkahkan kedua kakinya menuruni anak tangganya satu persatu.

__ADS_1


Di bawah sana terlihat mama Mita sedang duduk di atas kursi sofa dan mengobrol dengan seseorang melalui ponsel genggamnya. Disya mendesah pelan, ia pun terus berjalan melewati sang mama membuat sang mama langsung menyudahi obrolannya dan meletakan ponselnya di atas meja.


"Disya, kamu mau kemana sayang? Kok sudah rapi?" Tanya mama Mita setengah berteriak membuat Disya langsung menghentikan langkah kakinya.


"Mau keluar sebentar." Jawab Disya masih terkesan datar dan cuek. Sepertinya gadis ini masih marah kepada mamanya itu.


"Kamu keluar sama siapa, sayang?" Tanya mama Mita penasaran.


"Oh yasudah kalau begitu, kamu hati-hati ya di jalan, ingat jangan pulang sore-sore karena nanti kamu harus bersiap-siap untuk acara pertunanganmu dengan Erlan." Ucap mama Mita mengingatkan kembali pertunangan putrinya dengan Erlan. Dan hal itu tentu saja membuat Disya kembali kesal.

__ADS_1


"Ya, aku tahu. Aku berangkat dulu." Sahut Disya dengan nada suaranya yang tidak berubah. Setelah itu Disya pun kembali melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan mama Mita yang hanya dapat menatap kepergiannya itu.


"Anak itu, sepertinya masih kesal karena pertunangannya dengan Erlan." Ucap pak Damar dengan tiba-tiba membuat mama Mita terkejut.


"Papa ngagetin mama saja." Seru mama Mita sembari menatap sang suami dengan kesal. "Papa benar, Disya sepertinya masih kesal, makannya mama membiarkan dia pergi, siapa tahu ketika dia pulang nanti, rasa kesalnya sudah menghilang." Sambung mama Mita sembari meraih majalah yang baru ia beli kemarin.


"Ya mungkin saja." Ucap pak Damar sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kursi sofa itu. "Lagian papa heran sama Disya, bisa-bianya dia tidak tertarik sama Erlan, padahalkan Erlan itu laki-laki yang baik, cerdas dan selalu melindungi Disya. Kenapa Disya sama sekali tidak ada ketertarikan sama Erlan. Benar-benar sangat aneh putrimu itu mah." Sambung pak Damar seraya memijit pelipisnya.


"Memangnya Disya bukan putri papa. Ada-ada saja papa ini." Omel mama Mita sembari membuka majalah yang berada di tangannya. Pak Damar hanya terdiam, ia tidak berniat untuk menjawab ucapan istrinya barusan, jika ia menjawabnya maka keduanya akan berdebat hanya gara-gara masalah yang sepele itu. Pak Damar mulai menyalakan laptop yang biasa ia pakai untuk bekerja. Ia mulai memeriksa email dari para kliennya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2