
"Nah gitu dong, baru namanya laki-laki sejati." Ucap mama Mita sembari mengambil kacang almond, dan memakannya kembali.
Erlan tersenyum tipis, laki-laki itu semakin yakin untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Disya, apalagi dia sudah mendapat dukungan penuh dari mama wanita yang di cintainya itu.
"Kalian sedang membicarakan apa? Kelihatannya serius sekali." Tanya Disya ketika ia sudah berada di hadapan mama Mita dan juga Erlan.
"Eh sayang, kamu sudah selesai? Kita cuma ngobrol biasa saja kok, tidak membicarakan apa-apa." Sahut mama Mita sambil memperlihatkan senyumannya itu kepada Disya.
"Yasudah kalian berangkat gih, hati-hati di jalan ya. Erlan jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, sangat berbahaya, mengerti." Sambung mama Mita yang di anggukki kepala oleh Erlan.
"Aku mengerti tante, yasudah aku sama Disya berangkat dulu ya, tan. Oh iya tante mau pesen apa, biar nanti pas pulang aku beliin." Tawar Erlan dengan serius.
"Tidak usah repot-repot, Er. Cukup kalian pulang dengan selamat aja tante udah seneng kok." Sahut mama Mita tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.
"Beneran tante tidak mau di beliin apa-apa?" Tanya Erlan yang mendapat gelengan keapala dari mama Mita.
"Sudahlah kak, kalau mama tidak mau, itu artinya tidak mau, tidak perlu di paksa, sebaiknya sekarang kita berangkat." Sahut Disya sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Mah, aku pergi dulu, ya." Pamit Disya sembari menghampiri sang mama dan mencium punggung tangan sang mama, begitu pun juga dengan Erlan.
"Ya, sayang kalian hati-hati di jalan, jangan malam-malam pulangnya. Oh iya Erlan ingat ucapan tante tadi ya, semangat empat lima." Ucap mama Mita sembari menepuk bahu Erlan membuat Erlan terkekeh pelan.
"Aku akan ingat tante, do'ain aku ya." Sahut Erlan yang mendapat anggukkan kepala dari mama Mita. Tentu saja hal itu membuat Disya penasaran, namun Disya memilih untuk pergi dan dia berniat untuk menanyakannya nanti saja kepada Erlan.
Setelah itu Erlan pun langsung melangkahkan kedua kakinya menyusul Disya yang sudah jalan duluan meninggalkan dirinya. Mama Mita menatap kepergian Erlan dan juga putrinya dengan seulas senyuman, ia berharap rencana Erlan untuk mengungkapkan perasaannya berjalan dengan lancar, dan putrinya itu mau menerima Erlan sebagai kekasihnya.
***
Saat ini Erlan dan juga Disya sudah berada di dalam mobil milik Erlan. Erlan terlihat sangat fokus dengan setir kemudinya, sementara Disya, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu dan sesekali melirik Erlan, sahabat posesifnya itu.
"Apa ada yang ingin kamu katakan?" Tanya Erlan ketika ia tidak sengaja menangkap basah Disya yang sedang menatap dirinya.
__ADS_1
"Emm iya." Sahut Disya singkat dan padat.
"Apa?" Tanya Erlan tetap fokus dengan setir kemudinya, namun sesekali ia melirik ke arah Disya.
"Tadi, apa yang kamu bicarakan sama mama? Kenapa pas kamu mau pergi, mama bilang, kamu harus inget ucapan mama dan mama juga memberikanmu semangat empat lima? Aku sangat penasaran." Ucap Disya dengan tatapan matanya yang tertuju pada laki-laki tampan itu.
Erlan nampak menghela nafasnya, ia kembali melirik ke arah Disya, lalu ia pun memberikan senyumannya kepada Disya. "Nanti kamu juga akan tahu sendiri, Sya." Sahut Erlan lembut.
"Lo main rahasia-rahasiaan sama gue kak? Nyebelin banget sih." Seru Disya kesal. Gadis itu memang selalu tidak sabaran, jika ia ingin mengetahuinya sekarang, itu artinya ia harus mengetahuinya sekarang juga.
"Jangan marah, nanti cepet tua." Ucap Erlan di iringi dengan kekehannya.
"Bodoamat." Sahut Disya masih bernada kesal.
"Kamu kalau marah jadi semakin cantik, Sya. Bikin aku gemas." Ucap Erlan membuat Disya seketika membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Baru kali ini ia mendengar pujian yang keluar dari mulut sahabat posesifnya itu, biasanya meskipun Disya berdandan sangat cantik, Erlan pasti akan mengatakannya jelek.
"Tumben banget lo kak muji gue cantik, ada angin apa nih?" Tanya Disya seraya mengernyitkan keningnya menatap Erlan dengan bingung.
"Ya, bukannya tidak boleh, tapi tidak biasanya lo muji gue cantik, biasanya juga li ngatain gue jelek." Ucap Disya masih dengan tatapan matanya yang tertuju pada wajah tampan sahabatnya itu.
"Bisa tidak, panggilannya di ganti jadi aku, kamu saja? Aku tidak suka mendengarnya." Bukannya menjawab Erlan justru protes dengan panggilan yang sering di ucapkan oleh Disya. Padahal biasanya juga dia tidak pernah protes. Lalu, mengapa dia sekarang malah protes, dasar aneh. Pikir Disya.
"Memangnya kenapa sih kak? Bukannya dari dulu juga gue udah biasa ya panggilannya gue, elo? Dan lo juga tidak pernah mempermasalahkannya kan? Lalu kenapa sekarang di permasalahin? Aneh banget."
"Gak usah banyak tanya, kalau aku bilang ganti, ya ganti. Jangan cerewet, mengerti." Ucap Erlan dengan tegas.
"Aneh banget lo."
"Gladysa!!!"
"Iya ok, gue bakalan ganti, puas." Seru Disya kembali di buat kesal oleh Erlan.
__ADS_1
Erlan tersenyum tipis, ia pun mengulurkan tangan kirinya dan mengusap lembut pucuk kepala Disya membuat Disya menatapnya dengan aneh.
"Ada apa sih sama dia? Kenapa sikapnya sangat aneh sekali? Apakah dia sedang di rasuki jin berhati baik? Atau jangan-jangan dia bukan kak Erlan lagi." Batin Disya bergidik ngeri ketika ia membayangkan jika laki-laki ini bukanlah Erlan, melainkan jin yang menyerupai sahabatnya itu.
"Lo bukan kak Erlan ya?" Tanya Disya dengan tiba-tiba. Erlan yang mendapat pertanyaan itu pun seketika mengerutkan keningnya, ia melirik sekilas ke arah Disya dengan lirikan penuh tanda tanya.
"Kalau kak Erlan, dia tidak mungkin bersikap seperti ini sama gue, lo pasti jin yang menyamar sebagai kak Erlan kan? Ayo jawab dengan jujur!" Sambung Disya sembari menatap Erlan penuh selidik.
"Dasar gadis bodoh!" Gumam Erlan di iringi dengan kekehannya.
"Hey! Kenapa malah ketawa? Jawab pertanyaanku barusan!" Seru Disya semakin yakin dengan tebakkannya yang sangat mustahil itu.
Erlan seketika menghentikan tawanya, ia kembali melirik Disya dengan lirikan yang tak seperti biasanya, membuat gadis itu terlihat ketakutan. "Kalau aku jin, memangnya kenapa? Apakah kamu takut?" Tanya Erlan sengaja merubah nada suaranya, nada suara yang baru pertama kali di dengar oleh Disya.
"Jadi bener tebakkan gue, dia,,, dia bukan kak Erlan. Ya Tuhan bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang." Batin Disya sambil menggenggam erat tali tas kecil miliknya.
"Kenapa kamu malah diam? Apakah kamu mulai takut sama jin yang tampan ini?" Tanya Erlan sembari menahan rasa ingin tawanya ketika melihat gadis itu ketakutan.
"Ti,,,, tidak... Gue cuma,,, cuma mau pulang. Turunkan gue di sini." pinta Disya dengan gugup, tentu saja dia merasa takut, toh yang ada di sampingnya itu bukanlah sahabatnya, melainkan jin yang menyamar sebagai sahabatnya. Pikir Disya.
"Mama aku mau pulang, tolong aku." Disya berteriak dalam hatinya. Gadis yang memiliki IQ di bawah rata-rata itu, benar-benar mengira jika laki-laki yang sedang mengemudikan kendaraan roda empat itu adalah jin.
Erlan yang tidak bisa menahan tawanya lagi pun seketika meledakkan tawanya sembari memukul setir kemudinya, Disya yang melihat hal itu pun semakin ketakutan, bahkan wajahnya terlihat sangat pucat dan kini ia tidak berani lagi menatap Erlan, karena itu sangat menakutkan bagi dirinya.
"Astaga, Disya,,,, Disya. Kamu kenapa bodoh banget sih, Sya. Mana ada jin yang menyamar jadi aku? Ya Tuhan... Kenapa kamu bisa se bodoh ini sih." Ucap Erlan sembari mengacak-acak rambut Disya.
"Jadi, lo ngerjain gue kak!" Seru Disya terlihat sangat kesal.
"Gak lucu tau gak." Sambung Disya sambil menepis tangan Erlan dengan kasar.
"Sialan,,,, gue di kerjain." Batin Disya sembari menatap ke luar jendela mobil itu. Sementara Erlan, ia masih saja tertawa semakin membuat Disya kesal setengah mati.
__ADS_1
Bersambung.