
Erlan terus menggenggam erat tangan Disya, pemuda tampan itu terlihat masih kesal karena sahabatnya itu sudah berani mengelebuhinya dan bertemu dengan pria lain.
Sementara itu Disya terus menbrontak berusaha untuk melepaskan genggaman tangan sahabat posesifnya itu.
"Lepasin tangan gue, Lan." Pinta Disya namun tidak di gubris oleh Erlan sama sekali. Erlan terus melangkahkan kedua kakinya menuju tempat tinggal Disya yang kebetulan tidak jauh dari jalanan yang saat ini sedang mereka lewati.
"Erlan, lepaskan tangan gue. Sampai kapan sih lo bersikap seperti ini sama gue." Teriak Disya membuat Erlan seketika menghentikan langkah kakinya dan menatap Disya dengan tajam.
"Lan, jangan berlebihanlah. Kasihan Disya." Ucap Aditia yang kini sudah berdiri di dekat Erlan dan juga Disya dengan nafas ngos-ngosan.
"Ckkk... Disya sudah berani bohongin kita, Dit. Dia bilang sedang tidur sama mamanya, nyatanya dia malah ketemuan sama laki-laki lain. Kalau kita pergi tadi, mungkin kita akan menunggu kedatangan dia kayak orang bego." Seru Erlan dengan nada suaranya yang dingin. Jujur saja alasan sebenarnya bukanlah itu, melainkan karena Disya berani berdekatan dengan laki-laki lain, dan itu membuat Erlan cemburu.
__ADS_1
"Haduh Disya,,,, Disya.. Lo juga ngapain sih pake bohong segala, kalau lo berkata jujur sama kita, Erlan juga tidak akan marah seperti ini." Ucap Aditia sambil menatap Disya. Jujur saja ia juga merasa sedikit kesal karena sahabat perempuannya itu telah membohongi dirinya. Benar yang di ucapkan Erlan barusan, jika dia dan Erlan pergi, maka dia akan menunggu kedatangan Disya seperti orang bego.
"Sudahlah sekarang lebih baik kita pulang saja yuk ke rumah Disya. Perut gue laper nih siapa tahu tante Mita masak makanan yang enak, biar gue bisa numpang makan sekalian." Ajak Aditia sambil cengengesan membuat Erlan kesal.
"Makan saja yang lo pikirin, dasar kambing!" Dengus Erlan kembali menarik tangan Disya, lalu melangkahkan kedua kakinya kembali.
"Hey cecunguk! Gue di tinggalin lagi." Teriak Aditia seraya mengejar sahabat dinginnya satu itu.
"Eh si ****** gue malah di cuekin. Dasar sahabat gak punya telinga." Gerutu Aditia sambil mempercepat langkah kakinya menyusul Erlan dan juga Disya yang kini sudah berada di pintu gerbang rumah Disya.
Erlan seketika melepaskan genggaman tangannya, lalu ia menatap Disya dengan tatapan matanya yang masih tajam itu. "Inget ucapan gue tadi. Jangan pernah bertemu lagi dengan laki-laki itu, atau gue bakalan membuat laki-laki itu lenyap dari muka bumi ini. Mengerti." Ucap Erlan dengan tegas.
__ADS_1
Disya tidak menyahut, ia terlalu kesal dengan keposesifan sahabatnya yang satu ini, sementara Aditia yang tidak sengaja mendengarnya pun langsung bersuara.
"Lo itu udah kayak sama pacar lo aja, Lan. Biarinlah Disya berhubungan ataupun bertemu dengan siapapun, asalkan laki-laki itu bukan laki-laki brengsek. Cukup kita mengawasinya dari jarak jauh saja. Kalau lo seperti ini terus, bisa-bisa Disya tidak akan mendapatkan pacar." Ucap Aditia yang mendapat tatapan tajam dari Erlan.
"Jangan menatap gue seperti itu, lagian yang gue omongin juga benerkan." Seru Aditia semakin mendapat tatapan mata yang tajam dari sahabat dinginnya itu.
"Sudahlah, jangan ngomong lagi. Sebaiknya kalian berdua pulang saja, gue mau istirahat, mood gue lagi hancur sekarang." Ucap Disya sambil melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam pintu gerbang rumahnya itu.
"Sya,,, gue kan mau numpang makan di rumah lo, kok lo malah ngusir gue sih." Aditia segera mengejar Disya dan masuk ke dalam pintu gerbang rumah sahabatnya itu, ia sama sekali tidak berniat untuk pulang, karena perutnya butuh bensin.
Sementara itu, Erlan terlihat menghela nafasnya kasar, kemudian ia mengusap wajahnya gusar. "Sialan! Sampai kapan gue harus mendam perasaan ini." Batin Erlan sembari melangkahkan kakinya pergi dari kediaman sahabatnya sekaligus wanita yang menjadi cinta pertamanya itu. Namun sayangnya sampai saat ini Erlan masih belum mengungkapkan perasaannya terhadap Disya, bahkan ia tidak ingin Disya ataupun kedua sahabatnya itu mengetahui perasaan Erlan yang sesungguhnya. Maka dari itu Erlan memutuskan untuk menerima Cantika sbagai kekasihnya, berharap Disya cemburu dan memintanya untuk putus. Namun sayangnya, ternyata Disya sama sekali tidak cemburu terhadap dirinya, itu artinya Disya memang benar-benar menganggap Erlan sebagai sahabatnya tidak lebih dari itu. Tapi Erlan tidak sadar jika sikapnya yang posesif itu membuat kedua sahabatnya merasa curiga terhadap dirinya. Sedangakan Disya, ia merasa kesal dan tidak nyaman.
__ADS_1
Bersambung.