Obsesi Cinta Sahabatku

Obsesi Cinta Sahabatku
Gadis itu Disya


__ADS_3

Erlan sudah tiba di kediamannya, ia berjalan dengan langkah kakinya yang panjang serta raut wajahnya yang di tekuk membuat mama Tania dan juga pak Putra saling melempar pandangannya satu sama lain ketika melihat raut wajah putra semata wayangnya itu.


"Ada apa dengan putramu, pah? Apakah dia sedang ada masalah?" Tanya mama Tania sembari menatap suaminya tersebut.


"Mama kok nanya sama papa sih, ya mana papa tahu mah, coba mama tanya sama anaknya langsung." Usul pak Putra seraya mengambil secangkir kopi hitam miliknya.


"Papa ini kan papanya Erlan, jadi seharusnya papa tahu apa yang terjadi sama Erlan pah." Ucap mama Tania membuat pak Putra langsung menghela nafasnya kasar.


"Mama juga kan mamanya Erlan, mama seharusnya tahu apa yang sedang di alami oleh Erlan saat ini, kenapa mama malah bertanya sama papa." Sahut pak Putra tidak mau kalah.


"Papa ini, selalu saja membalikkan ucapan mama, ah sudahlah mama malas ngomong sama papa, lebih baik mama pergi menanyakan langsung sama Erlan." Ucap mama Tania seraya bangkit dari atas kursi sofa dan berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju kamar Putra semata wayangnya itu.


Pak Putra hanya dapat menghela nafasnya saja, ia tidak lagi mengeluarkan suaranya, atau ia akan bertengkar dengan sang istri hanya gara-gara masalah sepele.


***


Di dalam kamar.


Erlan langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, matanya menatap langit-langit kamarnya, ingatannya kembali pada saat ia menyatakan perasaannya kepada Disya. Erlan menghela nafasnya kasar, ia pun mengusap wajahnya dengan gusar, hatinya benar-benar terasa tersiksa ketika ia mengingat ucapan Disya tadi.


(Maafin aku kak, aku tidak bisa menerima kamu sebagai kekasihku, karena selama ini aku menganggap kak Erlan hanya sebatas sahabat tidak lebih, aku harap kak Erlan mengerti.)


Ucapan itu selalu saja menghantui dirinya, meskipun ia sudah berjanji akan berusaha untuk mendapatkan cintanya Disya, namun tetap saja ia merasa gelisah, kecewa, sekaligus takut. Apalagi ketika ia mengingat bahwa ia sebentar lagi akan berpisah dengan Disya, tentu saja hal itu semakin membuat Erlan ketakutan. Takut jika gadis itu bertemu dengan laki-laki lain, dan takut jika gadis itu jatuh cinta sama laki-laki lain.

__ADS_1


"Aaaarghhh sial! Kenapa gue jadi seperti ini sih? Tenanglah Erlan, tenang. Lo harus yakin bahwa lo pasti bisa mendapatkan Disya dan memiliki Disya. Hilangkan semua rasa takut lo itu, lo harus yakin dengan diri lo sendiri, Erlan." Erlan terus berusaha untuk meyakinkan dirinya kembali dan mengusir rasa takut yang selalu saja menghantui dirinya itu.


"Satu bulan lagi, Erlan. Ya masih ada waktu satu bulan lagi. Lo harus bisa mendapatkannya, apapun caranya lo harus mendapatkannya, Erlan." Erlan kembali berkata sembari mengepalkan kedua tangannya kuat. Kini ia kembali di selimuti oleh rasa percaya dirinya yang tinggi. Tidak perduli apapun caranya, bagaimanapun akhirnya, Erlan harus mendapatkan gadis itu.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu membuat Erlan kembali tersadar, ia pun kemudian bangkit dari atas tempat tidurnya lalu berjalan menuju pintu kamarnya tersebut. Dengan perlahan Erlan meraih knop pintu itu lalu membukanya.


"Erlan, apa kamu baik-baik saja?" Tanya sang mama sambil menatap Erlan khawatir.


"Ya, aku baik-baik saja kok mah. Memangnya kenapa?" Erlan berbalik nanya sambil berusaha untuk menampilkan raut wajah seperti biasanya.


"Kamu tidak sedang membohongi mama kan? Karena mama lihat waktu kamu masuk tadi, wajahmu di tekuk seperti sedang ada masalah." Mama Tania menarik nafasnya dalam lalu membuangnya secara perlahan.


"Sayang, kalau kamu ada masalah, kamu cerita sama mama. Mama tidak ingin kamu menyimpan masalahmu sendirian." Sambung mama Tania sembari menatap putranya lekat.


"Sebaiknya kita bicara sambil duduk ya sayang." Ajak mama Tania seraya mengusap bahu putranya tersebut. Erlan hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu setelah itu keduanya pun mulai berjalan menuju sofa yang ada di kamar Erlan.


"Erlan, apapun masalahmu, entah itu tentang percitnaanmu ataupun yang lainnya, kamu tetap harus menceritakannya sama mama, mengerti." Ucap mama Tania ketika mereka sudah duduk di atas kursi sofa itu.


"Aku mengerti mah." Sahut Erlan pelan. Meskipun ia terlihat dingin ketika ia berada di sekolah ataupun di luar rumah, namun ketika ia berada di dalam rumah dan berhadapan dengan sang mama, sikap dinginnya itu akan berubah menjadi hangat. Bahkan nada suaranya pun akan berubah menjadi lembut.


"Jadi, siapa wanita yang sudah membuatmu patah hati itu?" Tanya mama Tania sambil menatap Erlan. Ia sangat penasaran gadis mana yang sudah bisa membuat putranya itu patah hati.

__ADS_1


"Aku tidak patah hati mah, hanya saja aku merasa kecewa saja sama gadis itu, karena dia sudah menolak perasaanku." Ucap Erlan membuat mama Tania terkekeh pelan.


"Sama saja, Erlan. Intinya kamu di tolak sama gadis itu kan? Dan itu artinya kamu sedang patah hati saat ini." Mama Tania mengusap bahu putra semata wayangnya itu, kemudian ia kembali bersuara. "Jadi, siapa gadis itu? Apakah mama mengenalnya?" Tanya mama Tania masih penasaran dengan gadis yang sudah menolak perasaan putranya tersebut. Padahal menurut mama Tania, putranya itu sangat sempurna, dan sepertinya banyak gadis-gadis cantik yang mengejar dan ingin mendapatkan cinta putranya itu, namun gadis ini malah menolaknya. Sungguh gadis yang luar biasa.


"Disya mah." Sahut Erlan jujur. Dan tentu saja hal itu membuat mama Tania terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka jika putranya itu jatuh cinta pada Disya, gadis cantik yang selama ini menjadi sahabat putranya sendiri.


"Disya? Sahabatmu itu?" Tanya mama Tania ingin memastikan bahwa pendengarannya masih normal.


"Iya, mah. Siapa lagi kalau bukan dia." Ucap Erlan sembari menatap mamanya itu sedikit kesal.


"Astaga sayang.... Mama tidak menyangka jika kamu menyukai sahabatmu sendiri. Pantas saja setiap Disya datang kemari wajahmu selalu berbinar, bahkan mama dengar kamu selalu posesif terhadap sahabatmu itu. Rupanya kamu menyukainya." Ucap mama Tania sambil menepuk-nepuk bahu putranya tersebut.


"Sayang, kalau Disya tidak menerima perasaanmu sekarang, kamu jangan sedih ataupun kecewa, mungkin saja dia masih merasa terkejut dengan pengakuanmu yang tiba-tiba itu. Jangankan Disya, mama saja merasa terkejut. Dengerin mama ya, masih banyak waktu untuk kamu mendapatkan cintanya Disya, jadi jangan menyerah dan terus berusaha ok." Sambung mama Tania memberikan putra semata wayangnya itu semangat.


"Iya, mah. Terima kasih atas dukungan mama, tapi aku tetap saja merasa takut mah." Erlan kembali menghela nafasnya sembari mengusap wajahnya gusar.


"Takut apalagi Erlan?" Tanya mama Tania tanpa melepaskan tatapan matanya dari wajah putranya tersebut.


"Mah, sebentar lagi kan aku lulus sekolah, dan sebentar lagi aku bakalan berpisah dengan Disya. Aku takut jika aku jauh dari dia, dia bakalan bertemu dengan laki-laki lain dan jatuh cinta sama laki-laki itu. Aku.... "


"Erlan... Dengerin mama ya. Meskipun kalian terpisah, jika kalian memang berjodoh, maka kalian pasti akan di satukan kembali. Dan sekalipun Disya bertemu dengan laki-laki lain, tapi jika dia memiliki perasaan yang sama denganmu, Disya pasti tidak akan melupakanmu dan dia tidak akan jatuh cinta pada laki-laki itu. Jadi, berpikir positiflah, agar hati kamu tenang. Serahkan semuanya sama Tuhan." Ucap sang mama menyela ucapannya Erlan.


"Yasudah sekarang kamu istirahat ya, mama juga mau istirahat, kamu jangan memikirkan masalah ini lagi, karena itu akan membuatmu sakit sendiri. Percaya sama mama, suatu saat nanti hati Disya pasti akan menerimamu dan mencintaimu." Sambung mama Tania kembali menepuk bahu putranya tersebut. Lalu setelah itu mama Tania pun langsung beranjak berdiri dari atas kursi sofa itu, kemudian mama Tania pun mulai melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan putra semata wayangnya tersebut

__ADS_1


Bersambung.


Buat yang tidak menyukai cerita ini, silahkan di skip ya. Dan terima kasih untuk kalian yang sudah hadir di ceritaku๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2