
Jam istirahat.
Seperti biasanya, Disya, Amanda, Erlan dan juga Aditia akan duduk satu meja di kantin sekolahan. Keempat sahabat itu sedang memakan bakso yang mereka pesan tadi. Amanda sesekali menatap Disya, ia sebenarnya ingin bertanya tentang pertemuan Disya dengan Dino kemarin sore. Apakah berjalan dengan lancar? Tapi sayangnya di sana ada Erlan, sahabat posesif Disya.
"Ada apa lo natap gue terus? Gue cantik? Ya memang gue cantik kok dari orok." Ucap Disya yang menyadari sahabatnya itu menatap dirinya.
"Dasar Markonah! Tingkat kepedeannya mengalahkan monas." Seru Amanda yang hanya mendapat gedikkan bahu dari sahabatnya itu.
"Gue ke toilet dulu." Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu oleh Amanda pun datang juga. Erlan sahabat posesif Disya itu berpamitan untuk pergi ke toilet.
"Tunggu, Lan. Gue juga mau ke toilet." Ucap si Aditia sembari bangkit dari tempat duduknya. Lalu berjalan mengejar Erlan yang sudah lebih dulu bangkit dari kursinya dan pergi melangkahkan kedua kakinya menuju toilet sekolahan.
"Yes!!! Akhirnya mereka pergi juga." Ucap Amanda terlihat senang membuat Disya langsung mengernyitkan keningnya bingung.
"Kenapa lo? Kayak seneng begitu?" Tanya Disya sambil menatap Amanda penuh dengan tanda tanya.
"Iya, Sya. Gue kan pengen nanyain tentang pertemuan lo dengan Dino kemarin sore. Bagaimana, apakah berjalan dengan lancar? Apakah Dino menembak lo? Lo terima gak? Terus cara dia nembak lo romantis gak? Aaah gue benar-benar sangat penasaran, daritadi gue tuh pengen nanyain ini sama lo, tapi ada si kak Erlan yang posesif itu, terus pas di kelas juga gue gak ada kesempatan buat nanya ke elo." Cerocos Amanda terlihat sangat antusias ingin mendengar cerita Disya tentang pertemuannya dengan Dino.
Sementara itu Disya nampak menghela nafasnya kasar, ia meraih jus jeruk miliknya, lalu meneguknya perlahan. Kemudian setelah ia pun menarik nafasnya dalam, dan mengeluarkannya perlahan.
"Gagal total." Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Disya membuat Amanda langsung mengernyitkan keningnya.
"Gagal total? Maksud lo Sya?" Tanya Amanda penasaran.
"Iya gagal total, Manda. Tahu gak lo, kemarin waktu gue lagi ngobrol sama Dino di cafe, tiba-tiba saja kak Erlan datang menghancurkan semuanya. Bahkan lebih gilanya lagi, kak Erlan bilang sama si Dino kalau dia itu pacar gue." Terang Disya membuat Amanda terkejut.
__ADS_1
"What? Lo seriusan Sya? Kak Erlan mengakui dirinya sebagai pacar lo di depan Dino?" Tanya Amanda yang mendapat anggukkan kepala dari Disya. "Astaga... Kenapa kak Erlan melakukan itu? Apakah dia itu gila? Gue gak ngerti deh Sya sama kak Erlan, perasaan dia itu sedari dulu selalu saja menghalangi setiap lo mau berdekatan dengan laki-laki. Apa mungkin kak Erlan jatuh cinta sama lo?" Sambung Amanda yang mendapat toyoran dari Disya.
"Ngaco aja kalau ngomong! Kalau kak Erlan jatuh cinta sama gue, dia tidak mungkin pacaran sama kak Cantika. Lagian kak Erlan tuh ngelakuin itu karena dia ingin melindungi gue dari laki-laki brengsek. Katanya dia sih tapi entahlah, menurut gue dia itu udah keterlaluan banget. Dia itu selalu saja menggagalkan rencana gue buat dapetin pacar. Nyebelin banget gak sih." Ucap Disya kembali meminum jus jeruk, namun bukan miliknya melainkan milik Amanda, sahabatnya itu.
"Nyebelin sih nyebelin, tapi jus jeruk gue jangan di embat juga kali." Sahut Amanda membuat Disya tersenyum cengengesan.
"Tapi Sya. Kenapa gue merasa kalau kak Erlan itu memang ada perasaan sama lo ya? Soalnya seinget gue, kak Erlan bersikap posesif begitu cuma sama lo doang. Buktinya pas gue di deketi cowok, dia biasa-biasa saja tuh, gak ada dia larang gue ataupun menyuruh cowok itu buat jauhin gue, dia cuma bilang kalau gue itu harus berhati-hati sama cowok itu, udah gitu doang. Beda sama yang dia lakuin terhadap lo." Ucap Amanda ketika ia mengingat masa dulu saat dirinya di dekati oleh kakak kelasnya. Erlan memang tidak bersikap posesif, dia hanya menasehati agar Amanda lebih berhati-hati lagi jika berdekatan dengan laki-laki.
"Tahu ah, gue pusing bahas ini terus. Sebaiknya kita cabut yuk, lima belas menit lagi bel masuk." Sahut Disya yang tidak ingin membahas tentang sahabat posesifnya itu.
"Tapi kak Erlan sama kak Aditia masih di toilet, Sya. Nanti mereka bakalan marah kalau kita tinggalin begitu saja." Ucap Amanda membuat Disya langsung menghela nafasnya kasar.
"Kirim pesan aja... " Ucapan Disya tercekat di tenggorokkan ketika suara seorang perempuan terdengar di telinganya.
"Eh kak Cantika. Iya tadi kita memang duduk sama kak Erlan, sama kak Adit juga kak, tapi mereka lagi ke toilet tuh." Sahut Amanda sambil memperlihatkan senyumannya kepada Cantika.
"Oh lagi ke toilet. Emm gue boleh gabung duduk sama kalian gak, sekalian nungguin Erlan." Ucap Cantika yang mendapat anggukkan kepala dari Disya dan juga Amanda.
"Thanks, ya." Sambung Cantika seraya duduk di kursi yang berada di hadapan Disya.
"Iya kak." Sahut Amanda dan juga Disya berbarengan.
"Kak Cantika kan satu kelas sama kak Erlan, kenapa tidak istirahat bareng?" Tanya Amanda mulai kepo. Erlan dan Cantika memang sekelas, namun ketika istirahat mereka jarang sekali pergi ke kantin bareng, padahal mereka sepasang kekasih. Sangat aneh bukan.
"Tadi gue nganterin tugas dulu ke ruang guru, jadinya gue di tinggalin deh sama Erlan." Sahut Cantika seraya menatap Disya dan juga Amanda bergantian.
__ADS_1
"Oh begitu, pantas saja sih." Ucap Amanda sembari mengambil jus jeruknya yang tinggal sedikit lagi karena di minum oleh Disya sahabatnya.
"Iya, eeh kalian mau pesan makanan lagi gak? Biar gue traktir." Tawar Cantika membuat kedua bola mata Amanda berbinar.
"Seriusan, kak?" Tanya Amanda antusias.
"Iya serius. Pesen aja apa yang ingin lo pesen, ok." Ucap Cantika semakin membuat senyuman di wajah Amanda mengembang.
"Yes!!! Kalau begitu aku pergi pesen dulu ya kak, tapi beneran lo kak Cantika yang traktir." Seru Amanda yang mendapat anggukkan kepala dari Cantika. Setelah itu Amanda pun langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Sya lo mau pesen gak? Kak Cantika mau traktir tuh." Tanya Amanda kepada Disya.
"Gue udah kenyang, lo aja deh yang pesen." Sahut Disya sambil menatap sahabatnya itu.
"Baiklah, gue tinggal dulu ya." Ucap Amanda yang mendapat anggukkan kepala dari Disya. Setelah itu Amanda pun langsung pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Disya dan juga Cantika berduaan.
"Erlan sangat posesif banget ya sama lo. Gue jadi iri deh." Ucap Cantika dengan tiba-tiba membuat Disya langsung menatap ke arahnya.
"Kenapa harus iri kak? Kan kak Cantika pacarnya kak Erlan, sudah pasti dia lebih posesif sama kakak dong daripada aku." Sahut Disya membuat Cantika tersenyum kecut.
"Lo salah, Dis. Erlan itu cuma posesif sama lo doang, dia cuma perhatian sama lo doang, yang ada di pikiran dia itu ya cuma lo doang. Gue merasa kalau lo itu sangat-sangat berarti dan spesial dalam kehidupan dia. Gue gak tahu kenapa dia bisa jadi pacar gue, sementara yang ada di pikiran dia itu cewek lain." Ucap Cantika di iringi dengan helaan nafasnya.
Disya nampak terdiam dengan tatapan mata yang tertuju pada Cantika, gadis cantik yang menjadi pacar dari sahabatnya itu terlihat sedih, bahkan cara bicaranya saja sangat sendu.
Bersambung.
__ADS_1