
Kediaman Disya.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Disya dan juga Erlan baru saja tiba di kediaman orangtua Disya. Dengan segera Erlan pun memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang cukup besar itu. Sementara Disya, ia langsung melepaskan seatbeltnya dan meraih pintu mobil itu, lalu membukanya dengan segera.
Disya langsung turun dari dalam mobil tersebut, kemudian ia melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Erlan yang saat ini sedang menghela nafasnya dengan kasar.
"Meskipun lo menganggap gue hanya sebatas sahabat, tapi gue tidak akan menyerah Disya, gue pasti bisa mendapatkan cinta lo. Gue yakin itu." Batin Erlan sembari melepaskan seatbeltnya, kemudian ia pun meraih pintu mobil lalu turun. Lagi-lagi Erlan menghela nafasnya kasar sebelum ia melangkahkan kedua kakinya memasuki kediaman orangtua gadis yang di cintainya itu.
***
Di dalam rumah.
"Sayang, kamu baru pulang? Kok sendirian? Erlan nya mana?" Tanya mama Mita ketika melihat putrinya yang hanya pulang seorang diri.
"Di depan mah, aku ke kamar dulu mau istirahat." Sahut Disya sambil menghentikan langkah kakinya sejenak.
__ADS_1
"Kok di tinggalin sih, Sya. Bukannya ajak sekalian masuk ke dalam." Ucap mama Mita sembari menatap putri satu-satunya itu.
"Dia bisa jalan sendiri mah, sudahlah aku mau istirahat capek." Disya menyahut dengan nada suaranya yang sedikit kesal, lalu setelau itu Disya pun kembali melangkahkan kedua kakinya meninggalkan sang mama.
"Anak ini, ada apa lagi sih? Kenapa dia kelihatannya kesal sekali? Sudahlah sebaiknya aku menanyakannya sama Erlan." Gumam mama Mita seraya meraih secangkir teh hangat miliknya, lalu meneguknya secara perlahan sambil menunggu kedatangan calon mantu idamannya itu.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Erlan pun muncul dengan wajahnya yang tampak lesu. Mama Mita yang melihatnya pun langsung tersenyum. "Erlan, tante kira kamu tidak akan masuk dulu." Ucap mama Mita membuat pemuda tampan itu tersenyum tipis.
"Sini duduk dekat tante, Lan." Pinta mama Mita sambil menepuk kursi sofa yang berada di sampingnya. Erlan hanya menganggukkan kepalanya saja, lalu setelah itu ia pun berjalan dan duduk di kursi sofa itu.
"Ini aku belikan makanan untuk tante." Ucap Erlan sambil menyerahkan paper bag berisikan makanan cepat saji yang sengaja ia beli tadi sebelum pulang.
"Iya tante sama-sama." Sahut Erlan lembut.
"Oh iya bagaimana rencanamu, apakah berjalan lancar? Lalu, apakah Disya menerima cinta kamu?" Tanya mama Mita tidak sabaran.
__ADS_1
Erlan menghela nafasnya kasar, wajahnya kini mulai berubah membuat mama Mita langsung mengernyitkan keningnya bingung.
"Aku sudah mengungkapkan perasaanku, tan. Tapi di tolak." Sahut Erlan sambil tersenyum kecut.
"Disya hanya menganggapku sebagai sahabatnya saja tidak lebih." Sambung Erlan di iringi dengan helaan nafasnya.
"Sudah kamu jangan bersedih lagi. Karena masih banyak waktu untuk mendapatkan cinta putri tante itu, mungkin saja hari ini Disya menolak cinta kamu, tapi besok atau lusa siapa tahu dia berubah pikiran. Bukankah cinta itu datang dengan tiba-tiba? Jadi percaya sama tante, cepat atau lambat Disya pasti jatuh cinta sama kamu." Ucap mama Mita sembari mengusap punggung Erlan dengan lembut, mencoba untuk meyakinkan Erlan jika putrinya bakalan jatuh cinta kepadanya.
Erlan kembali tersenyum sembari menatap mama Mita dengan tatapan matanya yang terlihat sangat serius. "Terima kasih tante atas dukungan tante. Aku akan berusaha untuk mendapatkan cinta putri tante itu, dan aku percaya dengan apa yang tante ucapkan barusan, cepat atau lambat Disya pasti jatuh cinta sama aku."
"Nah gitu dong. Jadi, jangan sedih-sedih lagi ya, waktu masih panjang, Lan. Gunakan kesempatan itu untuk mendapatkan cintanya Disya. Ok." Ucap mama Mita sambil memperlihatkan senyuman di wajahnya.
Erlan menganggukkan kepalanya, tak lupa senyumannya yang tampan kini mulai tersungging dari sudut bibirnya itu. "Siap tante. Kalau begitu aku permisi pulang dulu, tante. Sekali lagi terima kasih atas dukungan tante." Erlan mulai beranjak dari atas kursi sofa itu, lalu ia pun mencium punggung tangan mama Mita untuk berpamitan pulang.
"Sama-sama, Erlan. Hati-hati ya di jalan, salam untuk mama kamu di rumah." Ucap mama Mita yang mendapat anggukkan kepala dari Erlan. Setelah itu Erlan pun langsung bergegas melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan mama Mita yang saat ini sedang menatap kepergiannya.
__ADS_1
"Disya,,, Disya... Laki-laki seperti apa yang kamu cari nak. Padahal Erlan itu laki-laki yang sangat sempurna, meskipun usianya masih muda, tapi dia tipe laki-laki yang setia dan bisa melindungi kamu, Sya. Mama yakin cinta Erlan terhadap kamu bukanlah hanya sekedar cinta monyet saja. Percaya itu Sya." Ucap mama Mita sembari menghela nafasnya panjang.
Bersambung.