
Kediaman Mahesa.
Erlan berjalan menuruni anak tangganya satu persatu, ia terlihat sudah rapi dengan baju kemejanya berwarna hitam dengan kedua lengannya di gulung hingga siku, rambutnya di sisir rapi, sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Perlahan langkah kaki Erlan terhenti ketika ia di cegat oleh sang mama yang juga terlihat sudah sangat rapi dan cantik.
Mama Tania tersenyum sembari menatap Erlan dari ujung kaki hingga ujung kepala, Erlan yang di tatap seperti itu pun merasa tidak nyaman dan segera bertanya sang mama.
"Mama, kenapa sih, natap aku seperti itu? Ada yang salah dengan penampilanku?" Tanya Erlan sedikit kesal karena sang mama terus saja menatapnya dengan tatapan yang menilai.
"Tidak ada yang salah sama penampilanmu, Erlan. Tapi mama merasa sangat pangling melihat kamu yang berpenampilan seperti ini. Kamu sangat tampan sekali." Puji mama Tania membuat Erlan sedikit malu dan salah tingkah.
"Ekhmm.... Mama berlebihan, biasanya juga aku seperti ini." Sahut Erlan tetap stay dengan ekpresi seperti biasanya.
"Mama tidak berlebihan sayang, memang begitu kok kenyataannya. Kamu mau kemana sih, Er. Ah mama tahu, kamu pasti mau ke tempat Disya ya?" Tebak mama Tania membuat Erlan langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Ah mamanya ini memang pintar dalam hal tebak menebak. Erlan jadi malukan.
"Emmm, iya mah. Yasudah aku pamit dulu ya." Sahut Erlan dengan cepat ia pun langsung menarik tangan kanan sang mama dan menciumnya, setelah itu Erlan pun kembali melangkahkan kedua kakinya berniat untuk meninggalkan sang mama, namun niatnya terhenti ketika suara seorang laki-laki yang ia kenal masuk ke dalam indera pendengarannya.
__ADS_1
"Woy, Lan. Tungguin gue lah, gue juga mau ikut ke rumahnya Disya." Teriak si laki-laki itu yang tak lain adalah Aditya, sahabat pengganggu Erlan.
Erlan mendengus kesal, ia berbalik dan menatap tajam ke arah Aditya yang saat ini sedang berjalan menghampiri dirinya dan juga mama Tania.
"Sejak kapan si kutukupret itu ada di sini?" Tanya Erlan kepada sang mama.
"Belum lama kok, Er. Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu." Jawab mama Tania seraya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan itu. "Yasudah mama mau pergi dulu sama tante Mita, kamu jangan kesal begitu dong. Nanti tampan kamu hilang loh." Sambung mama Tania seraya mengusap wajah putra semata wayangnya itu. Kemudian mama Tania menatap Aditya. "Adit, tante pergi dulu ya, kalau kamu mau ikut ke rumah Disya, nanti disana kamu jangan ganggu sahabatmu ini ya, biarkan dia menghabiskan waktunya bersama Disya. Biar dia gak kesal lagi." Nasehat mama Tania kepada Adit, membuat Adit sedikit bingung, namun ia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.
Mama Tania tersenyum, lalu setelah itu ia pun mulai melangkahkan kedua kakinya meninggalkan putra dan juga Aditya yang saat ini sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ckkk... Sudahlah lo jangan di pikirin ucapan nyokap gue, sebaiknya kita pergi sekarang." Sahut Erlan dengan nada suaranya yang terdengar kesal membuat Aditya semakin bingung.
"Kenapa suara lo terdengar kesal begitu? Memangnya gue buat kesalahan apa sama lo?" Tanya Aditya sembari mengikuti langkah kaki Erlan dari belakang.
"Karena lo sudah mengganggu gue, dasar kutukupret." Batin Erlan sembari mempercepat langkah kakinya itu. Erlan sama sekali tidak membalas ucapan Aditya barusan, ia terlalu malas untuk menjawabnya atau si kutukupret itu akan terus bertanya-tanya.
__ADS_1
"Tapi gue juga heran sama lo, Lan. Penampilan lo saat ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Li kelihatan lebih ganteng, lebih dewasa, ah gue tahu, lo pasti mau menggaet wanita-wanita cantik di luaran sana kan." Ucap Aditya kembali sambil menyunggingkan senyumannya.
"Terserah lo." Ketus Erlan seraya membuka pintu mobilnya.
"Ckkk.... Nih bocah kenapa sih? Dari tadi perasaan nada suaranya kesal begitu, apa ada yang salah sama otaknya?" Gumam Aditya sembari menatap Erlan yang kini sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Lo mau bareng apa jalan kaki?" Tanya Erlan ketika melihat Aditya yang hanya berdiri sambil menatap dirinya.
"Ya barenglah, gue kan gak bawa motor kesini. Lagian masa lo tega membiarkan gue jalan kaki... "
"Cepetan naik, jangan sampai gue tinggal." Ucap Erlan menyela ucapan Aditya. Aditya mendengus kesal, ia pun segera berjalan dan membuka pintu mobil sahabatnya tersebut. Aditya segera masuk, dan duduk dengan manis di kursi penumpang, tak lupa ia juga memasang seatbeltnya.
"Gue sudah masuk. Cepetan berangkat." Perintah Aditya seperti bos saja.
Erlan hanya memberikan tatapan matanya yang tajam, setelah itu ia pun mulai melajukan kendaraan roda empatnya itu menuju kediaman Wijaya.
__ADS_1
Bersambung.