
Kediaman Wijaya.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Disya baru saja keluar dari kamarnya, dan berjaoan menuruni anak tangganya satu persatu-satu. Terlihat Mama Mita sudah duduk manis di atas sofa sembari menikmati secangkir teh melati kesukaannya. Disya langsung berjalan menghampiri sang mama dan menjatuhkan bokongnya di samping sang mama.
"Putri cantik mama sudah bangun ternyata. Sana gih sarapan dulu." Ujar mama Mita seraya mengusap lembut pucuk kepala putrinya itu.
"Emm, sebentar lagi mah." Sahut Disya malas.
"Sudah jam delapan sayang, isi dulu perutmu biar tidak masuk angin." Titah sang mama dengan nada suaranya yang lembut.
"Iya. Mama bawel deh." Sahut Disya sambil bangkit dari atas kursi sofa itu.
"Bukannya bawel sayang, tapi mama itu tidak ingin kamu sakit." Ucap sang mama sembari menaruh secangkir teh melati itu di atas meja. "Oh iya, nanti setelah kamu sarapan, mama ingin berbicara sama kamu." Sambung mama Mita membuat Disya langsung menatap sang mama dengan penuh tanda tanya.
"Tentang apa mah?" Tanya Disya penasaran.
"Sudah nanti saja mama beritahu kamunya. Sekarang kamu pergi sarapan dulu sana." Sahut mama Mita dengan seulas senyuman penuh arti. Disya hanya mendesah pelan, lalu setelah itu ia pun mulai melangkahkan kedua kakinya menuju ruang makan.
***
Setelah sarapannya selesai, Disya pun kembali melangkahkan kedua kakinya menuju ruang keluarga, disana sang mama masih terlihat santai sambil membaca majalah. Disya segera menghampiri sang mama dan duduk di samping sang mama.
"Sudah selesai sayang?" Tanya mama Mita seraya menaruh majalah itu di atas meja.
__ADS_1
Disya menganggukkan kepalanya, lalu ia menatap sang mama. "Jadi, apa yang ingin mama bicarakan sama aku tadi?" Tanya Disya dengan tidak sabaran.
Mama Mita tersenyum, ia pun mengusap lembur punggung putrinya tersebut. "Mama mau nanya bagaimana hubunganmu dengan Erlan? Apakah ada kemajuan?" Tanya mama Mita sama persis dengan pertanyaan yang di lontarkan mama Tania kepada putra semata wayangnya itu.
Disya langsung mengernyitkan keningnya bingung, tidak biasanya sang mama menanyakan hubungannya dengan Erlan, padahal sang mama tahu, jika hubungannya dengan Erlan baik-baik saja seperti biasanya.
"Maksud dari pertanyaan mama, mungkin bagaimana hubungan persahabatanku dengan kak Erlan begitu ya?" Disya berbalik nanya dengan bingung.
"Bukan sayang, tapi hubunganmu dengan Erlan apakah ada kemajuan?" Sahut sang mama membuat Disya seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kemajuan? Kemajuan apa sih maksud mama ini, aku tidak mengerti." Tanya Disya memang tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh sang mama yang sebenarnya.
"Astaga sayang. Maksud mama itu kemajuan dalam hubungan percintaanmu dengan Erlan. Bukankah Erlan dulu pernah menyatakan perasaannya sama kamu? Lalu bagaimana perasaanmu sama Erlan sekarang? Apakah kamu sudah bisa mencintai dia?" Tanya sang mama membuat Disya terkejut setengah mati. Rasanya ia tidak pernah mengatakan bahwa Erlan pernah menyatakan perasaannya sama dia, lalu mengapa mama Mita bisa mengetahuinya? Apakah mama Mita berubah menjadi cenayang? Ah tidak mungkin.
"Mama tahu darimana kalau kak Erlan pernah menyatakan cintanya sama aku? Perasaan aku tidak pernah bilang deh sama mama?" Disya berbalik nanya sembari menatap sang mama curiga. Sementara sang mama terlihat tersenyum sembari mengusap tengkuknya.
"Erlan yang cerita sama mama, Sya." Jawab sang mama lembut.
"Kak Erlan?" Tanya Disya memastikan, mama Mita hanya menganggukkan kepalanya pelan, membuat Disya langsung menghela nafasnya kasar. "Dasar kak Erlan, pantas saja mama tahu kalau dia pernah mengungkapkan perasaannya sama aku. Ternyata dia sendiri yang cerita. Sungguh menyebalkan." Batin Disya kesal.
"Gladysa Feronica! Kamu malah diam lagi. Pertanyaan mama tadi belum kamu jawab loh." Mama Mita melambaikan satu tangannya di hadapan Disya, seketika gadis itu tersadar dan kembali menatap sang mama.
"Mah, perasaanku sama kak Erlan masih sama seperti dulu. Aku tetap menganggap kak Erlan sebagai sahabatku tidak lebih." Ucap Disya terlihat serius.
__ADS_1
"Sayang, kamu yakin sama perasaanmu sendiri? Erlan itu laki-laki baik, pengertian dan bisa melindungi kamu, nak. Mama yakin jika kamu bersama Erlan, kamu pasti akan bahagia."
"Tapi mah, aku tidak mencintai kak Erlan, aku selalu menganggap kak Erlan sebagai sahabatku, tidak lebih." Kekeh Disya terlihat sedikit kesal.
"Sayang, kamu ini benar-benar deh... " Mama Mita tidak melanjutkan ucapannya, ia mulai menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. "Saat ini perusahaan papa kamu dan papanya Erlan sedang bekerja sama. Mama sama tante juga sudah memutuskan untuk menjodohkan kamu sama Erlan." Ucap mama Mita membuat Disya terkejut.
"Mah, aku tidak salah dengarkan. Mama mau menjodohkan aku sama kak Erlan?" Tanya Disya sedikit kencang.
"Iya, kamu tidak salah dengar Disya. Mama sama tante Tania sudah sepakat untuk menjodohkan kalian berdua. Papa dan juga om Putra pun setuju." Ucap mama Mita dengan santai, bahkan ia tidak perduli dengan raut wajah putrinya yang terlihat kesal itu.
"Mama.... Aku tidak mau di jodohkan sama kak Erlan, bukannya aku sudah bilang, kalau aku tuh cuma menganggap kak Erlan sebagai sahabatku saja, tidak lebih. Kenapa mama mengambil keputusan tanpa persetujuan dariku sih." Protes Disya masih dengan raut wajahnya yang kesal itu.
"Sayang, dengarkan mama. Erlan itu sangat tulus mencintai kamu, dia laki-laki baik, mama sama papa pun sudah mengenal dekat dengan kedua orangtuanya. Mama melakukan ini semua, demi kebaikanmu." Ucap mama Mita sembari mengusap lembut pucuk kepala Disya.
"Tapi mah, aku tidak mau di jodoh-jodohkan. Aku mau memilih pasangan untuk diriku sendiri, mama ngerti gak sih. Lagian aku juga masih muda, aku tidak mau menikah di usiaku yang sangat mudah ini, terlebih lagi, aku itu masih sekolah mah."
"Mama ngerti sayang, tapi pasangan terbaik kamu itu Erlan. Mama harap kamu menerima perjodohan ini. Dan untuk masalah pernikahan kalian, mama dan tante Tania sudah sepakat akan menikahkan kalian ketika Erlan sudah lulus kuliah nanti." Ucap mama Mita sembari menyunggingkan senyumannya.
"Mama!!! Kenapa mama jadi pemaksa begini sih? Aku tetap tidak mau di jodohin sama kak Erlan, titik." Seru Disya seraya bangkit dari atas kursi sofa itu.
"Mau tidak mau, kamu tetap akan menikah dengan Erlan nanti." Ucap mama Mita dengan tegas membuat Disya kesal sekaligus marah.
"Mama!!! Benar-benar nyebelin!" Disya langsung pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan sang mama sendirian. Disya benar-benar merasa sangat kecewa karena sang mama memaksa dirinya untuk menikah dengan Erlan, meskipun pernikahan itu masih lama, tapi tetap saja Disya merasa marah, kesal sekaligus kecewa.
__ADS_1
Bersambung.