Obsesi Cinta Sahabatku

Obsesi Cinta Sahabatku
Mengungkapkan perasaan


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam, saat ini Disya, Erlan, Aditia dan juga mama Gina sedang berada di salah satu restaurant yang lumayan terkenal di kota itu. Mereka baru saja selesai makan dan berniat untuk pergi meninggalkan restaurant tersebut setelah tante Gina membayar semua makanan yang mereka makan tadi.


"Pelayan! Minta billnya ya." Panggil tante Gina kepada salah satu pelayan yang berada di dekat mejanya. Pelayan itu mengangguk, lalu pergi untuk mengambil bill ke meja kasir.


"Kalian sudah selesai kan? Biar tante yang bayar ya." Ucap tante Gina sembari menatap Erlan dan juga Disya bergantian.


"Wah terima kasih tante, jadi ngerepotin tante deh." Sahut Disya si pencinta gratisan itu.


"Kamu ini ngapain berterima kasih segala sih sama tante, kamu, Erlan dan Amanda sudah tante anggap sebagai anak tante sendiri. Sayangnya gadis bawel itu tidak ikut sekarang, kalau ada dia pasti deh makan malam kita semakin seru." Ucap tante Gina di iringi dengan kekehannya ketika ia mengingat tingkah laku Amanda yang selalu saja membuatnya pusing tujuh keliling. Namun Amanda juga bisa membuatnya tertawa.


"Iya tante aku juga berpikir begitu, tapi lain kali kita bisa pergi lagi makan malam sama Amanda. Biar lebih seru lagi." Jawab Disya sembari melebarkan senyumannya.


"Iya betul sayang. Nanti kita janjian aja ya." Ucap tante Gina yang mendapat anggukkan kepala dari Disya.


"Ini billnya, bu." Pelayan tadi tiba-tiba saja sudah berdiri di samping kursi yang di duduki oleh tante Gina membuat tante Gina sedikit terkejut.


"Si mbaknya bikin saya terkejut saja." Ucap tante Gina sambil mengelus dadanya. Pelayan itu hanya tersenyum sembari menyerahkan bill itu kepada tante Gina. Dengan segera tante Gina pun mengambil bill itu, lalu merogoh dompet yang ada di dalam tas miliknya.


"Nih mbak, kembaliannya ambil saja buat mbaknya." Ucap tante Gina seraya menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah kepada si pelayan tersebut.


"Terima kasih bu, saya terima ya uangnya." Sahut si pelayan itu dengan raut wajah yang terlihat senang.


"Sama-sama mbak." Ucap tante Gina yang selalu ramah terhadap siapa pun.


"Disya, Erlan, Adit. Ayo kita pulang." Ajak tante Gina sembari bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Iya, mah." Adit menjawab sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Iya, tante." Jawab Erlan dan Disya bersamaan.


Setelah itu mereka berempat pun langsung pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan restaurant tersebut.


"Erlan, Disya. Tante dan Adit pulang duluan ya, kalian hati-hati di jalan, dan Erlan jangan ngebut bawa mobilnya, berbahaya." Ucap tante Gina ketika ia sudah berada di samping mobil miliknya.


"Iya tante, tante juga hati-hati ya, kalau kak Adit bawa mobilnya ngebut, tante jewer aja telinganya." Sahut Disya membuat Adit mendengus kesal namun ia tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.


"Pasti dong, sayang. Yasudah kita pamit dulu, ya. Sampai bertemu lagi nanti. " Ucap tante Gina sembari mengusap pucuk kepala Disya dengan lembut. Disya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu setelah itu tante Gina dan juga Adit pun langsung masuk ke dalam mobilnya.


Aditia mulai mengemudikan kendaraan roda empatnya itu meninggalkan Disya dan juga Erlan berduaan.


"Kak Erlan mau kemana? Bukannya kita harus pulang sekarang?" Tanya Disya membuat Erlan kembali berbalik.


"Aku mau beli makanan untuk mama kamu dulu, kamu mau ikut atau tunggu di dalam mobil?" Erlan berbalik nanya sembari menatap Disya lekat.


"Aku tunggu di dalam mobil saja deh, sini kunci mobilnya." Sahut Disya sambil menadahkan tangannya kepada Erlan.


"Sebaiknya kamu ikut saja, tidak baik menunggu sendirian di dalam mobil." Ucap Erlan sembari menarik tangan Disya dan langsung melangkahkan kedua kakinya memasuki Restaurant itu kembali. Disya hanya mendengus kesal sembari mengikuti langkah kaki Erlan dan memasuki restaurant itu kembali.


***


Erlan dan Disya kini sudah berada di dalam mobil, keduanya nampak saling terdiam tanpa ada satupun yang berbicara. Disya hanya fokus menatap luar jendela, sementara Erlan hanya fokus pada jalanan yang ada di depannya.

__ADS_1


Hingga beberapa menit kemudian, Erlan tiba-tiba saja menghentikan laju kendaraannya di jalanan yang cukup sepi, hal itu sontak saja membuat Disya langsung menatap Erlan penuh dengan tanda tanya.


"Mau ngapain? Kenapa kita berhenti di sini?" Tanya Disya bingung.


"Ada hal yang ingin aku sampaikan sama kamu." Sahut Erlan sembari menatap Disya dalam.


"Hal apa? Apakah sangat penting sekali?" Tanya Disya penasaran.


"Ya, ini sangat penting bagiku." Erlan menarik nafasnya dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Ia pun kembali menatap Disya dengan lekat. "Aku cinta sama kamu." Ucap Erlan membuat Disya seketika terdiam dengan tatapan matanya yang terkejut.


"Apakah kamu mau menjadi kekasihku?" Erlan bertanya seraya menggenggam hangat tangan Disya.


"Jangan becanda, kak. Ini sama sekali tidak lucu." Ucap Disya sambil tersenyum kaku. Disya berharap apa yang di ucapkan oleh Erlan hanyalah sebuah candaan semata.


"Aku serius, Gladysa! Aku cinta sama kamu, aku ingin kamu menjadi kekasihku." Ucap Erlan dengan tatapan matanya yang serius.


Disya kembali terdiam, ia benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya itu mengungkapkan perasaannya kepada dirinya dengan tiba-tiba.


"Disya! Jawab pertanyaanku." Suara Erlan membuat Disya langsung tersadar dari lamunannya. Gadis itu terlihat menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya secara perlahan.


Disya mulai menatap Erlan, sahabatnya yang saat ini sedang menyatakan perasaannya kepada dirinya. Disya tersenyum sembari menarik tangannya dari genggaman Erlan. "Maafin aku kak, aku tidak bisa menerima kamu sebagai kekasihku, karena selama ini aku menganggap kak Erlan hanya sebatas sahabat tidak lebih, aku harap kak Erlan mengerti." Ucap Disya dengan hati-hati.


Erlan nampak menghela nafasnya, ia kembali melajukan kendaraan roda empatnya tanpa mau membalas ucapan Disya barusan. Jujur saja Erlan merasa sangat kecewa atas penolakkan Disya barusan, namun apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus memaksa Disya untuk menjadi kekasihnya? Ah entahlah yang jelas untuk saat ini Erlan hanya bisa diam menahan rasa kecewanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2