
Kediaman Mahesa.
Erlan sudah tiba di kediamannya, ia segera memarkirkan kendaraan roda empatnya di halaman rumahnya, lalu setelah itu ia pun langsung turun dari dalam mobilnya, kemudian ia berjalan memasuki kediaman orangtuanya tersebut.
"Erlan, kamu baru pulang." Sapa mama Tania yang tidak sengaja melihat kepulangan putra semata wayangnya itu.
"Iya, mah. Aku istirahat dulu ya." Jawab Erlan seraya menghentikan langkah kakinya dan menatap sang mama.
"Tunggu dulu, sayang. Sini duduk dulu, ada hal yang ingin mama bicarakan sama kamu." Ucap mama Tania seraya menggandeng tangan Erlan dan membawanya untuk duduk di kursi sofa. Meskipun malas, Erlan tetap saja menurut dan melangkahkan kedua kakinya itu.
"Mama mau membicarakan apa?" Tanya Erlan ketika ia sudah duduk di atas kursi sofa itu.
"Sabar dong sayang, baru juga mama duduk." Jawab mama Tania dengan seulas senyuman di wajahnya. Erlan hanya mendesah pelan, lalu ia pun meraih sebotol air mineral yang berada di atas meja.
"Sayang, bagaimana hubunganmu dengan Disya, apakah sudah ada kemajuan?" Tanya mama Tania dengan tiba-tiba sembari menatap putra semata wayangnya tersebut.
__ADS_1
"Tidak ada, mah. Sampai sekarang pun Disya masih menganggap aku sebagai sahabatnya." Jawab Erlan setelah ia meneguk air mineral itu. Wajahnya terlihat sendu membuat mama Tania merasa kasihan.
"Begitu ternyata." Mama Tania menghela nafasnya, ia pun kembali menatap Erlan. "Apakah kamu benar-benar sangat mencintai gadis itu?" Tanya mama Tania membuat Erlan seketika mengerutkan keningnya.
"Kenapa mama bertanya seperti itu? Apakah mama tidak percaya jika aku mencintai dia?" Erlan berbalik nanya sambil menatap sang mama.
"Jawab saja pertanyaan mama Erlan. Apakah kamu benar-benar mencintai gadis itu?" Tanya mama Tania terlihat serius.
"Iya, mah. Aku benar-benar mencintai dia." Sahut Erlan dengan tatapan matanya yang terlihat serius.
"Bagus kalau begitu." Mama Tania tersenyum senang membuat Erlan merasa aneh.
"Sayang, kamu tahu tidak mama dan tante Mita sudah sepakat untuk menjodohkan kamu sama Disya. Bahkan papa sama om Damar pun setuju, dan perusahaan papa sama om Damar sekarang ini sedang bekerja sama." Ucap mama Tania sembari menyunggingkan senyumannya.
Erlan yang mendengar hal itu merasa sangat terkejut, ia sama sekali tidak pernah kepikiran jika sang mam dan juga tante Mita akan menjodohkan dirinya dengan Disya.
__ADS_1
"Mah, mama serius akan menjodohkan aku dengan Disya?" Tanya Erlan terlihat masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh mamanya barusan.
"Iya, sayang. Mama serius." Jawab sang mama membuat Erlan langsung tersenyum senang, namun beberapa saat kemudian senyuman itu hilang kembali.
"Tapi, Disya kan masih sekolah mah, dan aku juga harus pergi kuliah ke luar negeri. Lagian tidak mungkin Disya mau di jodohin sama aku." Ucap Erlan di iringi dengan helaan nafasnya.
"Soal itu kamu tenang saja, sayang. Mama, tante Mita, papa, dan juga om Damar sudah sepakat akan menikahkan kalian berdua setelah kamu lulus kuliah nanti. Jadi, biar kamu fokus sama kuliahmu, makannya mama mengatakan hal ini sama kamu sekarang. Biar kamu tenang sayang." Ucap mama Tania seraya mengusap punggung putra semata wayangnya tersebut.
"Tapi mah, apakah Disya mau di jodohin sama aku? Dia.... "
"Dia pasti mau, kamu tenang saja ok." Ucap mama Tania menyela ucapan putranya tersebut.
"Baiklah kalau begitu, aku serahin sama mama saja." Erlan hanya bisa pasrah.
"Yasudah aku istirahat dulu ya, mah. Mama juga istirahat." Sambung Erlan seraya bangkit dari atas kursi sofa itu. Mama Tania hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya pelan, lalu setelah itu Erlan pun beranjak pergi meninggalkan sang mama sendirian.
__ADS_1
"Disya... Tidak perduli saat ini kamu menolakku, tapi kamu tetap akan menjadi milikku di masa depan." Batin Erlan dengan senyuman yang kembali tersungging dari sudut bibirnya.
Bersambung.