Obsesi Cinta Sahabatku

Obsesi Cinta Sahabatku
Bersikaplah seperti biasanya


__ADS_3

Jam istirahat.


Disya dan juga Amanda sudah berada di kantin sekolah. Kedua sahabat itu sedang duduk di kursinya masing-masing sambil mengobrol menunggu pesanannya datang.


Tidak lama kemudian, Erlan dan juga Aditia datang menghampiri dia gadis itu. Aditia terlihat menebar senyumannya, sementara Erlan, ia terlihat menampilkan wajahnya yang datar. Melihat kedatangan dua sahabat laki-laki nya, Disya dan juga Amanda langsung menghentikan obrolannya.


"Ternyata kalian sudah ada di sini, pantesan gue tadi ke kelas kalian, kalian berdua udah kagak ada." Ucap Aditia sambil menarik kursi yang berada di samping Amanda, sementara Erlan, ia menarik kursi yang berada di samping Disya.


"Hmm kita tuh laper banget kak Adit, makannya kita langsung meluncur ke sini pas istirahat tiba." Sahut Amanda sembari menatap Aditia.


"Terus makanannya mana?" Tanya Aditia membuat Amanda kesal.


"Lagi di bikinin sama mbak kantinnya kak. Di kira kita pesen langsung jadi, apa." Ucap Amanda dengan raut wajahnya yang kesal. Aditia hanya ber oh ria saja, ia tidak lagi menanggapi ucapan Amanda, dan kini tatapan matanya tertuju pada Disya.


"Oh iya, Sya. Kok lo tumben sih berangkat tidak nungguin kita berdua, biasanya kan lo itu selalu nungguin kita kalau mau berangkat sekolah. Lo gak lagi ada masalahkan, Sya?" Tanya Aditia penasaran.


"Gak ada kok, gue cuma pengen berangkat pagi-pagi aja." Sahut Disya sambil tersenyum kaku.


"Oh tumben banget lo pengen berangkat pagi-pagi, biasanya... " Ucapan Aditia tercekat di tenggorokkan ketika suara dingin Erlan terdengar di telinganya.

__ADS_1


"Dit mendingan lo pesen makanan sono, sekalian pesenin punya gue juga." Perintah Erlan sembari menatap Aditia. Aditia terlihat menghela nafasnya kasar, selalu saja ia yang di suruh untuk memesan makanan. Sungguh menyebalkan. Pikir Aditia.


"Siap bos. Lo mau pesen apa?" Meskipun kesal, Aditia tetap menuruti ucapan Erlan.


"Samain aja kayak lo." Sahut Erlan sembari bersidekap menatap lurus ke depan.


"Ok, gue pesen dulu." Ucap Aditia sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Kak Adit tungguin gue, gue juga mau ambil pesenan gue tadi." Seru Amanda sembari mengejar Aditia meninggalkan Erlan dan juga Disya berduaan dengan perasaan yang canggung.


"Si Amanda ini sengaja ya ninggalin gue sama kak Erlan berdua. Dasar nyebelin." Batin Disya sembari menatap kepergian sahabatnya itu.


"Lo berangkat pagi sengaja ingin menghindari gue kan." Tiba-tiba saja Erlan bertanya kepada Disya. Gadis itu nampak terkejut, namun ia tidak berani untuk menatap laki-laki yang sudah menyatakan perasaannya semalam. Bahkan suara laki-laki itu terdengar sangat dingin di telinga Disya.


"Jangan bohong Disya. Aku tahu kalau saat ini kamu sedang berbohong." Ucap Erlan masih dengan nada suaranya yang dingin. "


Kenapa! Apakah kamu menghindariku gara-gara aku menyatakan perasaanku semalam?" Tanya Erlan sembari menatap Disya tidak suka.


Disya menunduk, ia masih tidak berani untuk mengangkat kepalanya dan menatap sahabatnya tersebut, bahkan saat ini lidahnya terasa berat untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Erlan, membuat Erlan kembali bersuara dengan dingin.

__ADS_1


"Jangan menundukkan kepalamu, Disya. Dan jawab pertanyaanku barusan." Erlan meraih dagu Disya, agar gadis itu mau menatap dirinya dan tidak lagi menundukkan kepalanya.


"Bukankah aku sudah menjawabnya tadi, jadi untuk apalagi kak Erlan bertanya." Jawab Disya sembari menepis tangan Erlan dari dagunya.


"Tapi jawabanmu itu bohongkan. Aku tahu kamu sedang berbohong Disya. Dan kamu tahu kalau aku paling tidak suka di bohongi." Ucap Erlan semakin dingin membuat gadis itu sedikit takut.


"Kenapa kamu diam saja? Jangan bilang yang aku ucapkan tadi itu benar." Erlan kembali berkata tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Disya. Gadis itu terlihat menghela nafasnya, lalu ia pun memberanikan dirinya untuk menatap Erlan.


"Ya, kamu benar kak. Aku memang sengaja ingin menghindarimu, karena jujur saja aku tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah kamu menyatakan perasaanmu kepadaku semalam." Akhirnya ucapan itu keluar dari mulut Disya.


Erlan yang mendengarnya pun tersenyum kecut seraya mengusap wajahnya kasar, tatapan matanya masih saja tertuju pada gadis itu. "Jangan menghindariku lagi, dan anggap saja semua itu hanya mimpi, bersikaplah seperti biasanya, jangan jadikan perasaanku sebagai bebanmu, Disya." Ucap Erlan mulai melembutkan nada suaranya membuat gadis itu sedikit lega.


"Jika kamu menghindariku terus, aku bisa gila." Sambung Erlan di iringi dengan helaan nafasnya.


"Kak.... "


"Ssst.... Aku tahu apa yang akan kamu ucapkan, jadi jangan menghindariku lagi ya, bersikaplah seperti Disya yang dulu. Dan sampai kapanpun perasaan ini akan tetap menjadi milikmu, Disya." Ucap Erlan sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir manis Disya. Disya hanya terdiam ketika ia mendengar ucapan Erlan barusan, ia tidak tahu harus berkata apalagi sekarang. Sepertinya laki-laki ini masih belum menyerah juga tentang perasaannya itu.


Visual Disya menurut versi aku nih

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2