
Kediaman Mahesa.
Setelah memutuskan panggilan dari Disya, Erlan terlihat menghela nafasnya kasar, ia juga melemparkan ponsel miliknya di atas tempat tidur lalu mengusap wajahnya gusar.
"Gadis itu benar-benar ingin gue menolak perjodohan ini. Itu tidak mungkin." Geram Erlan sembari menahan rasa kesal sekaligus amarah dalam dirinya. Apalagi ketika ia mengingat ucapan Disya yang meminta dirinya untuk membatalkan perjodohan tersebut, sungguh hal yang sangat mustahil Erlan lakukan.
"Disya... Tidak perduli kamu mau menerima atau tidak perjodohan ini, kamu tetap akan menjadi milikku di masa depan, mungkin saat ini aku tidak bisa memaksamu untuk menerima cintaku, tetapi di masa depan, aku bisa melakukannya, asalkan kamu menjadi milikku seutuhnya." Erlan mengepalkan kedua tangannya kuat, kini obsesi cintanya terhadap gadis itu semakin tinggi, bahkan ia akan melakukan apapun demi menjadikan gadis itu miliknya di masa depan.
"Aaaarghhh sialan!!!" Dengus Erlan ketika amarah dalam dirinya tak kunjung hilang juga.
Perlahan Erlan pun mulai melangkahkan kedua kakinya, ia berniat untuk pergi ke kamar mandi, namun niatnya terhenti ketika ia mendengar suara yang berasal dari ponsel miliknya. Seketika Erlan berbalik dan berjalan menuju tempat tidurnya, ia kembali meraih ponsel itu dan seketika ia mengernyitkan keningnya ketika ia melihat nomor tak di kenal sedang menghubunginya.
"Nomor tidak di kenal?" Gumam Erlan sebelum ia menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Hay, Erlan. Kamu sedang apa?" Tanya seorang wanita dari seberang telpon sana membuat Erlan kembali mengernyitkan keningnya.
"Siapa?" Tanya Erlan tidak mengindahkan pertanyaan wanita itu.
__ADS_1
"Ini aku, Cantika. Apa nomorku sudah kamu hapus?" Ucap si wanita itu yang tak lain adalah mantan Erlan.
"Ada apa lo nelpon gue?" Tanya Erlan sangat dingin.
"Aku kangen sama kamu, bisa gak kita ketemu nanti malam." Ucap Cantika dengan nada suaranya lembut. Padahal suara Erlan begitu dingin, namun sepertinya itu tidak menjadi Cantika kesal ataupun marah.
"Tidak bisa, dan lo tidak usah ganggu gue lagi, karena kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, mengerti." Pungkas Erlan masih dengan nada suaranya yang dingin.
"Tapi aku masih mencintai kamu, Lan. Dan aku denger sebentar lagi kamu akan pergi ke luar negeri, anggap saja pertemuan kita malam nanti adalah pertemuan terakhir sebelum kamu pergi." Cantika terdengar menarik nafasnya dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Please! Kasih aku kesempatan untuk bertemu dengan kamu, sebelum kamu pergi." Mohon Cantika dengan nada suara yang mulai berubah menjadi sendu.
Erlan mendengus kesal, ia paling tidak suka jika ada seorang gadis yang memohon untuk bertemu dengan dirinya seperti Cantika, mantan kekasihnya itu. "Tidak bisa, sebaiknya lo lupain gue, dan jangan pernah ganggu geu lagi, paham." Ucap Erlan dengan tegas. Setelah itu Erlan pun langsung memutuskan sambungannya, ia kembali melemparkan ponsel itu ke atas tempat tidur. Kemudian ia pun kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi.
Saat ini Amanda dan juga Disya sedang berada di taman belakang kediaman Wijaya. Kedua sahabat itu sedang mengobrol sembari sesekali tertawa ria, entah apa yang mereka obrolkan sehingga membuat mereka tertawa lepas seperti itu.
Ketika keduanya sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja mama Mita datang menghampiri keduanya, Disya seketika terdiam, ia masih merasa kesal terhadap mama tercintanya itu.
"Disya, mama mau keluar dulu sama tante Tania sebentar ya, kamu mau ikut atau tinggal di rumah saja sama Amanda?" Ucap mama Mita sekaligus bertanya kepada putrinya tersebut.
__ADS_1
"Di rumah saja." Sahut Disya ketus membuat Amanda menatapnya bingung.
"Yasudah kalau begitu mama pergi dulu ya, sayang. Kamu baik-baik di rumah sama Amanda ya." Ucap mama Mita sembari mencium kepala putrinya tersebut. Kemudian ia beralih menatap Amanda. "Manda, tante pergi dulu ya, kamu main di sini saja, jangan kemana-mana, ok." Ucapnya lembut.
"Ok tante, tante tenang saja aku sama Disya tidak akan kemana-mana kok. Tante hati-hati ya di jalan, salam buat tante Tania dari aku Amanda yang paling cantik sedunia." Tukas Amanda membuat mama Mita terkekeh pelan.
"Iya Amanda yang paling cantik sedunia. Sudah ah tante mau pergi dulu, kalau tante ngelandenin kami, tante tidak akan pergi-pergi." Ucap mama Mita sembari mencubit gemas pipi Amanda. Gadis itu hanya terkekeh pelan, sementara mama Mita langsung berbalik dan pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Disya dan juga Amanda.
Setelah kepergian mama Mita, Amanda pun kembali menatap Disya, ia masih penasaran mengapa Disya bersikap sangat ketus kepada mama Mita, padahal biasanya Disya itu tidak seperti itu, Disya akan selalu bersikap lembut dan selalu tersenyum kepada mam Mita.
"Sya.Lo kenapa ketus begitu sama mama lo? Biasany lo tidak seperti itu deh." Tanya Amanda penasaran.
"Gue lagi kesel aja sama mama." Sahut Disya seraya mengambil minumannya dan meneguknya perlahan.
"Kesel kenapa sih, Sya. Gak baik lo kesel sama orang tua."
"Lo tahu gak Man, mama gue sama tante Tania sudah sepakat untuk menjodohkan gue sama kak Erlan, dan gue sama sekali tidak boleh menolaknya." Ucap Disya membuat Amanda terkejut, dan menatap Disya tidak percaya.
__ADS_1
Bersambung.