
Disya menghempaskan tubuhnya di atas kursi sofa, ia memejamkan kedua bola matanya dan berusaha untuk menghilangkan kekesalannya terhadap Erlan. Mama Mita yang melihat putrinya sudah pulang pun segera menghampirinya.
"Kamu sudah pulang sayang?" Tanya mama Mita membuaa Disya langsung membuka kedua bola matanya kembali.
"Iya, mah. Di susulin sama si Erlan. Sumpah ngeselin banget deh." Adu Disya terlihat masih kesal.
"Ngeselin gimana, Sya?" Tanya mama Mita penasaran.
"Ya ngeselin banget mah, dia itu.... "
"Erlan itu sudah menggagalkan pertemuan Disya dengan seorang laki-laki tante. Makannya Disya kesal banget sama si Erlan." Ucap Aditia selalu senang menyela ucapan orang lain. Dasar petasan api.
"Oh jadi maksudnya tadi Disya ketemuan sama laki-laki, terus Erlan datang dan membawa pulang Disya begitu." Tanya mama Mita yang mendapat anggukkan kepala dari Aditia.
"Udah sayang jangan kesel lagi, mungkin Erlan khawatir sama kamu dan takut kamu kenapa-kenapa." Sambung mama Mita sembari menatap putri satu-satunya itu.
"Tapi mah, aku tetap masih kesel sama dia. Dia itu selalu saja ikut campur urusan pribadiku, dia selalu melarangku untuk dekat sama laki-laki manapun, entah itu teman sekelas, kakak kelas, kak Erlan tuh selalu saja tidak memperbolehkan aku untuk berteman dengan mereka. Pokoknya dia itu nyebelin banget mah." Oceh Disya sambil mengerutkan bibirnya dengan kesal.
Mama Mita tersenyum ketika mendengar ocehan putri satu-satunya itu, baru kali ini Disya meluapkan kekesalannya terhadap Erlan, sahabat laki-laki nya tersebut, bahkan Aditia yang mendengarnya pun ikut tersenyum sambil menatap Disya.
"Ish mama malah tersenyum sih, lo juga Dit, malah ikut-ikut tersenyum seperti itu. Nyebelin banget sih." Omel Disya kepada Aditia dan juga mama Mita.
"Sayang, kok malah ngomelin Adit sih. Mama kasih tahu ya, Erlan bersikap seperti itu karena dia tidak mau kamu kenapa-kenapa, dan mama juga yang meminta Erlan dan Aditia untuk menjagamu di saat kamu tidak ada di rumah. Jadi, jangan marah ataupun kesal lagi sama Erlan ya, mengerti sayang." Ucap mama Mita membela Erlan yang memang sengaja ia minta untuk menjaga dan melindungi putri satu-satunya tersebut.
Namun, mama Mita tidak tahu jika Erlan memperlakukan Disya seperti itu bukan hanya karena sekedar permintaannya saja, melainkan Erlan memang memiliki perasaaan khusus kepada putri semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Nah betul yang di ucapkan sama tante Mita, gue sama Erlan memang sengaja ingin melindungi lo, Sya. Lo tahu kan laki-laki jaman sekarang itu kebanyakan gak benernya, tapi tidak termasuk gue ya." Sahut Aditia tanpa melepaskan tatapan matanya dari Disya.
"Tapi kak Erlan itu posesif banget sama gue, gak kayak lo. Lo lihatkan tadi, sikapnya kak Erlan itu udah seperti..." Ucapan Disya tercekat di tenggorokan, ia memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya itu atau dia akan di anggap percaya diri.
"Seperti pasangan kekasih maksud lo kan." Timpal Aditia dengan santainya.
"Dasar Bambang! Malah di terusin ucapan gue." Batin Disya kesal.
"Ya mungkin saja dia memang memiliki perasaan sama lo Sya. Bener gak tante." Ucap Aditia sambil melirik mama Mita.
"Bisa jadi, mungkin saja yang di ucapkan Aditia ada benarnya sayang." Sahut mama Mita terlihat senang. Siapa juga yang tidak senang jika putrinya yang memiliki otak pas-pasan di taksir sama pemuda tampan yang memiliki kepintaran yang tidak dapat di ragukan lagi, apalagi Erlan adalah putra satu-satunya pemilik perusahaan PM group, siapapun pasti akan merasa sangat bahagia, begitupun juga dengan mama Mita.
"Mamaaaaa... Tahu ah, Disya mau istirahat dulu." Seru Disya sembari bangkit dan berlalu pergi meninggalkan mama dan juga Aditia sahabatnya itu.
"Anak ini, bukannya senang malah marah-marah." Gumam mama Mita sembari menatap kepergian putri satu-satunya itu.
Aditia tersenyum senang, ia pun segera bangkit dari atas kursi sofa itu. "Beneran tante, wah kebetulan Adit lagi laper nih." Sahut Adit sembari memegangi perutnya membuat mama Mita tersenyum.
"Beneranlah, Aditia. Sana gih makanannya sudah tante siapkan dia atas meja makan, kamu makanlah sepuasnya." Ucap mama Mita membuat senyuman di wajah Aditia semakin mengembang.
"Baiklah tante, dengan senang hati Adit akan makan sepuasnya." Sahut Aditia yang kemudian langsung melangkahkan kedua kakinya menuju ruang makan. Mama Mita hanya tersenyum sambil menatap kepergian sahabat putrinya itu.
***
Kediaman Mahesa.
__ADS_1
Erlan berjalan memasuki rumahnya dengan raut wajah yang suram, bahkan sapaan sang mama pun ia tidak hiraukan. Hatinya masih merasa kesal sekaligus cemburu ketika ia mengingat Disya sedang duduk berdua dengan seorang laki-laki tadi. Bahkan rasa cemburunya itu kian melekat dalam hatinya.
"Aaarghh sialan!!!" Teriak Erlan sambil mempercepat langkah kakinya menuju anak tangga. Mama Tania yang mendengar teriakan putranya itu pun merasa terkejut.
"ERLAN PUTRA MAHESA!!! Kenapa kamu berteriak seperti itu? Apakah kamu pikir ini hutan hah!" Seru mama Tania seraya menjewer telinga putra satu-satunya tersebut.
"Astaga, mama... Kenapa mama jewer telinga aku sih. Sakit tahu." Omel Erlan sambil melepaskan tangan sang mama dari telinganya.
"Kamu kenapa teriak-teriak? Kamu tahu gak, kalau kamu itu sudah bikin jantung mama hampir copot. Masih untung mama hanya jewer telinga kamu saja." Ucap sang mama sembari menatap putranya kesal.
Erlan terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menatap sang mama dengan wajah tanpa dosanya. "Aku pikir mama tidak ada tadi, aku gak sengaja mah, soalnya aku lagi kesal." Ucap Erlan membuat sang mama menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak sengaja, gak sengaja. Kamu ini sedang kesal sama siapa sih Er? Mama sapa kamu sama sekali tidak menyahut."
"Ada pokoknya mah. Aku ke kamar dulu ya mah." Pamit Erlan sebelum ia melangkahkan kembali kedua kakinya.
"Yasudah, jangan lupa nanti turun kalau makan malamnya sudah siap, mengerti." Ucap sang mama yang mendapat anggukkan kepala dari Erlan. Setelah itu Erlan pun mulai melangkahkan kedua kakinya dan berjalan menuju kamarnya.
***
Erlan melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia menghela nafasnya panjang sembari menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya saat ini masih pada sahabatnya, yaitu Disya.
"Sebentar lagi gue lulus sekolah, itu artinya gue tidak bisa lagi mengawasi Disya. Apalagi gue harus kuliah di luar negeri, bukankah itu artinya gadis itu akan bebas dari pengawasan gue?" Batin Erlan dengan tangan yang mulai terkepal kuat ketika ia membayangkan gadis itu jauh dari dirinya.
"Tidak bisa, gue harus bicara sama mama dan papa kalau gue ingin kuliah di sini saja, agar gue bisa tetap bertemu dengan Disya. Lagian kuliah di luar negeri pun tidak ada bedanya bukan. Toh otak gue udah pinter." Erlan kembali membatin sembari bangkit dari tempat tidurnya. Malam ini ia berniat untuk membicarakan tentang kuliahnya kepada mama dan papanya.
__ADS_1
Bersambung.