Obsesi Cinta Sahabatku

Obsesi Cinta Sahabatku
Sangat berlebihan.


__ADS_3

Saat ini Erlan sudah duduk di ruang keluarga bersama kedua orangruanya. Erlan terlihat menatap sang mama dan juga papanya secara bergantian membuat mama Tania dan juga pak Putra menatap bingung.


"Ada apa Erlan? Apa yang ingin kamu bicarakan sama mama dan papa?" Akhirnya sang mama pun mulai bertanya sembari menatap putra semata wayangnya tersebut. Begitu pun juga dengan pak Putra yang merasa sangat penasaran dengan apa yang ingin putranya sampaikan itu.


"Betul kata mammu, Er. Sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan sama kita? Jangan membuat papa sama mama penasaran." Timpal pak Putra seraya mengambil secangkir kopi panas buatan istrinya.


Erlan menghela nafasnya panjang, ia pun kembali menatap kedua orangtuanya bergantian. "Mah, pah sebenarnya aku ingin meminta sesuatu sama kalian berdua." Ucap Erlan di iringi dengan helaan nafasnya.


"Apa sayang? Katakanlah jangan malu-malu." Tanya sang mama semakin penasaran, karena ini adalah kali pertamanya Erlan meminta sesuatu setelah Erlan beranjak remaja.


"Mah sebelum aku pergi keluar negeri, aku mau minta mama dan papa untuk mengikatku dengan Disya." Ucap Erlan dengan raut wajah yang serius.


Mama Tania dan pak Putra saling melempar pandangannya satu sama lain, lalu setelah uru itu mama Tania pun tersenyum, kemudian ia berkata dengan nada suaranya yang lembut. "Maksudmu bertunangan?" Tanyanya yang mendapat anggukkan kepala dari Erlan.

__ADS_1


"Tentu saja sayang, besok kita beli cincin pertunangan kamu sama Disya ya, lalu malamnya kita pergi ke rumah Disya. Tapi, mungkin acara pertunanganmu dengan Disya tidak bisa di ramaikan karena waktunya sangat mendadak, apa kamu mau?" Sambung mama Tania sembari mengelus bahu Putra semata wayangnya itu.


"Iya, mah, tidak apa-apa. Lagian ini hanya sebuah ikatan agar Disya tidak bisa melirik laki-laki lain ketika aku jauh dari dirinya." Sahut Erlan dengan jujur membuat kedua orang tuanya tersenyum.


"Yasudah nanti mama akan sampaikan sama tante Mita tentang pertunanganmu dengan Disya." Ucap sang mama yang mendapat anggukkan dari Erlan.


"Baiklah sekarang kita makan malam dulu, sepertinya si bibi sudah selesai menyiapkan makan malam untuk kita." Ajak mama Tania seraya beranjak dari atas kursi sofa itu.


"Kamu ini selalu saja begitu. Yasudah kalau begitu mama sama papa makan malam dulu, nanti kamu juga makan, awas kalau tidak makan." Jawab mama Tania yang mendapat anggukkan kepala dari putranya tersebut.


"Ayo pah, kita makan dulu." Kini mama Tania beralih pada suaminya. Sang suami hanya menganggukkan kepalanya, lalu setelah itu ia pun beranjak dari atas kursi sofa itu dan berjalan menuju ruang makan bersama istrinya.


Setelah kepergian orangtuanya, Erlan nampak menyunggingkan senyumannya. Ia tidak sabar ingin segera mengikat gadis pujaannya itu agar dirinya merasa tenang.

__ADS_1


Erlan perlahan bangkit dari tempat duduknya, lalu setelah itu ia pun berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju kamarnya kembali.


***


Erlan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit kamarnya. Sesekali ia pun tersenyum ketika ia membayangkan pertunangannya dengan Disya.


"Kenapa gue jadi deg-degan begini ya. Padahalkan ini hanya sebuah pertunangan biasa saja bukan sebuah pernikahan." Batin Erlan seraya menormalkan detak jantungnya yang semakin berdegup kencang.


"Sial! Kenapa gue jadi lebay begini sih. Sadarlah Erlan, sadar. Ini hanya sebuah pertunangan ok, bukan pernikahan. Jadi, lo gak usah lebay seperti ini." Ucap Erlan sembari bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya. Perlahan Erlan pun meraih ponselnya, ia berharap gadis pujaannya itu sudah membalas pesan darinya, namun sayangnya, itu hanya sekedar harapannya saja. Nyatanya gadis itu sama sekali tidak membalas satu pesan pun yang di kirimkan olehnya tadi.


Erlan menghela nafasnya kasar. "Gadis ini sama sekali tidak membalas pesan dariku. Sungguh menyebalkan." Ucap Erlan seraya menaruh ponselnya kembali di atas nakas. Setelah itu Erlan mulai turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2