Obsesi Cinta Sahabatku

Obsesi Cinta Sahabatku
Dasar gadis bodoh


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Erlan dan juga kedua orang tuanya sudah duduk manis di kursi meja makannya, keluarga itu sudah bersiap-siap untuk menyantap makan malamnya. Mama Tania pun sudah menuangkan nasi serta lauk pauk di piring suaminya tersebut.


"Mah, pah. Ada hal yang ingin aku bicarakan sama kalian." Erlan mulai membuka mulutnya sembari menatap mama dan papanya bergantian.


"Kamu ingin membicarakan masalah apa, Er?" Tanya sang mama penasaran.


"Ini soal kuliahku, mah." Sahut Erlan di iringi dengan helaan nafasnya.


"Memangnya ada apa dengan kuliahmu, Er?" Tanya mama Tania semakin penasaran.


"Mah, aku ingin membatalkan kuliahku di luar negeri, aku ingin kuliah di sini saja." Ucap Erlan terlihat serius.


"Alasannya?" Tanya sang papa yang bernama Dirga Mahesa itu.


"Karena aku tidak ingin jauh dari Disya." Batin Erlan.


"Erlan alasannya apa kamu ingin membatalkan kuliahmu itu?" Pak Dirga kembali bertanya ketika ia tidak mendapat jawaban dari putranya tersebut.


"Tidak ada alasan, pah. Cuma menurut aku kuliah di luar mau pun di dalam negeri itu sama saja tidak ada bedanya." Ucap Erlan membuat sang papa menghela nafasnya kasar.


"Erlan kamu ini penerus papa loh. Jadi kamu harus benar-benar memikirkan tentang kuliah kamu, papa tahu kamu itu sangat pintar, tapi kamu juga harus benar-benar belajar tentang bisnis dan papa sama mama sudah memutuskan untuk mengirimmu di salah satu universitas luar negeri." Terang sang papa membuat Erlan terdiam.


"Papa sama mama melakukan ini demi kebaikanmu Er, kamu akan tahu suatu saat nanti persaingan bisnis kita akan semakin kejam, tidak hanya membutuhkan kepintaran saja, Er. Tapi juga kecerdasan kita dalam berbisnis." Sambung pak Dirga sambil menatap putra satu-satunya itu.


"Bener kata papa, Er. Lagian kamu juga masih bisa pulang kalau libur." Timpal mama Tania membenarkan ucapan suaminya tersebut.


"Baiklah, aku akan menuruti ucapan mama sama papa." Ucap Erlan pasrah. Sepertinya ia memang harus berpisah dengan Disya untuk sementara waktu. Toh suatu saat nanti ia juga akan di pertemukan kembali dengan Disya.


"Yasudah kalau begitu mari kita makan, sebelum makanannya berubah dingin, nanti jadi gak enak." Ajak mama Tania yang mendapat anggukkan kepala dari Erlan dan juga suaminya itu.

__ADS_1


Setelah itu keluarga itupun mulai menyantap makan malamnya dengan tenang.


***


Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Disya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, dan dua sahabatnya pun sudah menunggu Disya di depan pintu.


Disya berjalan menghampiri mama dan juga papanya yang saat ini sedang duduk di kursi meja makannya, kemudian ia mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian. "Mah, pah aku berangkat dulu ya. Bye,, bye." Pamit Disya lalu memberikan kecupan di pipi kiri sang mama.


"Kamu tidak sarapan dulu, Sya?" Tanya sang mama setengah berteriak karena putrinya itu sudah berlalu melangkahkan kedua kakinya pergi.


"Di kantin sekolah saja, mah." Teriak Disya tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Kebiasaan gadis ini selalu bangun kesiangan. Untung saja ada sahabatnya yang selalu setia menunggu dia." Ucap mama Mita sambil menatap kepergian putrinya yang terlihat sangat terburu-buru itu.


"Namanya juga anak kamu mah, mungkin itu sudah turunan dari kamu karena kamu dulu juga sering kesiangan kalau berangkat ke sekolah." Sahut sang suami yang mendapat pelototan kesal dari istrinya.


"Papa gak sadar, kalau papa juga sering terlambat datang ke sekolah! Enak saja nyalahin mama." Seru mama Mita membuat sang suami terkekeh pelan.


Mama Mita tidak menyahut, ia kembali memakan sarapannya yang tersisa sedikit lagi.


Sementara itu di luar rumah Disya nampak memperlihatkan senyumannya kepada Aditia dan juga Erlan. Sementara Erlan dan juga Aditia terlihat sedikit kesal karena sahabatnya yang satu ini sering sekali kesiangan.


"Ayo kita berangkat sebelum gerbang sekolah di tutup." Ajak Disya sambil menarik tangan Aditia dan berjalan menuju motor Aditia.


"Lo bareng gue." Ucap Erlan sembari menarik tangan Disya.


Oh, ok." Sahut Disya pasrah.


Aditia hanya dapat menghela nafasnya sambil menatap Erlan sedikit kesal, lalu setelah itu ia pun mulai menaiki motornya yang berwarna hitam itu.

__ADS_1


Erlan langsung menaiki motornya, dan memakai helmnya. "Cepat naik, Gladysa! Atau gue tinggalin." Perintah Erlan tidak sabaran.


"Sabar dong kak, ini juga gue mau naik." Sahut Disya kesal. Setelah itu Disya pun langsung naik ke atas motor Erlan, tak lupa ia juga memakai helm yang di berikan oleh Erlan kepada dirinya.


"Pegangan gue!" Titah Erlan sebelum ia melajukan kendaraan roda duanya itu. Disya tidak menyahut, namun ia tetap menuruti perintah Erlan atau ia akan di turunka oleh Erlan saat itu juga. Erlan tersenyum ketika ia merasakan tangan Disya sudah berada di pinggangnya, lalu setelah itu ia pun mulai melajukan kendaraan roda duanya menuju sekolahannya, begitupun juga dengan Aditia.


***


Erlan, Aditia dan juga Disya sudah tiba di salah satu sekolah SMA terkenal di kotanya. Beruntunglah pintu gerbang sekolah itu belum di tutup oleh si pak satpam sehingga ketiga remaja itu bisa masuk tanpa harus memohon kepada si pak satpam seperti hari sebelumnya ketika mereka datang terlambat.


Erlan segera memarkirkan kendaraan roda duanya, begitupun juga dengan Aditia. Sementara Disya ia langsung turun dari motor Erlan dan berniat untuk pergi begitu saja.


"Mau kemana lo, Sya? Helm lo belum di lepas tuh." Ucap Aditia sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Oh iya gue lupa." Sahut Disya sambil melepaskan helmnya dan memberikannya kepada Erlan. "Kalau gitu gue pergi ke kelas dulu ya, thanks kak Erlan sudah mau jemput gue, bye,,,bye... " Ucap Disya, lalu berlari kecil meninggalkan Erlan yang baru saja ingin mengeluarkan kata-katanya.


"Dasar gadis bodoh!" Gumam Erlan pelan.


Setelah itu Erlan pun langsung menaruh helm itu di atas motornya, kemudian ia dan juga Aditia langsung melangkahkan kedua kakinya menuju kelasnya yang terlihat sudah di mulai.


"Sepertinya kita telat lagi, Lan. Ini gara-gara si Disya sih. Dia selalu saja kesiangan, kita juga kan jadi ikut kesiangan." Aditia menggerutu sambil melangkahkan kedua kakinya dengan cepat.


"Jangan mengomel! Biasanya juga kita selalu kesiangan." Sahut Erlan membuat Aditia kesal.


"Iya karena Disya juga kita kesiangan." Seru Aditia.


"Berisik! Jangan nyalahin dia terus, lo sendiri yang mau jemput dia, gue kan tadi udah suruh lo berangkat duluan, tapi lo gak mau. Dasar aneh!" Omel Erlan sambil menghentikan langkah kakinya ketika ia sudah berada di depan pintu kelasnya.


Aditia tidak lagi menjawab ucapan Erlan, toh yang di ucapkan oleh Erlan memang ada benarnya juga. Jadi, untuk apa dia terus menyalahkan Disya. Dasar bodoh!

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2