Obsesi Cinta Sahabatku

Obsesi Cinta Sahabatku
Lepaskan tangan Disya!


__ADS_3

Mobil yang di kemudikan oleh Erlan sudah tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota itu. Erlan segera membawa mobil itu masuk ke tempat parkiran dengan sangat hati-hati. Sementara itu Disya yang sedari tadi terdiam, langsung mengernyitkan keningnya dan menatap Erlan.


"Kak, ngapain kita kesini? Kita mau belanja?" tanya Disya ketika Erlan sudah menemukan lahan parkir, dan memarkirkan kendaraan roda empatnya itu.


"Hmmm... Ayo kita turun sekarang." Ajak Erlan sembari melepaskan seatbeltnya.


"Hmm apa? Orang nanya malah di jawab hmmm. Dasar nyebelin!" Gerutu Disya kesal.


Erlan tersenyum, lalu ia pun mulai mencondongkan tubuhnya mendekati Disya,Disya yang melihat hal itupun seketika terkejut dan menahan tubuh Erlan.


"Lo mau ngapain kak? Ini di tempat parkiran!lo jangan macam-macam ya!" Seru Disya terlihat ketakutan.


"Memangnya aku mau ngapain, Disya! Aku hanya sekedar ingin membantumu melepaskan seatbelt saja, kamu sudah ketakutan seperti itu, bagaimana kalau aku melakukan sesuatu sama kamu, pasti kamu pinsan." Ucap Erlan sambil melepaskan seatbelt yang terpasang di tubuh Disya.


Mendengar hal itu tentu saja membuat Disya merasa malu, ia sudah berpikir yang aneh-aneh terhadap Erlan, namun nyatanya laki-laki itu hanya ingin membantu melepaskan seatbeltnya saja. Sungguh memalukan.


"Aku bisa melepaskannya sendiri." Sahut Disya sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Sudahlah, kelamaan nungguin kamu melepaskannya sendirian." Ucap Erlan sambil mendongak menatap Disya dengan seulas senyuman di wajah tampannya.


"Kenapa? Kamu malu hmmm." sambung Erlan kembali menjauhkan tubuhnya dari Disya.


"Siapa yang malu. Sudahlah sebaiknya kita turun saja." Ucap Disya sembari meraih pintu mobil dan membukanya dengan cepat. Disya langsung keluar dari mobil itu, tak lupa ia juga menutupnya kembali dengan sedikit keras membuat Erlan terkejut.


"Dasar gadis bodoh! Selalu saja bikin orang gemas." Batin Erlan sambil menatap Disya yang kini sudah berdiri di luar dengan kedua tangan bersidekap di dada. Erlan menghela nafasnya kasar, lalu setelah itu ia pun meraih pintu mobil dan membukanya secara perlahan. Erlan langsung turun dari dalam mobilnya, tak lupa ia juga menutup kembali pintu mobil itu dan berjalan menghampiri Disya.

__ADS_1


"Ayo kita pergi." Ajak Erlan sambil mengulurkan tangannya kepada Disya.


"Gue bisa jalan sendiri kak, tidak perlu lo gandeng." Ucap Disya tanpa berniat untuk meraih uluran tangan sahabatnya tersebut.


"Jangan protes, berikan tanganmu sekarang!" Seru Erlan sambil memperlihatkan tatapan matanya yang tajam membuat gadis itu sedikit takut dan pada akhirnya ia pun memberikan tangannya kepada Erlan. Erlan tersenyum, kemudian ia pun langsung menggenggam erat tangan Disya dan berjalan melangkahkan kedua kakinya memasuki pusat perbelanjaan tersebut.


***


Erlan menghentikan langkah kakinya ketika ia tiba di depan sebuah toko baju bermerk. Ia menatap Disya lalu tersenyum. "Kita lihat-lihat baju di sini dulu ya." Ucap Erlan dengan suaranya yang lembut tidak seperti biasanya.


"Kak Erlan mau beli baju?" Tanya Disya sambil menatap Erlan.


Erlan menggelengkan kepalanya. "Aku mau belikan dress untukmu." Ucap Erlan lalu menarik tangan Disya dan memasuki toko baju tersebut.


"Untukku? Tidak perlu kak, aku...."


"Ok baiklah, terserah lo saja kak." Ucap Disya kesal.


Erlan tersenyum senang, setelah itu ia pun langsung mencari dress berwarna merah yang sangat cocok untuk kulit putih Disya.


Disya hanya terdiam sambil menatap setiap pergerakkan Erlan, rasanya hari ini Erlan sangat-sangat aneh menurut Disya. Tidak biasanya Erlan bertingkah seperti itu, apakah Erlan sedang merencanakaj sesuatu? Ah tidak! Disya tidak boleh berpiiran negatif dulu terhadap sahabatnya itu.


"Disya..." Tiba-iba saja suara seorang laki-laki masuk ke dalam indera pendengaran Disya, Disya seketika menoleh ke asal sumber suara tersebut, ia mendapati seorang laki-laki dengan wajah yang lumayan tampan sedang berdiri dan tersenyum kepada dirinya.


"Ternyata benar kamu Disya." Ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Dino, laki-laki menjadi gebetan Disya.

__ADS_1


Disya seketika menyunggingkan senyumannya, tangannya melambai menyapa Dino. "Hai Din, kebetulan banget kita bertemu di sini. Lo sama siapa kesini?" Tanya Disya tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya yang cantik itu.


"Hay juga Sya. Iya sangat kebetulan sekali kita bertemu di sini, aku sama temenku kesini, kamu sendiri sama siapa?" Sahut Dino sekaligus bertanya.


"Emm aku sama sahabatku." Disya menghela nafasnya sembari melirik ke toko baju itu, beruntunglah Erlan terlihat sedang fokus mencarikan dirinya dress berwarna merah itu, sehingga Erlan tidak melihat kehadiran Dino saat ini.


"Gue tidak boleh membiarkan kak Erlan melihat Dino, atau Dino akan dalam bahaya." Batin Disya sambil menatap Erlan dari kejauhan.


Disya kembali mengalihkan pandangannya kepada Dino, lalu ia pun tersenyum sangat manis. "Oh iya Din,aku ke dalam dulu ya, mau lihat-lihat baju." Ucap Disya beralasan.


"Tunggu, Sya." Dino langsung mencekal tangan Disya, membuat gadis itu seketika menatapnya penuh tanda tanya.


"Ya, kenapa Din?" Tanya Disya pelan.


"Besok malam kamu ada waktu gak? Aku ingin mengajakmu jalan." Ucap Dino sambil menatap Disya penuh harap.


"Emm sepertinya ada, tapi mama pasti tidak akan mengizinkan aku keluar malam deh." Sahut Disya membuat Dino tersenyum.


"Kalau begitu bolehkah aku maen ke rumah kamu?" Tanya Dino tanpa melepaskan cekalan tangannya itu.


"Eh, gimana ya, aku...." Ucapan Disya tercekat di tenggorokkn ketika suara dingin seorang laki-laki terdengar di telinganya.


"Lepaskan tangan Disya!" Seru laki-laki itu yang tak lain adalah Erlan.


Deg...

__ADS_1


Seketika detak jantung Disya berdegup kencang, suara dingin Erlan benar-benar sangat menakutkan.


__ADS_2