
"Oh jadi dia yang kamu maksud sahabatmu itu?" Dino menatap Erlan dengan tajam, tangannya masih saja mencekal tangan Disya tidak menghiraukan ucapan dingin Erlan membuat Erlan semakin murka.
"Gue bilang, lepaskan tangan Disya! Apa lo tidak mengerti bahasa manusia!" Seru Erlan sembari menepis kasar tangan Dino membuatnya langsung terlepas.
"Ayo kita pergi." Ajak Erlan sembari menggenggam erat tangan Disya, Disya yang sedari tadi hanya terdiam pun menurut, ia tidak ingin membuat keributan di sana, apalagi ketika ia melihat raut wajah Erlan yang sangat menakutkan itu, semakin membuat Disya ingin meninggalkan tempat itu.
"Sya! Tunggu." Panggil Dino sambil menarik tangan kiri Disya, membuat Disya langsung menghentikan langkah kakinya.
"Dino, aku harus pergi. Tolong lepaskan tanganku." Pinta Disya dengan wajah yang memohon.
"Tapi... "
"Lepaskan brengsek! Sekali lagi lo deketin cewek gue, lo akan tanggung sendiri akibatnya. Dan satu lagi, jangan sekali-kali lo berani nyentuh Disya, atau gue patahin tangan li dua-duanya, mengerti." Ucap Erlan semakin dingin dan juga sorot matanya yang semakin tajam. Mungkin jika mereka berada di luar, Erlan sudah pasti memberikan pukulan di wajah tampan Dino itu, namun sayangnya saat ini mereka sedang berada di dalam. Dan Erlan hanya bisa menahan amarahnya saja.
"Siapa lo hah! Lo bukan pacarnya Disya, jadi lo tidak usah ngaku-ngaku sebagai pacarnya Disya. Dan lo tidak berhak melarang gue untuk mendekati Disya ataupun menyentuhnya, mengerti." Seru Dino mulai terpancing emosinya. Bahkan wajahnya nampak memerah menahan aamarah sama seperti Erlan.
"Sudah, kalian jangan berantem di sini, malu di lihatin sama orang-orang." Disya mulai mengangkat suaranya, sesekali ia melirik penjaga toko pakaian itu yang saat ini sedang melihat pertunjukkan antara Erlan dan juga Dino.
"Din, lepaskan tangan gue sekarang. Gue harus pergi." Ucap Disya kembali menatap Dino dengan tatapan matanya yang memohon membuat Dino langsung melepaskan cekalan tangannya dengan pasrah.
"Ayo kita pergi." Kini Disya beralih pada Erlan, laki-laki posesif itu terlihat semakin emosi ketika ia mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Dino tadi. Namun Erlan juga tidak mau membuat Disya malu, dan 0ada akhirnya ia pun pergi meninggalkan Dino yang kini sedang mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Brengsek! Gue tidak akan menyerah, gue pasti bisa mendapatkan Disya. Lihat saja nanti." Geram Dino seraya mengusap wajahnya kasar.
"Kamu kemana saja sih, Din. Daritadi aku cariin juga, malah berdiri di sini." Ucap seorang perempuan dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Sudah selesai? Sebaiknya kita pulang sekarang." Bukannya menjawab Dino malah bertanya dan mengajak wanita itu untuk pulang. Moodnya hancur karena Erlan tadi.
"Pulang? Belum juga satu jam kamu sudah mau mengantarku pulang, gak asik banget sih." Protes wanita yang memiliki tinggi badan 165 cm itu.
"Kalau lo masih mau berada di sini, silahkan. Tapi gue mau pulang." Ucap Dino sambil menatap wanita itu dengan tajam, dan juga nada suaranya yang terdengar dingin membuat wanita itu bingung.
"Kamu kenapa sih, Din? Tadi waktu kita datang kesini, kamu biasa saja, kenapa sekarang mendadak berubah?" Tanya wanita itu sembari menatap Dino lekat.
"Tidak apa-apa, gue hanya merasa bosan dan ingin istirahat." Sahut Dino sembari melangkahkan kedua kakinya meninggalkan wanita cantik itu.
"Dino tunggu." Panggil wanita itu sambil mengejar langkah kaki Dino yang panjang itu. Dino terus saja berjalan, ia sama sekali tidak memperdulikan panggilan dari wanita cantik tersebut. Sementara itu penjaga toko pakaian yang tidak jadi di beli oleh Erlan pun menghela terlihat nafasnya.
"Huh! Dramanya gak seru banget, masa udahan sih." Gerutu penjaga toko tersebut sembari melangkahkan kedua kakinya pergi menuju tempat duduknya.
***
"Lepaskan tangan aku, kak." Pinta Disya pelan. Meskipun ia sedikit takut dengan tatapan tajam itu, namun ia tetap berusaha untuk terlihat tenang.
"Katakan! Kenapa kamu masih bertemu dengan laki-laki sialan itu? Bukankah sudah aku bilang, jauhi dia dan jangan pernah bertemu dengan dia lagi. Apa kamu tidak mengerti juga hah!" Seru Erlan tanpa mau melepaskan tangan Disya.
"Itu hanya sebuah kebetulan saja, kak. Lagian bukannya kak Erlan sendiri yang ngajakin aku kesini? Jadi untuk apa kak Erlan marah-marah hanya karena aku tidak sengaja bertemu dengan Dino." Ucap Disya sangat kesal. Padahal jelas-jelas Erlan yang membawanya ke pusat perbelanjaan itu, dan Disya sendiri tidak tahu jika dirinya akan bertemu dengan Dino secara kebetulan.
"Jangan jadikan aku sebagai alasanmu, Disya. Siapa tahu waktu kamu sebelum berangkat, kamu sudah menghubungi laki-laki sialan itu dan menyuruhnya untuk datang kemari." Sahut Erlan semakin memancing kekesalan Disya.
"Hilangkan pikiran negatifmu itu, kak. Sebelum berangkat, aku sama sekali tidak tahu kalau kamu akan membawaku kemari, jadi, bagaimana mungkin aku bisa menyuruh Dino untuk datang kemari? Kamu pikir aku seseorang dari masa depan yang bisa tahu tempat mana yang akan aku datangi begitu?" Ucap Disya dengan nada suaranya yang semakin kesal.
__ADS_1
Mendengar hal itu tentu saja membuat Erlan berpikir keras, apa yang di ucapkan oleh gadis itu memang ada benarnya juga, Disya tidak mungkin menghubungi laki-laki sialan itu dan menyuruhnya untuk datang ke pusat perbelanjaan tersebut, sementara Disya saja tidak tahu kalau dirinya akan membawa Disya ke pusat perbelanjaan itu. Mungkin saja yang di ucapkan oleh Disya memang benar, mereka bertemu hanya sebuah kebetulan saja. Pikir Erlan.
"Kalau memang sebuah kebetulan bukankah seharusnya kamu menghindari dia? Bukannya malah mengobrol asik seperti tadi." Ujar Erlan mulai mengubah nada suaranya sedikit. Karena bagaimanapun juga, ia tetap tidak suka jika Disya bertemu dengan laki-laki sialan itu, apalagi sampai tangan Disya di pegang oleh Dino seperti tadi, membuat hati Erlan panas seperti terbakar api.
"Aku memang ingin... " Ucapan Disya tercekat di tenggorokan ketika suara tidak asing masuk ke dalam indera pendengarannya.
"Disya, Erlan... Wah sangat kebetulan sekali kalian sedang ada di sini? Gue pikir, gue salah lihat tadi." Ucap seseorang itu yang tak lain adalah Aditia sambil memperlihatkan tampang menyebalkannya di mata Erlan.
"Sialan! Kenapa bisa ketemu sama si kutukupret di sini sih. Bukankah itu akan menggagalkan rencana gue untuk mengungkapkan perasaan gue sama Disya. Aaarghh menyebalkan." Batin Erlan sembari menatap kesal Aditia yang tidak memiliki kesalahan apapun.
"Kak Adit! Ngapain di sini?" Tanya Disya terlihat senang.
"Biasa, Sya. Nemenin mama tersayang berbelanja. Lo cuma berdua doang sama Erlan? Amanda tidak ikut?" Adit bertanya sambil menatap Disya dan juga Erlan bergantian.
"Iya kak, Amanda lagi ada saudaranya dari luar kota, jadinya cuma kita berdua doang deh." Jawab Disya sembari menarik tangannya yang sedari tadi di genggam oleh Erlan. Beruntunglah Aditia tidak melihatnya, jika dia sampai melihatnya sudah pasti berbagai macam pertanyaan akan keluar dari mulutnya yang cerewet bin bawel itu. Adit itu kan sangat kepo.
"Daripada lo jalan berdua doang, bagaimana kalau lo sama Erlan ikut gabung sama gue aja? Mama gue pasti sangat senang." Tawar Aditia sambil melebarkan senyumannya.
"Eng... "
"Boleh kak, kebetulan gue juga udah lama gak ketemu sama tante Gina." Sahut Disya menyela ucapan Erlan yang belum selesai.
"Kalau begitu ayo kita kesana." Ajak Aditia sembari menarik tangan Disya dan membawanya pergi tanpa memperdulikan raut wajahnya Erlan yang terlihat memerah itu.
"Sialan si Aditia. Sudah gagalin rencana gue, sekarang malah menggandeng tangan Disya dan ninggalin gue di sini, dasar kutukupret." Gerutu Erlan sembari mengikuti langkah kaki Aditia dan juga Disya.
__ADS_1
Bersambung