
Disya menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, air matanya mulai mengalir keluar ketika ia mengingat ucapan mamanya tadi. Ia benar-benar tidak habis pikir mengapa mamanya bisa menjodohkan dirinya dengan sahabatnya sendiri? Apalagi mamanya tahu jika dirinya tidak mencintai sahabatnya itu, tetapi sang mama tetap saja memaksanya untuk menerima perjodohan itu, sungguh menyebabkan.
"Aaarghh.... Mama jahat, kenapa mama menjodohkan aku dengan kak Erlan? Bukankah mama tahu kalau aku itu hanya menganggap kak Erlan sebagai sahabatku sendiri? Tapi, kenapa kekeh memaksaku untuk menerima perjodohan ini?" Batin Disya seraya menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Aku harus bicara sama kak Erlan, kak Erlan pasti sudah di beritahu oleh tante Tania tentang perjodohan ini." Gumam Disya sambil bangkit dari tempat tidurnya. Disya kemudian meraih benda pipih yang berada di atas nakas, kemudian ia pun segera melakukan panggilan kepada sahabatnya, Erlan.
"Iya, Sya. Ada apa?" Tanya Erlan dari balik telpon sana.
__ADS_1
"Kak, aku mau berbicara sama kakak tentang perjodohan kita." Ucap Disya tanpa basa-basi.
"Oh kamu sudah tahu masalah ini?" Tanya Erlan terdengar santai.
"Iya, aku baru di beritahu sama mama tentang perjodohan kita. Dan aku ingin membahas masalah ini sama kak Erlan." Ucap Disya di iringi dengan helaan nafasnya.
"Bahas apalagi Dya? Bukankah tante Mita sudah memberitahumu tentang perjodohan kita ini? Lalu, kamu mau membahas apalagi?" Tanya Erlan sembari mengernyitkan kening di seberang telpon sana.
__ADS_1
"Tidak bisa, Disya. Perjodohan ini sudah menjadi kesepakatan kedua orangtua kita, dan aku tidak bisa menolaknya. Kalau kamu memang tidak mau di jodohkan sama aku, kamu bisa bicara sama kamu, dan kamu boleh menolaknya." Jawab Erlan dengan nada suara seperti biasanya. Meskipun ia merasa kecewa, dan juga marah, namun ia masih bisa menyembunyikan dari Disya. Bahkan nada suaranya pun sama sekali tidak berubah.
Disya menghela nafasnya panjang, kemudian ia berjalan menuju jendela kamarnya. "Aku sudah bilang sama mama, kalau aku menolak perjodohan ini, tetapi mama tetap memaksaku untuk menerima perjodohan ini. Mama sama sekali tidak perduli perasaanku, padahal mama tahu kalau aku hanya menganggap kak Erlan sebagai sahabatku tidak lebih. Lagian aku juga yakin jika cinta kak Erlan terhadapku sudah menghilang, iya kan kak." Ucap Disya membuat Erlan tersenyum kecut di seberang telpon sana.
"Sudahlah, Disya. Sebaiknya kamu menuruti ucapan mama kamu saja, karena mau bagaimana pun kamu berusaha untuk menolak perjodohan ini, mama kamu tetap akan memaksamu. Jadi, lebih baik kamu menerimanya saja. Lagian tidak ada salahnya jika kita menikah nanti. Kita sudah mengenal satu sama lain, dan juga pernikahan kita juga masih lama, mungkin dengan seiring berjalannya waktu, kamu bisa mencintai aku, seperti aku mencintai kamu." Ucap Erlan terdengar biasa saja namun membuat hati Disya sedikit terusik.
"Yasudah aku tutup dulu telponnya ya, aku mau mandi dulu." Sambung Erlan sambil menghela nafasnya kasar. Lalu setelah itu Erlan pun langsung memutuskan sambungannya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Disya.
__ADS_1
"Sama seperti aku mencintai kamu? Apakah kak Erlan masih mencintaiku selama ini? Ya Tuhan... Kenapa semuanya jadi seperti ini sih, aku hanya ingin menikah dengan laki-laki pilihanku sendiri, bukan pilihan mamaku. Apa aku salah?" Batin Disya sembari menatap langit yang terlihat sangat cerah namun tidak secerah hatinya.
Bersambung.