
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, saat ini Disya, pak Damar dan juga mama Mita sedang berada di ruang makan. Keluarga itu sedang menikmati sarapan paginya dengan tenang, tanpa ada satupun yang berbicara.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka pun sudah menyelesaikan sarapannya masing-masing, Disya langsung beranjak dari tempat duduknya, ia berniat untuk kembali ke dalam kamarnya, namun niatnya terhenti ketika suara sang mama terdengar di telinganya.
"Mau kemana sayang?" Tanya sang mama lembut sembari menatap putri semata wayangnya itu.
"Mau ke kamar mah, aku mau mandi dulu." Jawab Disya sembari memperlihatkan senyuman di wajahnya yang cantik itu.
"Nanti saja mandinya, soalnya mama dan papa mau bicara sama kamu." Ucap sang mama membuat Disya penasaran.
"Soal apa mah?" Tanya Disya kembali duduk di tempatnya tadi.
"Soal pertunangan kamu dengan Erlan." Jawab mama Mita tanpa basa-basi.
__ADS_1
Mendengar jawaban sang mama tentu saja membuat Disya terkejut. "Pertunanganku sama kak Erlan? Mama becanda ya, sejak kapan aku bertunangan sama kak Erlan?" Tanya Disya dengan nada suaranya yang mulai berubah tidak bersahabat.
"Sejak nanti malam. Jadi, mama harap kamu persiapkan dirimu untuk acara nanti malam, ok." Jawab sang mama dengan santai.
"Mah, aku tidak akan bertunangan sama kak Erlan, lagian bukankah mama hanya menjodohkanku saja, kenapa harus ada acara pertunangan segala?" Ucap Disya sembari menatap sang mama dengan kesal.
"Sayang, apa salahnya kalau kamu bertunangan dulu sama Erlan? Hasilnya juga akan tetap sama kan. Ujung-ujungnya kamu bakalan nikah juga sama Erlan."
"Disya. Pertunangan ini tetap akan di adakan karena Erlan yang memintanya. Jadi, mau tidak mau kamu harus melakukan pertunangan ini, mengerti." Mama Mita menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan, kemudian ia pun berkata kembali. "Lagian acara pertunangannya juga sebentar kok sayang, dan tidak mengundang siapa-siapa, hanya keluarga kita sama keluarga Erlan saja."
Disya nampak terdiam sembari menatap lurus ke depan, ia sama sekali tidak menyangka jika pertunangan ini adalah permintaan dari Erlan sendiri.
"Disya, papa tau kamu masih belum bisa menerima perjodohan ini, apalagi tiba-tiba kamu akan bertunangan dengan Erlan. Tapi, papa sama mama melakukan ini karena papa sama mama sangat yakin jika Erlan adalah laki-laki yang sangat pantas untuk menjadi pendamping kamu di masa depan." Kini pak Damar pun turut buka suara sembari menatap anak gadisnya tersebut.
__ADS_1
"Terserah kalian saja, atur semuanya." Ucap Disya seraya bangkit dari atas kursinya lalu berjalan pergi meninggalkan kedua orangtuanya tersebut.
***
Disya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, ia menatap langit-langit kamarnya kemudian ia pun menghela nafasnya dengan kasar.
"Tunangan! Kenapa kak Erlan meminta bertunangan denganku secara dadakan begini apakah tidak cukup dengan perjodohan saja, toh hasilnya pun akan tetap sama juga." Gumam Disya kembali menghela nafasnya kasar.
"Apa dia sengaja ingin mengikatku agar aku tidak bisa berdekatan dengan laki-laki lain? Dia ternyata memang pintar, aku benar-benar bodoh jika aku berpikir bahwa aku bisa mencari laki-laki yang aku cintai ketika aku jauh dari kak Erlan. Sungguh sial sekali nasibku." Disya kembali bergumam sambil beranjak dari tempat tidurnya.
Ia mulai menapakkan kakinya di atas lantai kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. "Daripada gue pusing mikirin pertunangan itu, sebaiknya gue mandi, terus ajak Amanda jalan-jalan biar gue gak stress sendiri." Ucap Disya sambil meraih kimono dan membawanya masuk ke dalam kamar mandinya.
Bersambung.
__ADS_1