
Erlan yang mendapat pertanyaan itupun seketika terdiam, nampakny ia sudah salah bicara terhadap gadis itu, bakan raut wajah gadis itu terlihat sendu, membuat Erlan merasa bersalah atas ucapannya tadi.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk... "
"Sudahlah kak, kakak tidak perlu meminta maaf sama aku. Kak Erlan mau berpikiran seperti apapun terserah kak Erlan, aku tidak berhak melarangnya kan." Sela Disya dengan cepat.
"Ok guys, sekarang sudahi dramanya ya, kitakan sedang merayakan kelulusan kak Erlan sama kak Adit, jadi sebaiknya kita bersenang-senang dan menghabiskan makanan yang ada di atas meja ini, ok." Ucap Amanda mulai menengahi, ia tidak ingin acara makan malam untuk merayakan kelulusan Erlan dan Adit rusak gara-gara hal yang menurutnya sepele.
"Betul kata Amanda, sebaiknya kita menikmati makan malam ini dengan tenang dan damai, dan setelah makan malam selesai kita pergi ke tempat karaoke, bagaimana, setuju gak?" Aditia ikut menimpali sambil menatap sahabatnya satu persatu.
Amanda nampak mengangguk setuju, sementara Disya, ia hanya terdiam dengan tatapan matanya yang tak lepas dari wajah Erlan begitupun juga dengan Erlan, keduanya saling berpandangan tanpa ada yang bersuara sedikit pun, bahkan ucapan Amanda dan juga Aditia mereka sama sekali tidak menghiraukannya.
__ADS_1
"Woy!!! Malah saling pandangan. Bukannya nyahut kek." Teriak Aditia membuat Disya terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya kepada Aditia.
"Sialan lo, kak. Jantung gue hampir aja copot gara-gara teriakan lo barusan." Ucap Disya sembari memberikan cubitan maut di perut Aditia, membuat Aditia mengaduh kesakitan.
"Aaaaawww... Sakit Gladysa. Gila ya lo nyubit gue gak pake perasaan banget." Protes Aditia sembari menangkap tangan Disya, agar Disya mau menghentikan cubitan mautnya itu.
"Bodoamat, salah lo sendiri bikin gue kaget, untung gue gak jantungan, coba kalau gue jantungan, bisa-bisa gue mati muda gara-gara lo." Ucap Disya kesal.
"Lo kenapa melototin gue, Lan? Lo juga mua gue cium?" Tanya Aditia sambil memajukan bibirnya membuat Erlan, Disya dan juga Amanda jijik.
"Kak Adit, lo menjijikan banget sih. Bikin gue gak nafsu makan tau gak sih." Omel Amanda sembari memukul bibir Aditia yang monyong itu.
__ADS_1
"Lebay lo, bilang aja lo juga pengen merasakan kecupan bibir gue kan." Goda Aditia sembari mencolek dagu Amanda membuat gadis itu langsung memberikan tatapan matanya yang tajam, serta pukulan yang mematikan di tangan Aditia.
"Aaaw... Sakit Manda, gak lo gak Disya, hobinya aniaya gue, dasar wanita jahat." Seru Aditia sembari duduk kembali di tempatnya.
"Lagian lo tuh nyebelin banget kak Adit, lo tuh udah bikin mood putri yang cantik ini hilang gara-gara bibir lo yang monyong itu." Sahut Amanda yang mendapat dengusan kesal dari Aditia.
"Astaga... Lo bener-bener ya minta gue cium, lama-lama gue karungin juga lo." Ucap Aditia sembari menatap sahabatnya yang kini sedang menikmati makanannya kembali. "Dasar kambing! Tadi saja bilang kagak nafsu makan, sekarang malah makannya lahap banget. Memang mulut wanita itu tidak bisa di percaya." Aditia menggerutu dengan tatapan matanya yang tak lepas dari wajah Amanda, gadis itu nampak sangat lahap menyantap makanan favoritnya.
Sementara itu, Disya dan juga Erlan kini sudah kembali menyantap makanannya masing-masing, mereka sama sekali tidak memprdulikan wajah Aditia yang terlihat kesal itu.
Bersambung.
__ADS_1