
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Keluarga Mahesa baru saja tiba di kediaman Disya. Mereka di sambut hangat oleh pak Damar dan juga mama Mita. Sementara Disya, ia masih berada di dalam kamarnya.
Mama Mita langsung menyuruh keluarga Mahesa untuk masuk dan duduk di kursi sofa yang berada di ruang tamu. Di atas meja sana sudah tersedia, minuman serta makanan ringan lainnya yang sengaja di siapkan oleh mama Mita sendiri khusus untuk menyambut calon besannya itu.
"Kalian duduk dulu di sini ya, aku panggil Disya dulu." Ucap mama Mita setelah beberapa menit mereka berada di ruangan itu.
Tante Tania, pak Putra dan juga Erlan menganggukkan kepalanya secara bersamaan, lalu setelah itu mama Mita pun langsung beranjak dan berjalan menuju anak tangga. Sedangkan pak Damar, ia kembali mengobrol dengan pak Putra, calon besannya itu.
"Gak terasa ya Put, anak-anak kita sudah besar dan sebentar lagi mereka akan tunangan." Ucap pak Damar dengan senyuman yang mengembang dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Iya, Dam. Kenapa waktu berlalu sangat cepat sekali, rasanya baru kemarin mereka main petak umpet di belakang rumahmu. Eh sekarang sudah sebesar ini." Sahut pak Putra membuat pak Damar terkekeh pelan.
"Iya betul, selain petak umpet anakmu ini juga sering jailin anakku. Ingat tidak waktu dulu saat Disya nyari boneka kesayangannya?" Tanya pak Damar sembari mengingat masa lalu Disya dan juga Erlan.
"Tentu saja aku ingat, boneka itu di bawa sama Erlan dan di simpan di lemarinya. Kita sampai kelimpungan nyari-nyari eh taunya ada di lemari Erlan." Sahut pak Putra membuat pak Damar, tante Tania tertawa, sementara Erlan, ia hanya tersenyum seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenangan masa kecilnya bersama Disya memang sangat memalukan, apalagi ketika Erlan mengingat moment di mana ia sering membuat Disya menangis dan sering menyembunyikan barang kesukaan Disya membuat para orang tua gemas.
"Kalian jangan bicarakan masa lalu itu lagi, itu sangat memalukan." Ucap Erlan kembali membuat para orangtua itu tertawa dan menatap ke arahnya.
Pak Putra tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan. "Betul itu, dulu jail sekali dan sering bikin Disya nangis, sekarang ngebet banget, gak mau kehilangan Disya." Ucap pak Putra membenarkan ucapan pak Damar tadi membuat Erlan tersenyum malu. Pemuda yang selalu terlihat dingin itu, ternyata bisa juga malu, sungguh menggemaskan.
__ADS_1
"Mah, papa sama om tuh ngeledekin aku terus." Adu Erlan kepada sang mama seperti anak kecil.
Tante Tania tersenyum seraya mengusap bahu putranya tersebut. "Biarkan saja, nanti papamu mama kasih pelajaran kalau sudah sampai rumah." Sahut tante Tania membuat Erlan tersenyum senang.
"Pelajaran apa mah, nanti papa tidak kasih uang bulanan nih." Canda pak Putra membuat tante Tania mendengus pelan.
"Tidak apa-apa kalau papa tidak mau kasih uang bulanan, tapi mama pastikan papa tersiksa setiap malamnya." Sahut tante Tania membuat pak Putra seketika membulatkan kedua bola matanya sempurna. Sementara pak Damar yang mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh tante Tania pun terlihat pura-pura tidak mendengarnya, sementara Erlan, ia terlihat bingung, namun ia tidak berniat untuk menanyakannya kepada sang mama.
"Lihatlah, Dam. Calon besanmu itu sungguh tidak punya perasaan." Adu pak Putra kepada pak Damar.
__ADS_1
"Kalau soal itu, aku angkat tangan, aku tidak bisa membantumu Put." Sahut pak Damar seraya mengangkat kedua tangannya ke atas. Pak Putra mendengus kesal, kemudian ia pun meraih kopi panas dan meneguknya perlahan. Percakapan itu berakhir ketika mereka melihat kedatangan Disya dan juga mama Mita.
Bersambung.