Obsesi Cinta Sahabatku

Obsesi Cinta Sahabatku
Mendukung mu


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Saat ini Erlan dan Disya sudah tiba di kediaman Disya. Erlan memarkirkan kendaraan roda empatnya, lalu membuka seatbeltnya dan menatap Disya membuat gadis itu sedikit salah tingkah.


"Apa tidak ada yang ingin kamu ucapkan sebelum aku pergi ke luar negeri?" Tanya Erlan dengan nada suaranya yang lembut. Ia masih berharap jika Disya menahannya dirinya agar tidak berangkat ke luar negeri. Dengan begitu ia pun akan berusaha untuk tetap tinggal di kota ini demi gadis itu.


Disya terkekeh pelan seraya melepaskan seatbeltnya. Gadis itu menatap Erlan dengan tatapan seperti biasanya. "Kak Erlan becanda ya, kak Erlan kan minggu besok ke luar negeri nya, jadi yasudah aku juga ngucapinnya minggu besok saja, ketika aku mengantar kak Erlan ke Bandara." Jawab Disya membuat Erlan terlihat kecewa. Bukan ini yang ingin Erlan dengar dari mulut Disya. Ah gadis ini kenapa tidak peka sekali sih.


Erlan menghela nafasnya kasar, ia mencondongkan tubuhnya mendekati Disya, membuat gadis itu terlihat gugup.


"Kak Erlan mau ngapain?" Tanya Disya panik, kedua tangannya berusaha untuk menahan tubuh Erlan, namun sayangnya tidak berhasil.

__ADS_1


"Menurutmu aku mau ngapain?" Erlan berbalik nanya dengan seulas senyuman di wajahnya.


"Jangan macam-macam ya kak, ini di halaman rumah aku loh." Ucap Disya kembali berusaha untuk mendorong tubuh Erlan. Namun tetap saja tubuh Erlan tidak bergerak sama sekali.


"Disya apakah kamu senang dengan kepergianku?" Tanya Erlan dengan tiba-tiba tanpa menghiraukan ucapan Disya tadi.


"Ke,,,, kenapa kak Erlan menanyakan hal ini?" Disya berbalik nanya sembari menatap kedua bola mata Erlan dari jarak yang sangat dekat. Bola mata yang jernih itu tersimpan sebuah kesedihan yang Disya sendiri tidak mengetahuinya. Karena menurut Disya, selama ini Erlan sudah melupakan dirinya, bahkan Erlan pun tidak terlalu posesif ketika ada laki-laki yang mencoba untuk mendekati dirinya. Namun sayangnya Disya tidak tahu, jika selama ini pula Erlan berusaha untuk menahan rasa cemburu sekaligus amarahnya ketika melihat laki-laki lain berusaha untuk mendekati dirinya.


"Emm kak Erlan, tolong jangan seperti ini, aku,,,, aku tidak nyaman." Lirih Disya seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


"Jawab dulu pertanyaanku, Gladysa! Apakah kamu senang jika aku pergi dan menjauh dari dirimu?" Bukannya mengindahkan ucapan Disya, Erlan justru kembali bertanya, tangan satunya menangkap dagu Disya dan membuat gadis itu kembali berhadapan dengan dirinya.


"Tentu saja tidak kak. Mana ada sahabat yang senang ketika dia akan di tinggalkan oleh sahabatnya sendiri? Apalagi kak Erlan itu sudah sedari kecil selalu bersamaku, tentunya aku akan kehilangan jika kak Erlan pergi." Disya menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya perlahan.


"Tapi, aku juga tidak bisa menahanmu kak, karena aku tahu semua itu demi kebaikanmu dan demi masa depanmu. Dan aku sebagai sahabatmu, tentunya akan selalu mendukungmu, sampai kamu sukses." Sambung Disya pelan. Erlan yang mendengar hal itupun seketika menarik nafasnya dalam, kemudian ia pun kembali menjauhkan tubuhnya dari Disya.


"Turun dan masuklah, nanti tante Mita khawatir." Pinta Erlan tanpa menatap wajah Disya membuat gadis itu bingung, namun ia memilih untuk tidak bertanya dan turun dari dalam mobil itu.


Setelah Disya turun dari dalam mobilnya, Erlan pun kembali mengemudikan mobil itu pergi meninggalkan kediaman Disya.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Seharusnya gue tidak berharap apapun dari dia. Bukankah gue sudah tahu jawabannya." Batin Erlan seraya memukul setir kemudinya, guna melampiaskan kekesalannya.


Bersambung.


__ADS_2