
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa hari kelulusan pun sudah tiba. Semua siswa, siswi SMA Bima Sakti sedang merayakan kelulusannya masing-masing, mereka saling mencoret bajunya bergantian, namun tidak banyak juga dari mereka yang lebih memilih merayakan kelulusannya dengan acara makan-makan dan berbagi kepada yang membutuhkan dari hasil uang saku yang mereka kumpulkan, dan memilih untuk menyimpan baju itu sebagai kenangan mereka.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Erlan, Aditia, Disya dan juga Amanda saat ini mereka sedang berada di salah satu restaurant yang cukup terkenal di kota itu. Mereka sedang menikmati makan malamnya masing-masing, di iringi dengan canda tawa mereka yang cukup keras. Beruntunglah Erlan memilih makan di ruang VIP restaurant itu, sehingga mereka tidak mengganggu pengunjung lainnya.
"Kak Adit, rencananya mau kuliah dimana?" Tanya Amanda sembari mengunyah makanannya.
"Kebiasaan, kalau mau ngomong tuh makanannya di telen dulu Maemunah! Jadi gak muncrat kena muka gue." Omel Aditia sembari mengelap wajahnya yang sedikit kena muncratan makanan yang di kunyah oleh Amanda.
"Sorry, sorry gak sengaja kak." Sahut Amanda mengelap wajah Aditia dengan tisu kering. "Jadi, kak Adit mau kuliah dmana nih?" Amanda kembali bertanya.
"Hmm pastinya kuliah di sini lah, gue males kuliah jauh-jauh." Sahut Aditia sambil meraih segelas minuman miliknya itu.
"Lagian kalau gue kuliah jauh-jauh kasian lo berduanya nanti." Sambung Aditia sebelum ia meneguk minumannya.
"Kasihan kenapa?" Kini Disya bertanya bingung kepada Aditia.
"Ya kasian, nanti kalau kalian kangen sama gue gimana?" Ucap Aditia dengan bangganya.
__ADS_1
"Dih amit-amit, siapa juga yang bakalan kangen sama lo, malahan gue seneng kalau lo jauh-jauh dari gue." Sahut Disya sembari tersenyum mengejek Aditia.
"Iya tuh, bener kata Disya, mana mungkin kita kangen sama orang nyebelin kayak kak Adit, justru kita sebaliknya merasa sangat senang karena satu-satunya sahabat kita yang nyebelin ini pergi." Timpal Amanda dengan membuat Adit kesal setengah mati. Bisa-bisanya dia memiliki sahabat seperti Disya dan juga Amanda, bukankah sahabat pergi itu harusnya merasa sedih? Ini justru malah sebaliknya. Sungguh menyebalkan.
"Astagaaa... Kenapa gue bisa memiliki sahabat macam kalian berdua sih, untungnya gue masih ada Erlan, sahabat gue yang baik hati dan penyayang. Iya gak Lan?" Ucap Aditia seraya menatap Erlan yang hanya menatap para sahabatnya berbicara.
"Gak tuh. Gue juga seneng kalau lo pergi." Sahut Erlan membuat Aditia merasa di bully.
"Nah kan kak Erlan saja senang kalau kak Aditia pergi, kasian banget sih kak Aditia." Ejek Amanda sambil menyunggingkan senyumannya membuat Aditia bertambah kesal.
"Wah bener-bener nih anak minta di cium sama gue." Seru Aditia sembari mencubit hidung Amanda dengan kencang membuat gadis itu langsung melayangkan pukulan saktinya.
Aditia hanya tertawa, ia sangat puas melihat wajah Amanda yang memerah itu, sementara Disya ia hanya menggelengkan kepalanya sembari meneguk minumannya. Adit kalau mencet hidung orang emang gak kira-kira.
"Oh iya Lan, lo jadi kuliah di luar negeri?" Kini Aditia mulai bertanya kepada Erlan. Dan seketika itu pulang pandangan Disya dan juga Amanda tertuju pada Erlan.
Erlan terlihat menghela nafasnya, ia menatap satu persatu sahabatnya, lalu ia pun kembali menghela nafasnya kasar. "Ya, gue berangkat minggu besok." Jawab Erlan terdengar berat. Seketika raut wajah Disya, dan juga Amanda berubah, sepertinya kali ini mereka akan benar-benar di tinggal oleh salah satu sahabatnya.
__ADS_1
"Ya... Tidak seru kalau lo pergi. Tapi kalau itu memang keputusan lo, kita hanya bisa pasrah dan berdoa agar lo baik-baik saja di sana." Ucap Aditia di iringi dengan helaan nafasnya.
"Mau bagaimana lagi, semuanya sudah kesepakatan antara gue dan kedua orangtua gue, gue sebagai anak yang berbakti harus mengikuti mereka." Sahut Erlan dengan tatapan matanya yang tertuju pada Disya. "Disya... Kalau kamu mencegah kepergianku, aku pasti akan berusaha untuk tetap di sini, meskipun aku harus melawan kedua orangtuaku sendiri." Batin Erlan berharap gadis yang di cintainya itu menahan dirinya untuk tidak pergi.
"Kenapa hatiku tidak rela ya melepas kak Erlan pergi? Tapi, itukan demi kebaikan kak Erlan, dan aku tidak boleh menahannya." Batin Disya sambil menggenggam erat tangannya sendiri.
"Disya, Amanda, kenapa kalian malah mendadak jadi patung. Apakah kalian tidak rela kalau Erlan pergi ke luar negeri?" Tanya Aditia ketika melihat Disya dan juga Amanda yang hanya terdiam di saat Erlan mengatakan jika dirinya akan kuliah di luar negeri.
"Gak kok, gue rela-rela aja, lagian itukan udah menjadi keputusan kak Erlan juga, jadi gue hanya bisa mendukung kak Erlan. Dan semoga saja kak Erlan tidak melupakan kita." Sahut Amanda sambil memperlihatkan senyumannya kepada Adit dan juga Erlan.
"Gue tidak mungkin melupakan kalian semua, kalian itu sahabat gue dari kecil sampai sekarang. Mungkin kalian yang bakalan lupain gue, terutama kamu, Sya." Ucap Erlan sembari menggulung lengan kemejanya hingga siku.
"Hah! Kok aku sih? Kenapa kak Erlan bisa berpikiran seperti itu?" Tanya Disya bingung kenapa Erlan bisa berbicara seperti itu.
"Ya karena kamu memang ingin aku pergi dari kehidupanmu kan. Jadi, jika aku pergi keluar negeri, kamu pasti bakalan senang dan dengan cepat kamu pasti akan melupakan aku." Ucap Erlan dengan sorot matanya yang dalam menatap Disya yang saat ini sedang menatap dirinya.
"Kenapa kak Erlan punya pikiran negatif seperti itu? Apakah aku seburuk itu di mata kak Erlan?" Tanya Disya dengan tangan yang terkepal kuat di bawah meja sana. Disya tidak menyangka jika Erlan akan memiliki pikiran negatif tentang dirinya, padahal Disya sendiri terasa berat jika harus melepas kepergian Erlan, sahabat yang selalu bersama dirinya sedari mereka kecil.
__ADS_1
Bersambung.