Oh, Kaisar Ku

Oh, Kaisar Ku
surat perintah


__ADS_3

Sesampai di ruangannya Kaisar Yun memberikan surat perintah, besok Xio Lin akan memasuki istana dan menjadi Selirnya..


Kasim Su menunduk hormat dan berlalu pergi.


Disisi lain,,


Di halam belakang, yang di tumbuhi rumput hijau dan berjejaran bunga sakura. Terlihat seorang gadis merengek, meminta di ajarin berlatih memanah oleh Jendral Chun. Bahkan Jendral Chun sampai kwalahan menasehati Xio Lin agar belajar tata krama saja bukan belajar seperti yang di lakukan laki-laki..


"Kakak, ayolah Lin'er hanya ingin melindungi diri.." ucap Xio Lin dengan nada memelas.


"Lin'er, Kakak bisa menjaga mu. Jadi jangan berlatih memanah. Itu bisa membuat mu terluka. Kakak tidak mau Lin'er terluka.." balas Jendral Chun.


Xio Lin mengkerucut kan bibirnya.


"Baiklah, Lin'er tidak akan berbicara dengan Kakak lagi.." ucapnya dan memalingkan wajahnya...


"Baiklah,, baiklah Kakak akan mengajarimu.." ucap Jendral Chun menghela nafas berat..


Seketika Xio Lin matanya berbinar-binar seperti menemukan harta karun..


Jendral Chun memeluk Xio Lin dari belakang, tangan satunya menggenggam tangan Xio Lin yang menarik anak panah, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Xio Lin yang memegang busur tanah.


Deg, deg deg..


Jantung Jendral Chun berirama sangat kencang, Xio Lin yang mendengarkan detak jantung Jendral Chun menambah kegugupan nya.


"Fokus.." ucap Jendral Chun..


Tap...


Anak panah meluncur tepat di warna merah.


Xio Lin tersenyum dia mendongakkan kepalanya menatap Jendral Chun, tatapan mereka pun bertemu. Hingga nafas Jendral Chun menyapa wajah Xio Lin.


"Hormat hamba, Jendral.." ucap seorang pelayan yang menghamburkan tatapan mereka..


Mereka pun melepaskan pelukan mereka dan kembali normal. Sepasang Kakak Adik itu pung bersemu merah.

__ADS_1


"Ada apa ?" tanya Jendral Chun menghilangkan kecanggungannya..


"Jendral dan nona di minta menemui Tuan di ruang tamu.." tuturnya sang pelayan..


Jendral Chun menatap Xio Lin dan tersenyum, merekapun sambil bergandengan tangan menuju ruang tamu..


Sampai di ruang tamu, Jendral Chun terkejut melihat Kasim, Kaisar Yun. Dia menatap Ayahnya yang kelihatan gugup dan khawatir..


Tuan Xio, Jendral Chun dan Xio Lin duduk di lantai sebagai tanda penghormatan mendengarkan titah dari Yang Mulia Kaisar Yun.


"Selamat kepada Menteri Sarjana Xio, Putri Xio Lin akan memasuki istana dan menjadi Selir Yang Mulia." ucap sang Kasim.


jedar...


Tubuh Xio Lin seperti disambar petir di siang bolong. Seketika dia diam membeku mencerna perkataan Kasim di depannya itu..


Xio Lin mengingat pertemuannya dengan orang yang ber jas hitam, dimana takdirnya adalah disini..


"Aku tidak mau.." ucap Xio Lin gelagapan.


Sang Kasim menatap tajam Xio Lin.


"Tetap saja aku tidak mau, aku tidak mau menikah dengan orang es itu.." ucap Xio Lin..


"Lancang !! kau menyebut Yang Mulia dengan orang es.." bentak sang Kasim..


"Jaga bicara mu Kasim, jangan membentak Lin'er ku.." teriak Jendral Chun, dia mencengkram kerah hanfu sang Kasim..


Sang Kasim pun bergidik ngeri. Melihat tatapan membunuh dari Jendral Chun..


Jendral Chun seketika menghempaskan sang Kasim.


"Keluarlah ! kami menerima titah mu.." bentak Jendral Chun..


Sang Kasim itupun berlalu pergi..


Tuan Xio langsung lemas, dia tidak menyangka Ibu Suri melanggar janjinya. Agar Xio Lin tidak memasuki istana..

__ADS_1


Sementara Xio Lin menggertakkan giginya, dadanya naik turun menahan amarah.


Jendral Chun langsung memeluk Xio Lin untuk menenangkan amarahnya..


"Ayah bagaimana ini ?" tanya Jendral Chun menatap Ayahnya yang masih di lantai..


Jendral Chun melepaskan pelukannya dan membantu sang Ayah yang lemas duduk di kursi.


"Kita akan menemui Ibu Suri.." ucap Tuan Xio,


"Aku ikut Ayah.." ucap Xio Lin..


Merekapun bersama-sama menuju istana.


Sampai di istana Xio Lin, Jendral Chun dan Tuan Xio langsung menuju kediaman Ibu Suri.


"Yang Mulia.." ucap Tuan Xio, dia menghilangkan salamnya karna mengkhawatirkan putrinya. Yang ada dalam pikirannya hanya ada Xio Lin..


"Aku sudah mengira kau akan datang.." ucap Ibu Suri yang memandang keluar jendela.


"Kenapa Yang Mulia melanggar janji Yang Mulia.." timpal Jendral Chun..


Sementara Xio Lin hanya mendengarkannya.


"Aku bisa apa ? aku tidak bisa melawan Yang Mulia.."


Ibu Suri menghampiri Xio Lin yang sedang menatapnya.


"Maafkan Bibi Lin'er, Bibi tidak bisa berbuat apa-apa. Jika pun kau menolak pernikahan ini. Semua keluarga mu akan di hukum oleh Yang Mulia. Karna melanggar Yang Mulia sama saja memberontak.." ucap Ibu Suri menatap Xio Lin dengan sendu..


Deg,,


Dalam sekejap Xio Lin berfikir, benar yang dikatakan Ibu Suri. Diapun mengingat drakor. Jika menentang Penguasa adalah hukuman.


Xio Lin menoleh ke arah Tuan Xio dan Jendral Chun. Di dalam kehidupannya dia hanya merasakan kasih sayang Ibu panti dan sekarang di zaman antah berantah ini. Dia mendapatkan kasih sayang layaknya seorang keluarga.


Xio Lin menunduk dengan wajah lesu..

__ADS_1


"Bisakah aku bertemu dengan Yang Mulia.." ucap Xio Lin.


__ADS_2