
Setelah sampai di kediamannya, Xio Lin membantu pelayan tadi duduk di kursi.
"Ambilkan obat." perintahnya.
Salah satu pelayan mengambil sebotol obat di sebuah kotak, tempat obat-obatan jika dalam keadaan darurat.
Semenjak Xio Lin hamil pertama kalinya, Kaisar Yun sangat sensitif hingga ia menyuruh Tabib istana meracik obat kandungan dan obat luka ke kediaman Xio Lin.
Setelah pelayan itu menemukan obat yang di perintahkan Xio Lin. Ia memberikannya pada Xio Lin dan Xio Lin pun mengambilnya.
"Yang Mulia, biar hamba saja yang mengobatinya." timpal pelayan itu yang membawa obat tadi.
"Tidak perlu.."
"Benar Yang Mulia, hamba tidak pantas diperlakukan seperti ini. Hamba hanyalah seorang pelayan." ucap pelayan itu beranjak berdiri dan menunduk hormat do hadapan Xio Lin.
"Tidak ada masalah tentang pekerjaan mu, kau manusia dan bernafas. Setiap manusia memiliki martabat yang sama. Hanya saja yang membedakannya adalah pekerjaan."
"Duduklah, aku akan mengolesi lukanya."
"Tapi Yang Mulia.."
"Apa kau berani menolak perintah seorang Permaisuri ?" tanya Xio Lin datar.
"Tidak Yang Mulia, hamba tidak berani."
"Baguslah, cepat duduk.."
Dan pelayan itu pun duduk di kursi sebelumnya dengan membelakangi Xio Lin dan membuka hanfunya..
__ADS_1
Xio Lin menuangkan cairan obat itu dan mengolesi lukanya. Hatinya merasa iba melihat banyaknya luka cambukan yang berdarah.
"Selir Mei sungguh keterlaluan, hanya sebuah guci saja dia tidak memiliki hati."
Perlahan-lahan Xio Lin mengolesi obat itu dengan hati-hati. Bahkan Xio Lin sembari meniupi luka itu agar tidak terlalu perih.
Sedangkan dari kejauhan, Kaisar Yun yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia merasa rindu pada Permaisuri dan melihat pemandangan yang langka bagi hidupnya. Baru kali ini dia melihat seorang Permaisuri atau lebih tepatnya seorang junjungan turun tangan sendiri mengobati seorang pelayan.
Aku tidak salah memilih seorang Permaisuri, bahkan Selir Mei sangat memandang rendah seorang pelayan tidak seperti mu Lin'er. Aku sangat menyayangi mu..
"Baiklah, sudah selesai. Beristirahatlah." ucap Xio Lin lembut
Kaisar Yun mendekat, dan para pelayan yang baru sadar akan kedatangan Kaisar Yun tanpa teriakan sang Kasim membuat mereka ketakutan. Mereka takut jika Kaisar Yun akan marah melihat pemandangan yang tak seharusnya di lihat.
"Ampun Yang Mulia, ini adalah kesalahan kami." ucap salah satu pelayan dan pelayan lainnya ikut bersujud di samping Kaisar Yun.
"Hamba pantas di hukum Yang Mulia.."
"Yang Mulia, itu bukan kesalahan mereka. Hambalah yang melakukannya sendiri." timpal Xio Lin, ia takut jika Kaisar Yun akan memberikan hukuman pada pelayan-pelayan nya.
"Keluarlah,," ucap Kaisar Yun datar.
Para pelayan pun menunduk dan berlalu pergi.
Tanpa berfikir panjang Kaisar Yun memeluk tubuh mungil itu begitu erat.
"Lin'er, terimakasih telah menjadi permaisuri ku."
"Dan terimakasih telah mencintaiku."
__ADS_1
Kaisar Yun melepaskan pelukannya. "Malam ini aku ingin kau tidur di kediaman ku." ucap Kaisar Yun menyentil hidung Xio Lin.
"Ya, Yun'er.." Xio Lin tersenyum.
"Yang Mulia, apa kau tidak ingin bertanya kenapa pelayan itu luka?"
Kaisar Yun mengkerutkan dahinya, baginya seorang pelayan luka tidak penting untuk di bahas.
"Hem, aku sudah tau. Pasti Yang Mulia tidak mau tau karna hanya seorang pelayan. Apa Yang Mulia tau jika pelayan itu di cambuk oleh Selir Yang Mulia hanya memecahkan sebuah gusi?"
"Apa ?" Kaisar Yun terkejut dan menatap seluruh tubuh Xio Lin.
"Apa Selir Mei melakukan sesuatu yang tidak pantas pada mu?" tanya Kaisar Yun yang nampak khawatir.
"Tidak ada Yang Mulia. Hanya saja hamba tidak suka akan sikap Selir Mei."
"Syukur lah jika tidak apa-apa. Jika dia melakukan hal buruk katakan pada ku."
Xio Lin pun memeluk Kaisar Yun dan menenggelamkan kepalanya di dada Kaisar Yun.
"Yang Mulia, jika Yang Mulia memilih antara hamba dan Selir Mei, mana yang akan di pilih oleh Yang Mulia ?"
Pertanyaan Xio Lin membuat Kaisar Yun berfikir sejenak. Baginya Xio Lin adalah wanita yang sangat ia cintai, sementara Selir Mei adalah wanita yang pernah ia jaga dan pernah singgah di hatinya walaupun hanya sekejap. Semenjak kedatangan Xio Lin hatinya pun berubah.
"Aku tidak tau Lin'er, yang jelas aku sangat mencintai mu. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mu."
"Hamba mengerti, selama ini Selir Mei lah yang menemani Yang Mulia. Tapi jangan khawatir, hamba percaya pada Yang Mulia." ucap Xio Lin.
Merekapun berbincang-bincang di temani sanda gurauan hingga malam tiba.
__ADS_1