
"Aaahhh, aku akan membunuh mu ******.." teriak Selir Mei..
"Chi, aku ingin racun yang sama persis, racun yang menimpa diriku. Biarkan ****** itu menderita seperti apa yang aku rasakan." ucap Selir Mei dan mengepalkan tangannya.
"Baik, Yang Mulia. Hamba akan pergi ke kota.."
"Ambilah, sekantong koin.."
Chichi mengangguk, kemudian dia menuju ke lemari dan membuka kotak setelah itu dia mengambil sekantong koin emas..
Disisi lain,,
Langit telah gelap dan nampak bintang-bintang berkerlap kerlip. Memperlihatkan ke indahannya.
Xio Lin dan Kaisar Yun sedang memanggang ikan. Untuk makan malam bersama. Kaisar Yun sudah menyiapkan semua bahan masakan. Karna dia tidak mau Xio Lin kelaparan.
Kaisar Yun mengambil ikan bakar itu, kemudian memberikannya pada Xio Lin.
"Makanlah, kau harus memakan yang banyak.." ucap Kaisar Yun tersenyum.
Xio Lin mengambil ikan itu dan memakannya..
"Emmm, ini enak sekali Yang Mulia. Cobalah," ucap Xio Lin..
Kaisar Yun memakan ikan Xio Lin..
"Ya, ini enak sekali.." ucapnya tersenyum..
Setelah selesai makan, Xio Lin merasa lelah dan masuk kedalam tendanya..
Sementara Kaisar Yun ikut merebahkan tubuhnya di samping Xio Lin..
"Lin'er, bisakah kau memberikan ku kesempatan ? aku ingin seperti suami mu, bukan Kakak mu.." ucap Kaisar Yun memandang wajah Xio Lin..
__ADS_1
Sejenak Xio Lin diam memikirkan perkataan Kaisar Yun.
"Yang Mulia aku tidak ingin berbagi, maaf aku orang egois. Jadi tidak pantas bersama Yang Mulia.." jawab Xio Lin menatap Kaisar Yun.
"Lin'er, aku bisa berbuat adil.."
Xio Lin tersenyum. "Maaf hatiku tidak bisa, hamba akan menganggap Yang Mulia sebagai Kakak hamba.."
Xio Lin pun membelakangi Kaisar Yun, tanpa berkata apa pun lagi..
Kaisar Yun yang melihatnya. Dia hanya bisa menghela nafas..
Ke esokan paginya..
Xio Lin bangun lebih pagi, karna dia memang berniat akan melihat matahari terbit. Xio Lin menoleh, kemudian duduk dan membenarkan selimut Kaisar Yun.
Xio Lin keluar dari tendanya dengan hati-hati, agar tidak membangunkan Kaisar Yun.
Dia pun menatap matahari yang mulai naik.
"Hamba, lupa Yang Mulia. Lihatlah.." ucap Xio Lin menunjuk ke matahari yang mulai ke atas.
"Ya, sangat indah.." ucapnya..
Setelah cukup melihat Xio Lin dan Kaisar Yun saling menatap dan tersenyum. Kaisar Yun menggenggam tangan Xio Lin menuju ke tenda mereka..
Merekapun bersiap-siap menuju ke istana..
Selama di perjalanan, Canda tawa menghiasi di dalam kereta.. Sesekali Kaisar Yun menggelitiki Xio Lin.
"Kita berhenti di pasar, aku ingin membawakan hadiah untuk Selir Mei.." perintah Kaisar Yun.
Deg..
__ADS_1
Seketika hati Xio Lin merasakan sakit..
Kenapa hatiku merasakan sakit, ini bukan aku.
Sejenak Xio Lin melamun, merasakan hatinya sedikit nyilu..
"Lin'er, ada apa ?" tanya Kaisar Yun menatap khawatir.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Yang Mulia seperti sudah sampai di pasar."
Xio Lin langsung turun dari keretanya. Di ikuti pelayan Lu dan dua pengawal..
Sementara Kaisar Yun hanya merasa keheranan.
Selama di perjalanan, Xio Lin hanya melamun hingga lamunan nya di bubarkan oleh pelayan Lu.
"Yang Mulia, lihatlah.." ucap pelayan Lu menunjuk ke arah aksesoris rambut.
Xio Lin mengangguk kemudian dia melihat lihat..
"Aku pilih yang ini saja dan ini untuk mu." ucap Xio Lin memberikan jepit rambut berwarna biru pada pelayan Lu. Sementara jepit Xio Lin berwarna biru.
"Aku tidak ingin beli apa-apa lagi. Ayo kita kembali ke kereta.." ucap Xio Lin..
Sampai di kereta, Xio Lin masih belum melihat Kaisar Yun kembali. Xio Lin tidak memperdulikannya dia pun duduk manis menunggu Kaisar Yun.
Kaisar Yun datang dan masuk ke dalam kereta.
"Kau sudah selesai, kau membeli apa saja ?" tanya Kaisar Yun menatap Xio Lin.
"Hamba hanya membeli jepit rambut Yang Mulia. Emm, hadiah untuk Selir Mei sudah selesai Yang Mulia.."
"Sudah.." ucap Kaisar Yun tersenyum.
__ADS_1
Tanpa di sadari, Kaisar Yun juga membelikan hadiah untuk Xio Lin. Kaisar Yun berencana akan memberikannya setelah sampai di istana.