
Selir Mei menutup mulutnya yang tak percaya. Bahkan selama ini, selama Kaisar Yun berhubungan dengan nya. Kaisar Yun tak pernah mengeluarkan desahan seperti itu. Bahkan desahan terasa nikmat di dalam suara Kaisar Yun..
Selir Mei langsung pergi menuju ke kediamannya, istana barat.
Sementara para pelayan berwajah memerah. Merekapaun menutup kembali pintu kediaman Xio Lin dengan hati-hati, agar tidak mengganggu acara junjungannya..
Setelah mencapai puncaknya, Xio Lin membaringkan tubuhnya di samping Kaisar Yun.
"Yang Mulia, tadi hamba mendengarkan sesuatu, apa Yang Mulia tidak mendengarkannya ?" tanya Xio Lin di tengah-tengah nafas lelahnya..
Seketika Kaisar Yun mengingat, tadi dia mendengarkan suara Selirnya. Pendengarannya tak mungkin salah, pasti itu suara Selirnya..
"Biarkan saja Lin'er dan satu lagi jika bersama ku jangan formal."
Cup
Kaisar Yun mendaratkan ciumannya di kening Xio Lin.
"Lin'er, aku ingin secepatnya memiliki putra dan putri yang menggemaskan dari mu. Maka kita lakukan lagi." ucap Kaisar Yun yang mulai bergairah lagi. Entah kenapa melihat bibir Xio Lin dia merasakan gairahnya lagi dan lagi. Padahal selama dengan Selirnya Kaisar Yun tidak merasakan gairah lagi dan lagi. Bahkan bisa di katakan dalam urusan ranjang dengan Selirnya hanya satu kali sentuhan.
__ADS_1
Kaisar Yun tidak ingin berjauhan dengan Xio Lin, tubuhnya membuat candu bagi Kaisar Yun.
Desahan demi desahan mereka habiskan kembali. Seakan malam yang dingin menghiasi kehangatan mereka..
Setelah selesai bercengkrama, Xio Lin mulai memejamkan matanya. Namun tidak dengan Kaisar Yun ia masih berjaga menatap wajah cantik dan menggemaskan istrinya.
"Lin'er aku akan secepatnya mengangkat mu menjadi Permaisuri ku.." ucap Kaisar Yun kembali mendaratkan ciuman nya di bibir Kaisar Yun.
Ke esokan paginya...
Kaisar Yun dengan Xio Lin yang masih satu kasur yang sama. Menghangatkan tubuh mereka, yang masih setianya berpelukan dengan erat.
agrhh..
"Sialan aku akan membunuh mu ******." teriak Selir Mei mengacak-ngacak rambutnya yang frustasi. "Kenapa ? kenapa bisa gagal rencana semalam. Kenapa harus Yang Mulia yang terluka. Dasar pak tua bodoh. Aku mengorbankan milikku demi rencana ini.." ucap Selir Mei menatap tajam ke depan..
Selir Mei memejamkan matanya, dia memikirkan rencana bagaiman caranya bisa keluar dari istana barat. Tanpa harus berlama-lama disana..
Beberapa detik kemudian, ia menemukan caranya dan tersenyum.
__ADS_1
"Chi aku memiliki rencana.." ucap Selir Mei tersenyum kemenangan.
"Apa Selir ?" tanya Chi lembut.
"Kita harus membakar kediaman ini, dan kau pura-pura meminta bantuan. Sisanya meyakinkan Yang Mulia biar aku yang urus." jelas Selir Mei yang mampu membuat pelayan Chi membulatkan matanya..
"Tidak mungkin Selir, itu bisa membahayakan Selir.." ucap pelayan Chi.
"Jangan membantah, ini adalah harapan terakhir kita. Aku sangat yakin Yang Mulia masih memiliki perasaan untuk ku.." ucap Selir Mei dengan tegas.
"Tapi Selir..."
"Sudah ! aku tidak perlu penolakan mu.." sanggah Selir Mei menatap tajam pelayan Chi.
"Kapan rencana itu akan dilaksanakan Selir.."
"Secepatnya, jika perlu malam ini kita lakukan.." ucap Selir Mei..
"Baik, Selir. Hamba akan melaksanakan nya.." ucap pelayan Chi yang mengikuti Selir Mei yang tersenyum licik.
__ADS_1
Selir Mei yang sudah memiliki rencana berlian, diapun menuju ke meja, memakan sarapan paginya yang mulai tadi telah disiapkan oleh pelayan Chi.