
"Lin'er kau kemana saja ?"
Sapa Jendral Chun menatap khawatir.
"Maaf Kakak, tadi Lin'er hanya jalan-jalan saja.."
Jendral Chun langsung memeluk erat Xio Lin. "Kau ini,, membuatku khawatir saja."
"Hehe maaf,," ucap Xio Lin sambil cengengesan.. "O iya, Kakak hewan apa saja Kakak buru ?" tanya Xio Lin melepaskan pelukan Jendral Chun..
"Lihatlah,," ucap Jendral Chun meminggirkan badannya..
"Waw.." Xio Lin menatap berbinar melihat satu ekor rusa dan dua ekor kelinci.
"Baiklah ayo kita pulang.." ucap Jendral Chun.
"Kakak, aku ingin naik kuda dengan mu.." ucap Xio Lin..
Jendral Chun tersenyum dan mencubit pipi Xio Lin yang begitu menggemaskan baginya..
"Baiklah..."
Salah satu pengawal membawakan kuda ke arah Jendral Chun dan Xio Lin, kemudian Jendral Chun membantu Xio Lin menaiki kuda setelah itu gilirannya menunggangi kuda tepat berada di belakang Xio Lin..
"Kakak, aku ingin jalan-jalan sebentar.."
"Baiklah, Kakak akan membawa mu ke pasar, Lin'er bisa membeli apa pun yang Lin'er suka.." ucapnya tersenyum..
"Kalian, pulanglah lebih dulu. Aku akan membawa nona berjalan-jalan sebentar.."
__ADS_1
Para pengawal dan pelayan Lu pun mengangguk kemudian mereka berpisah di hutan,,
Setelah sampai di pasar, Xio Lin celingak calinguk kanan kiri, melihat para pedagang yang menawarkan dagangan nya. Jendral Chun turun dari kudanya, kemudian di susul oleh Xio Lin..
"Ini ambilah.." Jendral Chun memberikan sekantong koin ke penjaga kuda,,
"Terimakasih tuan, terimakasih tuan.."
Jendral Chun mengangguk, dia tersenyum melihat Xio Lin dari wajahnya yang tidak sabar melihat-lihat..
"Ayooo." Jendral Chun menggenggam erat tangan Xio Lin. Merekapun berjalan berdampingan.
Xio Lin melepaskan genggaman tangannya, lalu mencicipi kue bulan di depannya..
"Enak..."
Xio Lin mengambil satu kue bulan, kemudian menyuapi Jendral Chun.
Jendral Chun membuka mulutnya dan menguyah camilan itu.. Ada perasaan hangat yang tidak bisa di ukir dengan kata-kata, jantungnya pun berdetak dengan hebat, seakan darahnya berhenti seketika..
Setelah memakan kue bulan Xio Lin meninggalkan Jenderal Chun yang masih tersenyum, kemudian dia mengeluarkan 2 koin emas..
"Terimakasih tuan.." ucap pedagang itu tersenyum..
Setelah mencicipi semua kue, Xio Lin berhenti di salah satu aksesoris..
Tatapannya tertuju sebuah jepit rambut yang berukuran bunga sakura..
Jendral Chun yang melihat Xio Lin menatap sebuah jepit rambut, dia mengambil jepit itu dan menaruhnya di rambut Xio Lin..
__ADS_1
"Cantik.." ucap Jendral Chun sambil menyentil hidung Xio Lin..
Dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikan mereka, yang tak lain Kaisar Yun. Setelah selesai berburu, Kaisar Yun berniat ingin membelikan sesuatu untuk Selirnya. Tapi siapa sangka dia bertemu dengan gadis itu...
Deg,, deg...
Jantung Kaisar Yun berdetak hebat, setelah melihat wajah Xio Lin walaupun terbilang jarak jauh..
Kenapa dia bersama Jendral Chun batinya..
"Yang Mulia., maaf tuan.." ucap salah satu pengawal yang gelagapan. Dari awal setiap Kaisar Yun keluar istana, tidak boleh ada yang memanggilnya dengan sebutan Yang Mulia karna akan membongkar rahasianya..
Kaisar Yun langsung menaiki kudanya, kuda itu pun melangkah kan kakinya menuju ke arah Xio Lin dan Jendral Chun yang saling tertawa. Setelah sampai di samping mereka. Kaisar Yun melirik Xio Lin yang tertawa lepas dengan Jendral Chun..
Ada perasaan tidak senang di hatinya, ketika melihat Xio Lin tertawa dengan Jendral Chun..
Setelah sampai di istana, Selir Mei menyambut Kaisar Yun dengan senyuman dan memeluknya begitu erat.
"Yang Mulia, hamba sangat merindukan Yang Mulia.." ucapnya dan melepaskan pelukannya..
Kaisar Yun hanya tersenyum, kemudian mereka melangkah menuju kediaman Kaisar Yun.
Saat sampai di kediaman Naga, Selir Mei ingin mencium Kaisar Yun. Namun Kaisar Yun langsung memalingkan wajahnya ketika melihat bayangan gadis yang pernah di temuinya..
"Yang Mulia, ada apa?" tanya Selir Mei keheranan.
"Tidak apa-apa Mie'er, aku hanya lelah.." jawabnya lembut..
"Baiklah, Yang Mulia.. Istirahatlah.." ucap Selir Mei, dia mencium Kaisar Yun dan berlalu pergi.
__ADS_1