
Xio Lin menatap wajah Kaisar Yun yang sangat terlelap dalam tidurnya. Bahkan saat perbincangan Xio Lin, ia tidak terusik sama sekali..
Xio Lin masih saja mengelus pucuk kepala Kaisar Yun, sementara tangan kirinya, menggenggam tangan Kaisar Yun di atas perut Kaisar Yun..
"Yang Mulia, aku tidak bisa jauh darimu.." lirih Xio Lin, tanpa sadar air matanya tumpah dan menetes di pipi Kaisar Yun.
Kaisar Yun yang merasakan ada seorang wanita yang menangis, ia membuka matanya dan melihat mata Xio Lin yang basah..
Kaisar Yun bangun dari tidurnya dan memeluk Xio Lin.
"Lin'er ada apa ? apa aku menyakiti mu ? apa kaki mu sakit ?" tanya Kaisar Yun tanpa melepaskan pelukannya..
Xio Lin hanya menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Kaisar Yun.
"Maafkan hamba Yang Mulia.." lirih Xio Lin..
"Lin'er sebenarnya ada apa ? ap ada yang menyakitimu?" tanya Kaisar Yun dengan khawatir...
"Tidak ada Yang Mulia, hamba hanya terharu saja..." ucap Xio Lin, melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Kaisar Yun..
"Jika ada yang menyakitimu bilang saja.." ucap Kaisar Yun mencium kening Xio Lin..
"Tidak ada Yang Mulia, hamba bahagia.."
"Baiklah, kau istirahat. Aku akan menyelesaikan urusan istana lebih dulu.." ucap Kaisar Yun mencium bibir Xio Lin dan beranjak pergi..
Sampai di ruangan kerjanya..
Kaisar Yun membuka gulungan yang menumpuk di mejanya satu persatu dan membaca hasil laporan itu dengan teliti..
Sesaat kemudian..
"Hormat hamba, Yang Mulia..." ucap Jendral Chun..
"Bagaimana penyelidikannya tentang penyusup itu dan kebakaran di istana barat ?" tanya Kaisar Yun.
"Hamba sudah memeriksanya Yang Mulia dan hamba menemukan bahwa penyusup itu seorang Menteri istana, yaitu Menteri pajak hamba sudah mengintrogasi salah satu penyusup itu Yang Mulia dan untuk kebakaran di istana barat, sepertinya memang ada yang merencanakan pembunuhan untuk Selir Mei.." jelas Jendral Chun..
__ADS_1
"Baiklah, seret Menteri pajak ke aula dan perketat kediaman Permaisuri dan Selir Mei.." ucap Kaisar Yun dengan tegas.
Kaisar Yun keluar dari ruang kerjanya menuju kediaman Selir Mei..
Teriakan sang Kasim membuat Selir Mei dan para pelayan memberikan hormat akan kedatangan Kaisar Yun..
"Yang Mulia,," Selir Mei memeluk Kaisar Yun dengan begitu erat..
"Maafkan hamba Yang Mulia. Hamba menyesal, bisakah Yang Mulia memaafkan hamba ?" lirih Selir Mei..
Kaisar Yun menghela nafas, walaupun dia kecewa. Tapi bagaimana pun juga Selir Mei adalah orang yang pernah singgah di hatinya.
"Aku memaafkan mu, kau sekarang bebas. Aku memberikan kesempatan untuk mu, tapi jika kau berbuat ulah lagi. Aku tidak segan-segan mengeluarkan mu dari istana.." ucap Kaisar Yun..
Seketika Selir Mei mengepalkan tangannya, ia harus pura-pura baik di hadapan Kaisar Yun dan Xio Lin agar rencananya berhasil..
Lihat saja aku akan mengeluarkan mu dari istana ******, posisi itu seharusnya milikku batin Selir Mei..
"Yang Mulia bolehkan hamba meminta maaf untuk Permaisuri.." ucap Selir Mei walaupun ia enggan menyebut Xio Lin dengan sebutan yang seharunya dimilikinya..
"Baiklah.." ucap Kaisar Yun..
Sesampainya disana Xio Lin di buat terkejut saat Selir Mei menggandeng lengan Kaisar Yun.
"Hormat hamba, Yang Mulia.." ucap Xio Lin.
"Hormat hamba, Permaisuri.." ucap Selir Mei menunduk, memberi hormat..
Xio Lin hanya mengangguk sebagai jawabannya..
"Lin'er kau pasti terkejut. Semalam istana barat kebakaran dan untung Selir Mei selamat.." ucap Kaisar Yun dan menatap Selir Mei yang tersenyum.
"Ya, silahkan duduk.." ucap Xio Lin lembut.
Merekapun duduk bersama, Xio Lin duduk berhadapan dengan Kaisar Yun sementara Selir Mei duduk disamping Kaisar Yun yang menggeliat manja di lengan Kaisar Yun. Seakan mengumbarkan kemesran nya, jika dirinya masih ada di hati Kaisar Yun.
Sedangkan Kaisar Yun merasa risih saat Xio Lin menatapnya datar.
__ADS_1
"Mei'er jangan seperti ini.." ucap Kaisar Yun melepaskan tangan Selir Mei dari lengannya.
Xio Lin yang merasa panas, diapun meminum tehnya dalam sekali teguk..
"Permaisuri hamba datang kesini ada maksud tertentu. Mohon maafkan atas kesalahan hamba yang lalu. Mohon Permaisuri bermurah hati.." ucap Selir Mei yang mengeluarkan air mata buayanya..
Xio Lin tersenyum, ia merasa Selir Mei hanya berpura-pura meminta maaf.
"Tidak masalah,," ucap Xio Lin datar..
Awas saja kau ****** batin Selir Mei geram..
Selang beberapa saat..
Seorang wanita paruh baya datang dengan beberapa pelayan dan membawa 3 kotak..
Xio Lin menoleh dia pun langsung memeluk wanita paruh baya itu..
"Lin'er terimakasih atas kejutan mu, kau sedang mengandung cucu ku. Jadi jagalah kesehatan mu.." ucap Ibu Suri melepaskan pelukannya..
"Dan ini hadiah dari ku.." ucap Ibu Suri memberikan kode agar pelayan itu menyerahkan pada pelayan Xio Lin..
"Ibunda, aku tidak butuh hadiah. Justru aku sangat merindukan Ibunda.." ucap Xio Lin.
"Ayo Ibunda duduk.." ucap Xio Lin..
Ibu Suri memandang Selir Mei dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Ibunda, maafkan semua kesalahan ku yang telah lalu.." ucap Selir Mei sambil menangis dan menunduk hormat.
"Aku datang kesini hanya menengok cucuku dan kebetulan ada Yang Mulia. Ada sesuatu yang harus hamba sampaikan. Ibunda menunggu mu di kediaman Ibunda.." ucap Ibu Suri beranjak pergi.
"Baik Ibunda.." jawab Kaisar Yun.
"Ibunda apa tidak ingin berbincang dulu ?" tanya Xio Lin.
"Tidak perlu Permaisuri, Ibunda kehilangan selera.." jawab Ibu Suri melirik Selir Mei dan tersenyum sinis..
__ADS_1
Kurang ajar kau Ibu tua, awas saja kau...