Oh, Kaisar Ku

Oh, Kaisar Ku
lemah lembut


__ADS_3

Saat di luar para pelayan saling menatap.


"Andaikan saja kita menjadi pelayan Permaisuri. Kita tidak akan seperti ini." ucap salah satu pelayan menatap ketiga temannya. Sedangkan pelayan Chi hanya mendengarkannya saja, ia memilih tidak ikut bergabung.


"Benar, aku mendengarkan semua pelayan Permaisuri merasa puas. Permaisuri sangat lembut, bahkan Permaisuri pernah memberikan perhiasannya pada pelayannya." timpal salah satu pelayan lainnya.


"Aku tidak ingin melayaninya, semoga saja kebenarannya akan terungkap."


"Apa kalian sudah selesai bergosip ? kalian tentu tau hukumannya jika membicarakan anggota kerajaan.." timpal pelayan Chi menatap ke empat pelayan itu.


"Chi, apa kau tak merasa lelah melayaninya ? bahkan kau jelas tau, seperti apa Selir Mei menyiksa kita. Kita bagaikan hewan yang di suruh se enaknya saja dan menyiksa nya kapan saja. Dan kau malah membelanya."


Deg..


Seketika pelayan Chi termenung, perkataan temannya, ada benarnya. Bahkan ia dia saja, saat menajadi siksaan kemarahan Selir Mei.


Jujur saja saat ini, hatinya berharap kebenaran akan terungkap. Apalagi ia mengingat begitu kejamnya Selir Mei memfitnah keluarga putri Xi Lie hingga Kaisar Yun menghukum semua keluarganya.


Ketiga pelayan pun menatap ke arah pelayan Chi yang hanya diam. Dan mereka kembali ke kediaman tanpa menunggu pelayan Chi.


Ke esokan paginya..


Xio Lin dan Kaisar Yun makan bersama di iringi makan sepiring berdua. Bahkan Xio Lin menyuapi Kaisar Yun dengan tangannya.


"Lin'er aku ingin seperti ini selamanya."


"Tenang saja Yang Mulia, selamanya kita akan seperti ini." balas Xio Lin tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, aku sudah kenyang. Aku akan berbicara dengan Jenderal Chun membahas nya.." ucap Kaisar Yun meminum segelas air dan tak lupa mencium kening Xio Lin..


Xio Lin pun melanjutkan kembali dan melahap semua hidangan di hadapannya itu. Selama pasca kehamilan, Xio Lin makan begitu lahap dan banyak hingga hidangan pun tak tersisa sedikit pun.


Di ruangan kerja Kaisar Yun..


Seorang laki-laki yang gagah dan pemberani, berjalan dengan tegas menghampiri seorang penguasa yang sibuk dengan gulungan di depannya itu.


"Hormat hamba, Yang Mulia.." ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Jenderal Chun.


"Hem, aku ingin kau menelusuri keluarga Putri Mahkota dan berhati-hatilah jangan sampai ada yang tau." ucap Kaisar Yun dengan tegas.


"Baik Yang Mulia."


"Aku butuh secepatnya."


"Hamba akan melakukan yang terbaik Yang Mulia."


"Baik, Yang Mulia." jawab Jendral Chun menunduk hormat dan berlalu pergi.


Sedangkan disisi lain..


Setelah selesai makan Xio Lin, menikmati camilan paginya. Karna merasa bosan Xio Lin keluar mencari udara segar dan melihat hal yang mengejutkan.


Xio Lin menatap tajam ke arah wanita yang tak jauh dari langkah kakinya. Seakan ia bisa bebas melakukan apapun, sesuka hatinya.


Xio Lin mempercepat langkah kakinya, ketika mendengarkan teriakan seorang pelayan.

__ADS_1


"Hentikan, apa yang kalian lakukan." teriak Xio Lin menatap Selir Mei dan para pelayannya serta satu prajurit yang memegangi cambuk.


"Jangan ikut campur." ucap Selir Mei menatap tajam Xio Lin, rasanya ia ingin mencabik-cabik wanita di depannya itu.


"Apa yang kau lakukan hingga mencambuknya seperti ini ?"


Xio Lin merasa kasian pada pelayan di depannya itu, melihat punggungnya keluar darah akibat cambukan.


"Kesalahan apa yang dia lakukan?"


"Ampun Permaisuri, hamba salah. Hamba memecahkan guci kesayangan Selir."


"Dia adalah pelayan ku, jadi kau tidak perlu ikut campur." timpal Selir Mei.


"Hanya karna sebuah guci kau mencambuknya seperti ini ? dimana hati nurani mu. Dia manusia bukan se ekor hewan. Bahkan hewan pun masih di sayang oleh pemiliknya."


"Pergi, jangan mengganggu." teriak Selir Mei "Dan kau, kenapa berdiri ? cepat selesaikan cambukan nya."


"Berhenti, aku akan menggantinya dengan dua kali lipat. Lu bawa satu kotak koin di kediaman ku."


Xio Lin menatap tajam Selir Mei dan menoleh menatap pelayan di sampingnya yang menangis.


"Kau sudah bebas, ayo ikut aku."


"Mentang-mentang kau seorang Permaisuri. Lalu mengambil pelayan ku se enaknya saja."


"Aku Permaisuri disini, jaga ucapan mu Selir. Jika Yang Mulia tau, kau keluar kediaman mu. Lantas hukuman apa lagi yang akan dia berikan. Lagi pula Yang Mulia tidak mencintai mu." ucap Xio Lin dengan tegas dan membawa pelayan itu ke kediamannya. Terlihat wajah Selir Mei bak tajam seperti elang yang ingin mencabik-cabik Xio Lin ketika mendengarkan perkataannya.

__ADS_1


Sementara para pelayan lainnya saling menatap. Mereka berfikir ingin sekali menjadi pelayan Xio Lin yang memiliki hati lembut, tidak seperti junjungannya.


Bahkan pelayan Chi sedari tadi yang mendengarkannya, ia berfikir akan memberi tau Yang Mulia tentang semua kejahatannya.


__ADS_2