Oh, Kaisar Ku

Oh, Kaisar Ku
tidak bisa bersama


__ADS_3

Perkataan Xio Lin membuat Kaisar Yun, memegang dadanya. Hatinya terasa sakit, diapun mengacak pucuk rambut Xio Lin dan berlalu pergi..


"Dasar, dia seperti Jilangkung saja.." ucap Xio Lin, dia pun menuju kediamannya..


Saat Xio Lin ingin memasuki kediamannya, langkahnya di hentikan oleh suara.


"Lin'er.."


Xio Lin menoleh, diapun menghampiri Jendral Chun dan memeluknya..


"Kenapa Kakak belum tidur ?" tanya Xio Lin dan melepaskan pelukannya.


"Kakak ingin mencari udara segar, kebetulan ada sesuatu yang ingin Kakak sampaikan.."


"Apa Kak ?" tanya Xio Lin.


Jendral Chun tersenyum, kemudian dia menggenggam tangan Xio Lin menuju sebuah gazebo di dekat danau dan memandang bulan di dalam air danau itu.


"Kau lihat, bulannya indah bukan ?" tanya Jendral Chun.


"Benar, kenapa Kak ?" tanya nya..


"Kau tau aku tidak menganggap mu sebagai Adik, tapi melainkan hubungan antara laki-laki dan wanita.. Aku mencintai mu Lin'er.." ucap Jendral Chun, dia memegang kedua tangan Xio Lin dan menatapnya."


"Benarkah ?" tanya Xio Lin, kemudian dia memeluk Jendral Chun. Hatinya menghangat seketika mendengarkan pengakuan Jendral Chun. Baginya dia laki-laki yang baik dan memperlakukan Xio Lin. Di zaman modern Xio Lin tidak pernah tertarik dengan laki-laki, bahkan saat sekolah pun jika laki-laki mendekatinya dia akan memukulnya atau berceloteh. Sehingga banyak kaum laki-laki yang hanya mengagumi kecantikannya itu.


"Kakak ayo kita bilang pada Yang Mulia. Jika kita saling mencintai.." ucapnya dan menarik lengan Jendral Chun. Namun Jendral Chun hanya diam..

__ADS_1


"Tidak, Lin'er. Kita tidak bisa bersama."


Deg ,


Xio Lin melepaskan genggaman tangan Jendral Chun, dia menatap Jendral Chun dengan mata berkaca-kaca..


"Maksud Kakak apa ? bukankah tadi Kakak mencintai ku. Lalu kenapa tidak ingin memperjuangkannya.." ucap Xio Lin. Entah apapun dia tidak tau apa yang dipikirkan laki-laki itu.


"Kita memang seharusnya tidak bersama, jika kau menolak pikirkan tentang dirimu dan keluarga kita. Sama saja kita menyerahkan hukuman mati.." ucap Jendral Chun menatap Xio Lin, dia pun memegang kedua pipi Xio Lin dengan kedua tangannya..


"Maaf, maaf.."


Xio Lin menurunkan kedua tangan Jendral Chun yang memegangi pipinya itu.


"Jika kita tidak bisa bersama, kenapa Kakak mengatakannya ?"


Xio Lin pun berlari menuju kediamannya, dia pun menangis hingga tertidur..


Ke esokan paginya..


Xio Lin di rias memakai hanfu merah bersulaman naga di bantu oleh pelayan Lu dan pelayan lainnya.. Setelah selesai di rias pelayan Lu ingin memakai kan penutup wajah namun terhentikan oleh ucapan Xio Lin.


"Yu aku tidak ingin menikah.." lirih Xio Lin, dia menunduk dengan mata berkaca-kaca..


"Nona, kita tidak bisa berbuat apa-apa, tapi hamba yakin Jendral Chun akan melindungi nona begitupun dengan hamba. Hamba akan mempertaruhkan nyawa hamba untuk nona.." ucapnya lembut..


"Baiklah, ayo kita pergi.."

__ADS_1


Xio Lin mengingat kejadian tadi malam, dia pun meremas hanfunya dan memejamkan matanya. Entah takdir apa yang harus dia hadapi.


Pelayan Lu memakaikan penutup kepala Xio Lin, kemudian Xio Lin di giring menuju kereta kuda. Disana terlihat Jendral Chun dan Menteri Xio yang menatap Xio Lin, sedangkan Jendral Chun merasakan rasa sakit di hatinya.


Seharusnya, aku yang bersama mu. Bukan dia. Maafkan Kakak Lin'er batin Jendral Chun..


Xio Lin menaiki kereta istana, sepanjang perjalanan dia menangis meratapi nasibnya. Yang tidak ingin menikah dengan orang yang tidak di cintainya itu.


Setelah sampai di istana, Xio Lin menuju kediaman mawar di ikuti oleh pelayan Lu. Yang menemaninya.


Xio Lin duduk di ranjangnya, tanpa membuka penutup kepalanya itu..


Selang beberapa saat munculah, para pelayan yang membawa makanan.


Xio Lin yang hanya diam, diapun mendengarkan saat pelayan itu menaruh piring di meja.


krek...


Pintu itupun terbuka, terdengar langkah kaki yang menuju ke arahnya..


Laki-laki itupun membuka penutup kepala Xio Lin dan menatapnya dengan lekat..


"Ada apa dengan mu ? kenapa kau menangis ?" tanya laki-laki itu melihat butiran bening di pipi Xio Lin. laki-laki itupun menghapus air mata itu dengan jari jempolnya..


Dia menghela nafas.


"Jika pun kau tidak mau, aku tidak akan memaksa mu.." ucapnya berlalu pergi..

__ADS_1


__ADS_2