Oh, Kaisar Ku

Oh, Kaisar Ku
kecewa


__ADS_3

Dari arah pintu, terlihat Jenderal Chun menghampiri Kaisar Yun dengan membawa sebuah gulungan.


"Hormat hamba, Yang Mulia." ucap Jenderal Chun.


Kaisar Yun menoleh. "Apa ada informasi lainnya ?" tanya Kaisar Yun datar, membuat Jenderal Chun mengkerutkan dahinya. Ia keheranan atas pertanyaan Kaisar Yun karna ia tidak membawa informasi apa-apa selain saat ini.


"Hamba hanya menemukan ini Yang Mulia." ucap Jenderal Chun mengambil sebuah gulungan di lengan hanfunya dan memberikan pada Kaisar Yun.


Kaisar Yun langsung mengambil gulungan itu dan membacanya, tangannya gemetar membaca surat itu. Dimana ia membaca jika Selirnya sudah 5 kali menemui Menteri pajak bahkan pertemuan itu di lakukan di sebuah tempat atau kediaman Menteri pajak.


"Apa kau mengkhianatiku ?"


Kaisar Yun membuang surat itu ke wajah Selir Mei yang mematung.


"Yang Mulia,,"


"Aku kecewa dengan mu, terimalah hukuman gantung untuk dirimu sendiri atau kau pilih dengan meminum racun." ucap Kaisar Yun berlalu pergi. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba nyeri.


"Yang Mulia."


Xio Lin memegangi lengan Kaisar Yun dan menatapnya khawatir.


"Cepat panggilkan Tabib." perintahnya.


Sampai lah mereka di kediaman Kaisar Yun.


Xio Lin membantu Kaisar Yun duduk di ranjangnya dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Dengan penuh kelembutan Xio Lin memeluk Kaisar Yun dan mengecup kepalanya yang di sandarkan ke dadanya.


"Menangislah." ucap Xio Lin..


Kaisar Yun menangis di dada Xio Lin hingga hanfunya basah karna derasnya air mata Kaisar Yun.


"Aku kecewa Lin'er."


"Ya, hamba tau. Bagaimanapun juga di hati Yang Mulia masih menyayanginya." ucap Xio Lin..


Kaisar Yun menangis tersedu-sedu, hingga membuat Kasim tidak berani mengatakan kedatangan Tabib istana. Yang tidak ingin mengganggu kesedihan Kaisar Yun.


Xio Lin menoleh dan mengangguk, kemudian ia mengangkat tangan Kaisar Yun untuk di periksa oleh Tabib istana.


Tabib istana itupun maju beberapa langkah dan memeriksa denyut nadi Kaisar Yun yang masih menangis di dada Xio Lin, menenggelamkan wajahnya.


"Baiklah, tinggalkan kami."


"Lu, ikuti Tabib istana dan antarkan kesini."


"Baik Yang Mulia.." ucap Lu dan para pelayan lainnya meninggalkan Kaisar Yun dan Xio Lin.


"Yun'er berhentilah menangis, jangan membuat ku khawatir." ucap Xio Lin yang melihat mata Kaisar Yun bengkak.


"Kau membuat ku cemburu, jika seperti ini." sambungnya lagi.


"Maaf Lin'er, aku mohon jangan marah. Aku tidak bermaksud membuat mu cemburu.."

__ADS_1


"Baiklah, berhentilah menangis. Kasian putra Yang Mulia. Pasti ia mendengarkan tangisan Ayahnya.." goda Xio Lin membuat Kaisar Yun terkekeh.


"Hormat hamba, Yang Mulia."


Xio Lin menoleh dan membuat pelayan Lu maju ke hadapannya dengan membawa semangkuk cairan obat.


"Minumlah."


Xio Lin memberikan obat itu, lalu Kaisar Yun meminumnya. Obat itu pun habis dalam di minum nya.


Xio Lin pun membaringkan tubuh Kaisar Yun dan tidur di sampingnya.


"Lin'er, hukuman apa yang pantas untuknya ?" tanya Xio Lin.


"Hukuman itu Yang Mulia yang putuskan bukan hamba. Biarkan hati Yang Mulia yang melakukannya."


"Hem, dia berselingkuh dan ikut Menteri pajak korupsi. Aku ingin menghukum mereka berdua dengan hukuman.."


"Berikan hukuman meminum racun." timpal Xio Lin.


"Hem baiklah, besok aku akan memutuskan pembatalan pernikahan ku dengan putri Lan Yu."


"Baiklah sekarang Yang Mulia istirahat. Apa dada Yang Mulia masih sakit ?" tanya Xio Lin khawatir."


"Tidak, kan obatnya adalah Lin'er ku." gombal Kaisar Yun..


Xio Lin mengecup kening Kaisar Yun dan membenamkan kepalanya di dada bidang Kaisar Yun. Dan pada akhirnya merekapun terlelap bersama-sama di iringi pelukan hangat.

__ADS_1


__ADS_2